Seputar Kaltim

    Antisipasi Lonjakan Kasus TB dan HIV, RSUD IA Moeis Samarinda Tambah Kapasitas Ruang Isolasi

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    05 Juni 2026 pukul 20:29 WITA

    Pelayanan yang dilakukan di RSUD I.A. Moeis. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)

    Samarinda - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Inche Abdoel Moeis Samarinda bersiap melakukan perluasan ruang isolasi khusus bagi pasien Tuberkulosis dan HIV pada tahun ini. 

    Langkah ini diambil guna merespons tren kenaikan kasus seiring dengan pesatnya pertumbuhan penduduk dan status Samarinda yang menjadi kota singgah bagi banyak pendatang.

    Adapun data di tahun 2026 ini, Kota Samarinda dan Balikpapan menjadi penyumbang temuan kasus TBC dan HIV tertinggi. Di Samarinda sendiri, target penemuan pada tahun 2026 menyentuh 5.855 kasus.

    Direktur RSUD IA Moeis Samarinda, dr. Osa Rafshodia, mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya baru memiliki enam tempat tidur di ruang isolasi khusus tersebut. 

    Melalui kucuran anggaran dari Pemerintah Kota Samarinda tahun ini, kapasitas ruangan akan ditingkatkan menjadi sepuluh tempat tidur guna menjamin kepastian layanan rawat inap bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan khusus.

    Sebagai fasilitas kesehatan milik pemerintah, dr. Osa menekankan bahwa fungsi sosial harus selalu dikedepankan berdampingan dengan fungsi pelayanan medis. 

    Hal ini menjadi komitmen utama rumah sakit untuk pantang menolak pasien yang datang untuk berobat, meskipun kapasitas maksimal ruangan isolasi yang ada telah terisi penuh.

    "Kalau ternyata pasien yang datang delapan orang, tidak mungkin yang dua orang kita suruh pulang. Jadi tetap kita rawat. Ruangan rawat yang bukan isolasi kita siapkan sedemikian rupa supaya bisa berfungsi sebagai ruang isolasi," tegas dr. Osa.

    Sikap ini, lanjutnya, menjadi pembeda karena tidak semua rumah sakit, khususnya swasta, memiliki kapasitas besar untuk menampung pasien penyakit menular secara terus-menerus. 

    Sering kali, rumah sakit dengan daya tampung terbatas akan langsung merujuk pasien mereka ke fasilitas milik pemerintah saat ruangan penuh.

    Proyek perluasan fasilitas vital ini direncanakan segera bergulir dalam waktu dekat. Tahap lelang proyek ditargetkan dapat berjalan pada bulan Juli, dengan estimasi seluruh pengerjaan fisik akan rampung dan siap digunakan pada bulan Desember mendatang.

    Terkait nominal pasti anggaran yang akan diserap untuk rehabilitasi ruangan ini, pihak rumah sakit belum bisa membeberkan angka detailnya ke publik. 

    "Ini masih dalam tahap review oleh Inspektorat Daerah, jadi nilai finalnya belum muncul. Nanti pasti akan kelihatan di Sistem Informasi Pemerintahan Daerah," pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Antisipasi Lonjakan Kasus TB dan HIV, RSUD IA Moeis Samarinda Tambah Kapasitas Ruang Isolasi

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    05 Juni 2026 pukul 20:29 WITA

    Pelayanan yang dilakukan di RSUD I.A. Moeis. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)

    Samarinda - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Inche Abdoel Moeis Samarinda bersiap melakukan perluasan ruang isolasi khusus bagi pasien Tuberkulosis dan HIV pada tahun ini. 

    Langkah ini diambil guna merespons tren kenaikan kasus seiring dengan pesatnya pertumbuhan penduduk dan status Samarinda yang menjadi kota singgah bagi banyak pendatang.

    Adapun data di tahun 2026 ini, Kota Samarinda dan Balikpapan menjadi penyumbang temuan kasus TBC dan HIV tertinggi. Di Samarinda sendiri, target penemuan pada tahun 2026 menyentuh 5.855 kasus.

    Direktur RSUD IA Moeis Samarinda, dr. Osa Rafshodia, mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya baru memiliki enam tempat tidur di ruang isolasi khusus tersebut. 

    Melalui kucuran anggaran dari Pemerintah Kota Samarinda tahun ini, kapasitas ruangan akan ditingkatkan menjadi sepuluh tempat tidur guna menjamin kepastian layanan rawat inap bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan khusus.

    Sebagai fasilitas kesehatan milik pemerintah, dr. Osa menekankan bahwa fungsi sosial harus selalu dikedepankan berdampingan dengan fungsi pelayanan medis. 

    Hal ini menjadi komitmen utama rumah sakit untuk pantang menolak pasien yang datang untuk berobat, meskipun kapasitas maksimal ruangan isolasi yang ada telah terisi penuh.

    "Kalau ternyata pasien yang datang delapan orang, tidak mungkin yang dua orang kita suruh pulang. Jadi tetap kita rawat. Ruangan rawat yang bukan isolasi kita siapkan sedemikian rupa supaya bisa berfungsi sebagai ruang isolasi," tegas dr. Osa.

    Sikap ini, lanjutnya, menjadi pembeda karena tidak semua rumah sakit, khususnya swasta, memiliki kapasitas besar untuk menampung pasien penyakit menular secara terus-menerus. 

    Sering kali, rumah sakit dengan daya tampung terbatas akan langsung merujuk pasien mereka ke fasilitas milik pemerintah saat ruangan penuh.

    Proyek perluasan fasilitas vital ini direncanakan segera bergulir dalam waktu dekat. Tahap lelang proyek ditargetkan dapat berjalan pada bulan Juli, dengan estimasi seluruh pengerjaan fisik akan rampung dan siap digunakan pada bulan Desember mendatang.

    Terkait nominal pasti anggaran yang akan diserap untuk rehabilitasi ruangan ini, pihak rumah sakit belum bisa membeberkan angka detailnya ke publik. 

    "Ini masih dalam tahap review oleh Inspektorat Daerah, jadi nilai finalnya belum muncul. Nanti pasti akan kelihatan di Sistem Informasi Pemerintahan Daerah," pungkasnya.

    (Sf/Rs)