Cari disini...
Seputar Kaltim
Bandar Udara APT Pranoto Samarinda. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Kesiapan Bandara APT Pranoto Samarinda untuk naik kelas menjadi bandara internasional ditargetkan rampung pada April 2026.
Dengan seluruh perizinan yang telah dikantongi, langkah ini bukan sekadar mempermudah warga lokal pelesiran ke luar negeri, melainkan menjadi strategi besar Kalimantan Timur (Kaltim) untuk menarik pasar global, salah satunya di sektor medical tourism atau wisata medis.
Kepala Kantor Badan Layanan Umum UPBU APT Pranoto Samarinda, I Kadek Yuli Sastrawan menegaskan secara teknis bandara sudah siap melayani penerbangan internasional, khususnya untuk skema charter.
Fasilitas krusial seperti area imigrasi dan bea cukai di terminal kedatangan pun terus dikebut.
"Kalau sekarang mau diterbangkan, kita siap, tapi sistemnya buka-tutup karena sudah ada pemisahan terminal. Fasilitas akan tersedia optimal pada April mendatang," ujar Kadek saat dikonfirmasi, Selasa (24/3/2026).
Peningkatan status APT Pranoto ini menjadi angin segar bagi sektor kesehatan daerah. Maskapai Lion Group sebelumnya sempat menyatakan minat untuk membuka rute Samarinda–Kuala Lumpur.
Jika terwujud, rute ini diproyeksikan tidak hanya berisi penumpang lokal, tetapi juga menjemput warga negara asing.
Seperti diketahui, warga Indonesia termasuk dari Kaltim dan Kalimantan pada umumnya merupakan salah satu penyumbang pasien terbesar bagi rumah sakit di Malaysia, seperti di Kuala Lumpur, Penang dan Sarawak.
Namun pemerintah kini tengah membalikkan keadaan. Dengan dibangunnya deretan rumah sakit berstandar internasional di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan sekitarnya (seperti RSUP IKN, RS Hermina, RS Mayapada, dan RS Abdi Waluyo), fasilitas kesehatan Kaltim kini disiapkan menjadi rujukan dunia.
Kehadiran rute penerbangan langsung internasional di Samarinda akan sangat menunjang ekosistem ini. Alih-alih warga Kaltim yang terbang ke Malaysia untuk medical check-up, kemudahan akses dari APT Pranoto diharapkan mampu menarik ekspatriat, investor asing, hingga warga negara tetangga (seperti Malaysia Timur dan Brunei) untuk berobat dan menikmati layanan kesehatan premium di Kaltim.
Kadek pun mengamini bahwa bandara adalah pintu masuk, namun daya tarik daerah adalah penentunya.
“Peran bandara hanya sebagai pendukung peningkatan kunjungan. Yang utama adalah potensi daerahnya. Potensi-potensi ini harus terus dipromosikan agar menarik wisatawan dan investor masuk melalui Samarinda,” tegasnya.
Meski fasilitas fisik segera rampung, Kadek membeberkan tantangan nyata di lapangan yakni keterbatasan pesawat. Dari total armada nasional, sekitar 190 unit sedang dalam perawatan, menyisakan hanya sekitar 378 pesawat aktif untuk rute domestik dan internasional.
"Untuk menambah rute saja sudah sulit, bahkan rute yang ada pun cukup berat untuk dipenuhi," ungkap Kadek.
Sebagai solusi, pihak bandara telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Kaltim untuk mulai melirik dan mengundang maskapai asing agar mau membuka rute ke Samarinda.
Di sisi lain, APT Pranoto juga harus bersinergi cerdas agar tidak sekadar kanibal dengan Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan yang jaraknya hanya 2,5 - 3 jam jalur darat.
Saat ini, pergerakan penumpang APT Pranoto berkisar 2.000 orang per hari, sementara Balikpapan di angka 5.000 hingga 6.000.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Bandar Udara APT Pranoto Samarinda. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Kesiapan Bandara APT Pranoto Samarinda untuk naik kelas menjadi bandara internasional ditargetkan rampung pada April 2026.
Dengan seluruh perizinan yang telah dikantongi, langkah ini bukan sekadar mempermudah warga lokal pelesiran ke luar negeri, melainkan menjadi strategi besar Kalimantan Timur (Kaltim) untuk menarik pasar global, salah satunya di sektor medical tourism atau wisata medis.
Kepala Kantor Badan Layanan Umum UPBU APT Pranoto Samarinda, I Kadek Yuli Sastrawan menegaskan secara teknis bandara sudah siap melayani penerbangan internasional, khususnya untuk skema charter.
Fasilitas krusial seperti area imigrasi dan bea cukai di terminal kedatangan pun terus dikebut.
"Kalau sekarang mau diterbangkan, kita siap, tapi sistemnya buka-tutup karena sudah ada pemisahan terminal. Fasilitas akan tersedia optimal pada April mendatang," ujar Kadek saat dikonfirmasi, Selasa (24/3/2026).
Peningkatan status APT Pranoto ini menjadi angin segar bagi sektor kesehatan daerah. Maskapai Lion Group sebelumnya sempat menyatakan minat untuk membuka rute Samarinda–Kuala Lumpur.
Jika terwujud, rute ini diproyeksikan tidak hanya berisi penumpang lokal, tetapi juga menjemput warga negara asing.
Seperti diketahui, warga Indonesia termasuk dari Kaltim dan Kalimantan pada umumnya merupakan salah satu penyumbang pasien terbesar bagi rumah sakit di Malaysia, seperti di Kuala Lumpur, Penang dan Sarawak.
Namun pemerintah kini tengah membalikkan keadaan. Dengan dibangunnya deretan rumah sakit berstandar internasional di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan sekitarnya (seperti RSUP IKN, RS Hermina, RS Mayapada, dan RS Abdi Waluyo), fasilitas kesehatan Kaltim kini disiapkan menjadi rujukan dunia.
Kehadiran rute penerbangan langsung internasional di Samarinda akan sangat menunjang ekosistem ini. Alih-alih warga Kaltim yang terbang ke Malaysia untuk medical check-up, kemudahan akses dari APT Pranoto diharapkan mampu menarik ekspatriat, investor asing, hingga warga negara tetangga (seperti Malaysia Timur dan Brunei) untuk berobat dan menikmati layanan kesehatan premium di Kaltim.
Kadek pun mengamini bahwa bandara adalah pintu masuk, namun daya tarik daerah adalah penentunya.
“Peran bandara hanya sebagai pendukung peningkatan kunjungan. Yang utama adalah potensi daerahnya. Potensi-potensi ini harus terus dipromosikan agar menarik wisatawan dan investor masuk melalui Samarinda,” tegasnya.
Meski fasilitas fisik segera rampung, Kadek membeberkan tantangan nyata di lapangan yakni keterbatasan pesawat. Dari total armada nasional, sekitar 190 unit sedang dalam perawatan, menyisakan hanya sekitar 378 pesawat aktif untuk rute domestik dan internasional.
"Untuk menambah rute saja sudah sulit, bahkan rute yang ada pun cukup berat untuk dipenuhi," ungkap Kadek.
Sebagai solusi, pihak bandara telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Kaltim untuk mulai melirik dan mengundang maskapai asing agar mau membuka rute ke Samarinda.
Di sisi lain, APT Pranoto juga harus bersinergi cerdas agar tidak sekadar kanibal dengan Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan yang jaraknya hanya 2,5 - 3 jam jalur darat.
Saat ini, pergerakan penumpang APT Pranoto berkisar 2.000 orang per hari, sementara Balikpapan di angka 5.000 hingga 6.000.
(Sf/Lo)