Seputar Kaltim

    Angka Stunting Menurun jadi 17 Persen, Pemkot Samarinda Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    02 Juli 2026 pukul 15:16 WITA

    Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kota Samarinda digelar untuk memperkuat sinergi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menekan angka stunting. (Foto: Arsensia Serlyani/ Seputarfakta.com)

    Samarinda – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menegaskan komitmennya untuk terus menekan angka stunting meski ruang fiskal daerah pada 2026 mengalami keterbatasan. 

    Upaya percepatan penurunan stunting dipastikan tetap menjadi prioritas melalui penguatan koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD), dunia usaha, hingga berbagai pemangku kepentingan.

    Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, mengatakan penurunan angka stunting menjadi tanggung jawab bersama sehingga membutuhkan sinergi seluruh elemen masyarakat.

    "Harapan kita tentunya kepada seluruh masyarakat, terutama penggerak-penggerak penurunan stunting dan OPD-OPD, bagaimana menurunkan stunting," ujar Saefuddin, Kamis (2/7/2026).

    Menurut Saefuddin, capaian penurunan stunting di Samarinda menunjukkan tren positif. 

    Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi stunting pada 2024 tercatat sebesar 20,3 persen. Angka tersebut kemudian turun menjadi 17,13 persen pada 2025 berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM). 

    Dengan demikian, prevalensi stunting di Samarinda berhasil turun 3,17 persen dan telah berada di bawah target nasional tahun 2025 sebesar 18 persen.

    Meski demikian, ia menegaskan masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan agar angka stunting terus ditekan.

    "Alhamdulillah di tahun 2024 kemarin stunting bisa turun. Ke 2025 itu turunnya cukup lumayan, tapi harapan kita banyak sekali yang masih harus kita kerjakan," katanya.

    Ia mengakui kondisi fiskal Pemerintah Kota Samarinda saat ini cukup terbatas. Namun, menurutnya hal tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi upaya percepatan penurunan stunting.

    "Walaupun saat ini kondisi fiskal Pemerintah Kota Samarinda cukup memprihatinkan, kita tidak berhenti di situ. Kita harus melaksanakan pergerakan untuk menurunkan stunting ini," tegasnya.

    Saefuddin mengatakan strategi utama yang akan terus diperkuat adalah koordinasi lintas sektor agar seluruh program berjalan efektif dan tepat sasaran.

    "Intinya koordinasi dengan seluruh OPD dan stakeholder yang lain, pengusaha, Perusda, dan lain sebagainya untuk bagaimana menurunkan stunting yang ada di Kota Samarinda," ungkapnya.

    Ia berharap seluruh pihak tetap menjaga komitmen dalam mendukung program percepatan penurunan stunting sehingga angka stunting di Kota Samarinda dapat terus ditekan dan kualitas kesehatan generasi mendatang semakin baik.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Angka Stunting Menurun jadi 17 Persen, Pemkot Samarinda Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    02 Juli 2026 pukul 15:16 WITA

    Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kota Samarinda digelar untuk memperkuat sinergi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menekan angka stunting. (Foto: Arsensia Serlyani/ Seputarfakta.com)

    Samarinda – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menegaskan komitmennya untuk terus menekan angka stunting meski ruang fiskal daerah pada 2026 mengalami keterbatasan. 

    Upaya percepatan penurunan stunting dipastikan tetap menjadi prioritas melalui penguatan koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD), dunia usaha, hingga berbagai pemangku kepentingan.

    Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, mengatakan penurunan angka stunting menjadi tanggung jawab bersama sehingga membutuhkan sinergi seluruh elemen masyarakat.

    "Harapan kita tentunya kepada seluruh masyarakat, terutama penggerak-penggerak penurunan stunting dan OPD-OPD, bagaimana menurunkan stunting," ujar Saefuddin, Kamis (2/7/2026).

    Menurut Saefuddin, capaian penurunan stunting di Samarinda menunjukkan tren positif. 

    Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi stunting pada 2024 tercatat sebesar 20,3 persen. Angka tersebut kemudian turun menjadi 17,13 persen pada 2025 berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM). 

    Dengan demikian, prevalensi stunting di Samarinda berhasil turun 3,17 persen dan telah berada di bawah target nasional tahun 2025 sebesar 18 persen.

    Meski demikian, ia menegaskan masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan agar angka stunting terus ditekan.

    "Alhamdulillah di tahun 2024 kemarin stunting bisa turun. Ke 2025 itu turunnya cukup lumayan, tapi harapan kita banyak sekali yang masih harus kita kerjakan," katanya.

    Ia mengakui kondisi fiskal Pemerintah Kota Samarinda saat ini cukup terbatas. Namun, menurutnya hal tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi upaya percepatan penurunan stunting.

    "Walaupun saat ini kondisi fiskal Pemerintah Kota Samarinda cukup memprihatinkan, kita tidak berhenti di situ. Kita harus melaksanakan pergerakan untuk menurunkan stunting ini," tegasnya.

    Saefuddin mengatakan strategi utama yang akan terus diperkuat adalah koordinasi lintas sektor agar seluruh program berjalan efektif dan tepat sasaran.

    "Intinya koordinasi dengan seluruh OPD dan stakeholder yang lain, pengusaha, Perusda, dan lain sebagainya untuk bagaimana menurunkan stunting yang ada di Kota Samarinda," ungkapnya.

    Ia berharap seluruh pihak tetap menjaga komitmen dalam mendukung program percepatan penurunan stunting sehingga angka stunting di Kota Samarinda dapat terus ditekan dan kualitas kesehatan generasi mendatang semakin baik.

    (Sf/Rs)