Cari disini...
Seputar Kaltim
Kendaraan pengangkut sampah DLH Kota Samarinda. (Foto: Dokumentasi DLH Samarinda/Seputarfakta.com)
Samarinda – Penumpukan sampah tak melulu soal jumlah volume harian yang meningkat, tapi juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti pengangkutan yang tak sesuai jadwal karena kendaraan pengangkut itu mengalami masalah.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, juga turut menyoroti fenomena tersebut. Ia mengatakan bahwa Pemerintahn Kota (Pemkot) Samarinda memiliki sekitar 80 unit armada pengangkut sampah. Ia pun berencana akan segera melakukan inspeksi terhadap kondisi kendaraan tersebut.
“Kami akan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui berapa yang masih berfungsi normal dan berapa yang mengalami kerusakan,” ujar Andi Harun belum lama ini.
Selain persoalan kendaraan pengangkut, ia juga menyoroti keberadaan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) liar yang masih banyak ditemukan.
Salah satu titik yang menjadi perhatian adalah kawasan Bukit Pinang. Ia menilai masih banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan meski TPS resmi telah tersedia. Belum lagi dengan sampah yang tercecer di pinggir jalan.
“Ini soal kesadaran bersama. Saya berulang kali menegaskan agar masyarakat memastikan apakah lokasi itu TPS resmi atau bukan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) tentu kewalahan jika harus mengangkut sampah dari TPS resmi dan juga TPS liar,” tegasnya.
Untuk mengatasi masalah ini, Pemkot Samarinda akan melakukan inventarisasi unit pengangkutan yang bermasalah. Jika memungkinkan, kendaraan yang rusak akan diperbaiki. Namun, jika ada unit yang sudah tidak bisa beroperasi total pemerintah akan mempertimbangkan pengadaan armada baru.
Lebih lanjut, orang nomor satu di Samarinda itu menekankan bahwa penanganan sampah tidak hanya bergantung pada pengangkutan, tetapi juga perilaku masyarakat dalam membuang sampah.
Apalagi di tiap kecamatan telah diberikan juga kendaraan pengangkut sampah lewat Probebaya. Sehingga ia meminta kerja sama dari seluruh masyarakat agar dapat memanfaatkan fasilitas yang telah diberikan demi kebersihan kota.
Ke depan, Pemkot berencana melakukan uji coba pemasangan insinerator di 10 kecamatan, termasuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan kapasitas pembakaran yang lebih besar.
Selain itu, Pemkot juga berencana mengadopsi teknologi modern dala99m kebersihan kota, seperti penggunaan blower untuk menyapu jalan.
Namun, Andi Harun menegaskan bahwa teknologi ini hanya solusi tambahan, sedangkan fokus utama tetap pada pengurangan volume sampah yang masuk ke TPA.
“Sistem nasional kita menekankan pengurangan timbunan sampah. Sampah organik bisa diolah menjadi kompos atau dibakar, sementara sampah plastik dapat didaur ulang. Ini yang sedang kita susun, meski tidak mudah, tapi kita harus menuju ke sana,” pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kendaraan pengangkut sampah DLH Kota Samarinda. (Foto: Dokumentasi DLH Samarinda/Seputarfakta.com)
Samarinda – Penumpukan sampah tak melulu soal jumlah volume harian yang meningkat, tapi juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti pengangkutan yang tak sesuai jadwal karena kendaraan pengangkut itu mengalami masalah.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, juga turut menyoroti fenomena tersebut. Ia mengatakan bahwa Pemerintahn Kota (Pemkot) Samarinda memiliki sekitar 80 unit armada pengangkut sampah. Ia pun berencana akan segera melakukan inspeksi terhadap kondisi kendaraan tersebut.
“Kami akan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui berapa yang masih berfungsi normal dan berapa yang mengalami kerusakan,” ujar Andi Harun belum lama ini.
Selain persoalan kendaraan pengangkut, ia juga menyoroti keberadaan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) liar yang masih banyak ditemukan.
Salah satu titik yang menjadi perhatian adalah kawasan Bukit Pinang. Ia menilai masih banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan meski TPS resmi telah tersedia. Belum lagi dengan sampah yang tercecer di pinggir jalan.
“Ini soal kesadaran bersama. Saya berulang kali menegaskan agar masyarakat memastikan apakah lokasi itu TPS resmi atau bukan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) tentu kewalahan jika harus mengangkut sampah dari TPS resmi dan juga TPS liar,” tegasnya.
Untuk mengatasi masalah ini, Pemkot Samarinda akan melakukan inventarisasi unit pengangkutan yang bermasalah. Jika memungkinkan, kendaraan yang rusak akan diperbaiki. Namun, jika ada unit yang sudah tidak bisa beroperasi total pemerintah akan mempertimbangkan pengadaan armada baru.
Lebih lanjut, orang nomor satu di Samarinda itu menekankan bahwa penanganan sampah tidak hanya bergantung pada pengangkutan, tetapi juga perilaku masyarakat dalam membuang sampah.
Apalagi di tiap kecamatan telah diberikan juga kendaraan pengangkut sampah lewat Probebaya. Sehingga ia meminta kerja sama dari seluruh masyarakat agar dapat memanfaatkan fasilitas yang telah diberikan demi kebersihan kota.
Ke depan, Pemkot berencana melakukan uji coba pemasangan insinerator di 10 kecamatan, termasuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan kapasitas pembakaran yang lebih besar.
Selain itu, Pemkot juga berencana mengadopsi teknologi modern dala99m kebersihan kota, seperti penggunaan blower untuk menyapu jalan.
Namun, Andi Harun menegaskan bahwa teknologi ini hanya solusi tambahan, sedangkan fokus utama tetap pada pengurangan volume sampah yang masuk ke TPA.
“Sistem nasional kita menekankan pengurangan timbunan sampah. Sampah organik bisa diolah menjadi kompos atau dibakar, sementara sampah plastik dapat didaur ulang. Ini yang sedang kita susun, meski tidak mudah, tapi kita harus menuju ke sana,” pungkasnya.
(Sf/Rs)