Cari disini...
Seputar Kaltim
Plt Kepala DPKH Kaltim, Fadli Supiani. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Perayaan Iduladha di Kalimantan Timur (Kaltim) tahun ini diproyeksikan akan menyerap belasan ribu hewan kurban. Tingginya jumlah hewan yang disembelih berbanding lurus dengan potensi masifnya limbah sisa pemotongan.
Mengantisipasi dampak buruk terhadap lingkungan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim mengeluarkan imbauan tegas kepada masyarakat dan panitia masjid.
Berdasarkan data terbaru dari DPKH Kaltim, tren kebutuhan hewan kurban pada perayaan Iduladha tahun ini diprediksi mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Angka kebutuhan di seluruh wilayah Kaltim tercatat menembus 18.525 ekor.
Banyaknya jumlah hewan yang dipotong memunculkan kekhawatiran terkait pengelolaan limbah seperti darah, kotoran, dan sisa jeroan yang tidak layak konsumsi.
Jika tidak dikelola dengan baik, limbah organik dalam jumlah besar ini dapat menjadi sumber penyakit dan mencemari fasilitas umum.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DPKH Kaltim, Fadli Sufiani, secara khusus menyoroti masalah ini.
Ia mengingatkan seluruh elemen masyarakat yang terlibat dalam proses pemotongan untuk benar-benar memperhatikan standar kebersihan.
"Salah satu hal krusial yang harus diperhatikan adalah penanganan limbah pemotongan hewan kurban. Kami mengimbau masyarakat untuk terus menjaga higienitas area pemotongan," ujar Fadli di Samarinda, Rabu (27/5/2026).
Fadli melarang keras praktik pembuangan sisa pemotongan ke aliran air maupun tempat pembuangan sampah biasa.
Kebiasaan membuang darah atau sisa jeroan ke sungai sangat berbahaya karena dapat memicu pencemaran air dan merusak ekosistem, serta menimbulkan bau tak sedap bagi permukiman warga.
Sebagai solusi yang aman dan ramah lingkungan, Fadli menyarankan panitia kurban untuk menyiapkan lubang galian khusus guna menimbun limbah-limbah tersebut.
"Limbah ini semestinya jangan sampai dibuang ke sungai-sungai atau ke tempat sampah umum. Paling tidak limbah tersebut dikuburkan ke dalam tanah. Itu jauh lebih baik daripada nanti menimbulkan cemaran yang berdampak buruk pada lingkungan dan kesehatan masyarakat kita di Kaltim," tegasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Plt Kepala DPKH Kaltim, Fadli Supiani. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Perayaan Iduladha di Kalimantan Timur (Kaltim) tahun ini diproyeksikan akan menyerap belasan ribu hewan kurban. Tingginya jumlah hewan yang disembelih berbanding lurus dengan potensi masifnya limbah sisa pemotongan.
Mengantisipasi dampak buruk terhadap lingkungan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim mengeluarkan imbauan tegas kepada masyarakat dan panitia masjid.
Berdasarkan data terbaru dari DPKH Kaltim, tren kebutuhan hewan kurban pada perayaan Iduladha tahun ini diprediksi mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Angka kebutuhan di seluruh wilayah Kaltim tercatat menembus 18.525 ekor.
Banyaknya jumlah hewan yang dipotong memunculkan kekhawatiran terkait pengelolaan limbah seperti darah, kotoran, dan sisa jeroan yang tidak layak konsumsi.
Jika tidak dikelola dengan baik, limbah organik dalam jumlah besar ini dapat menjadi sumber penyakit dan mencemari fasilitas umum.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DPKH Kaltim, Fadli Sufiani, secara khusus menyoroti masalah ini.
Ia mengingatkan seluruh elemen masyarakat yang terlibat dalam proses pemotongan untuk benar-benar memperhatikan standar kebersihan.
"Salah satu hal krusial yang harus diperhatikan adalah penanganan limbah pemotongan hewan kurban. Kami mengimbau masyarakat untuk terus menjaga higienitas area pemotongan," ujar Fadli di Samarinda, Rabu (27/5/2026).
Fadli melarang keras praktik pembuangan sisa pemotongan ke aliran air maupun tempat pembuangan sampah biasa.
Kebiasaan membuang darah atau sisa jeroan ke sungai sangat berbahaya karena dapat memicu pencemaran air dan merusak ekosistem, serta menimbulkan bau tak sedap bagi permukiman warga.
Sebagai solusi yang aman dan ramah lingkungan, Fadli menyarankan panitia kurban untuk menyiapkan lubang galian khusus guna menimbun limbah-limbah tersebut.
"Limbah ini semestinya jangan sampai dibuang ke sungai-sungai atau ke tempat sampah umum. Paling tidak limbah tersebut dikuburkan ke dalam tanah. Itu jauh lebih baik daripada nanti menimbulkan cemaran yang berdampak buruk pada lingkungan dan kesehatan masyarakat kita di Kaltim," tegasnya.
(Sf/Rs)