Seputar Kaltim

    Angka Stunting masih Tinggi, Ini yang Dilakukan Dinkes Berau

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    29 April 2025 pukul 16:14 WITA

    Kegiatan monitoring dan evaluasi program gizi KIA serta sosialisasi Juknis PMT Tahun 2025, di Hotel SM Tower. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau terus berupaya menekan angka stunting melalui Dinas Kesehatan (Diskes) mengadakan monitoring dan evaluasi program gizi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta sosialisasi petunjuk teknis (Juknis) Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Tahun 2025, dilaksanakan Hotel SM Tower, Selasa, (29/4/2025).

    Kegiatan tersebut dihadiri oleh Asisten I Setkab Berau, M. Hendratno, kepala Dinkes Berau, Lamlay Sarie serta tim inti yakni kepala puskesmas, petugas gizi dan bidang koordinator. 

    Kepala Dinkes Berau, Lamlay Sarie mengatakan bahwa kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka untuk mengevaluasi dan mengetahui apa saja hambatan dan permasalahan yang dihadapi oleh puskesmas terutama tim gizi kesehatan ibu dan anak di puskesmas meliputi tim inti yakni kepala puskesmas, petugas gizi dan bidang koordinator. 

    "Kegiatan ini diikuti oleh petugas inti.

    Jadi memang kita bicara dari sisi ranahnya puskemas," ujar Lamlay Sarie.

    Diketahui, berdasarkan survei kesehatan Indonesia tahun 2023 angka balita stunting di Kabupaten Berau mencapai 23,0 persen. Oleh karena itu angka anak terkena stunting di Berau masih cukup tinggi.

    Ia pun menyebut bahwa tema umum yang sebenarnya adalah intervensi terkait penurunan stunting. Sehingga nanti ada beberapa hal yang menjadi agenda bersama untuk dibawa ditingkat kabupaten.

    "Karena kalau intevensi penurunan stunting itu banyak sisi yang melibatkan banyak OPD. Kami bicara dari sisi klimisi, tim kesehatan, tapi kalau pendekatannya kita libat semua pihak," tungkasnya.

    Sementara itu, Asisten I Setkab Berau, M. Hendratno sangat menyambut baik terselenggaranya kegiatan ini. Salah satu bentuk intervensi yang dapat dilakukan adalah melalui pangan yang dikonsumsi balita dan ibu hamil yang sangat menentukan tumbuh kembang balita tersebut maupun bayi yang sedang dikandung.

    "Saya pun mendorong para kader Posyandu, sebagai layanan kesehatan bagi ibu dan balita untuk dapat melaksanakan program PMT berbahan pangan lokal selain tetap terus mengupayakan optimalnya angka kunjungan, pengukuran, dan penyuluhan, serta bekerja sama dengan tenaga kesehatan," tuturnya.

    Menurutnya peran Posyandu sangat penting dalam memberikan layanan kesehatan masyarakat di tingkat dasar, sehingga diperlukan peningkatan kapasitas, khususnya kemampuan dasar agar dapat melaksanakan tugas dan layanan secara profesional berdasarkan standar yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.

    "Kita perlu memastikan kualitas kesehatan anak-anak kita sebagai generasi penerus yang kelak memegang tonggak kepemimpinan dan membawa kemajuan bagi daerah ini," ujarnya.

    Dirinya pun sangat menyayangkan terkait masih tingginya angka stunting. Sementara itu diketahui bahwa Indonesia ini adalah negara terbesar ketiga di dunia dalam keragaman hayati.

    "Seharusnya ini menjadi potensi yang luar biasa yang dapat kita maksimalkan dalam mencegah dan menanggulangi kasus stunting di Kabupaten Berau," katanya.

    Selain itu, Hendratno pun menekankan bahwa kebijakan dan program percepatan penurunan stunting diarahkan untuk mendukung pencapaian target RPJMN pada angka 14 persen untuk tahun 2024. Menurutnya Angka ini tentu menjadi pekerjaan besar bagi semua pihak.

    "Untuk itu, saya menginstruksikan kepada seluruh perangkat terkait untuk bekerja lebih maksimal agar target ini bisa dicapai sehingga angka stunting dapat ditekan," tandasnya. 

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Angka Stunting masih Tinggi, Ini yang Dilakukan Dinkes Berau

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    29 April 2025 pukul 16:14 WITA

    Kegiatan monitoring dan evaluasi program gizi KIA serta sosialisasi Juknis PMT Tahun 2025, di Hotel SM Tower. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau terus berupaya menekan angka stunting melalui Dinas Kesehatan (Diskes) mengadakan monitoring dan evaluasi program gizi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta sosialisasi petunjuk teknis (Juknis) Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Tahun 2025, dilaksanakan Hotel SM Tower, Selasa, (29/4/2025).

    Kegiatan tersebut dihadiri oleh Asisten I Setkab Berau, M. Hendratno, kepala Dinkes Berau, Lamlay Sarie serta tim inti yakni kepala puskesmas, petugas gizi dan bidang koordinator. 

    Kepala Dinkes Berau, Lamlay Sarie mengatakan bahwa kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka untuk mengevaluasi dan mengetahui apa saja hambatan dan permasalahan yang dihadapi oleh puskesmas terutama tim gizi kesehatan ibu dan anak di puskesmas meliputi tim inti yakni kepala puskesmas, petugas gizi dan bidang koordinator. 

    "Kegiatan ini diikuti oleh petugas inti.

    Jadi memang kita bicara dari sisi ranahnya puskemas," ujar Lamlay Sarie.

    Diketahui, berdasarkan survei kesehatan Indonesia tahun 2023 angka balita stunting di Kabupaten Berau mencapai 23,0 persen. Oleh karena itu angka anak terkena stunting di Berau masih cukup tinggi.

    Ia pun menyebut bahwa tema umum yang sebenarnya adalah intervensi terkait penurunan stunting. Sehingga nanti ada beberapa hal yang menjadi agenda bersama untuk dibawa ditingkat kabupaten.

    "Karena kalau intevensi penurunan stunting itu banyak sisi yang melibatkan banyak OPD. Kami bicara dari sisi klimisi, tim kesehatan, tapi kalau pendekatannya kita libat semua pihak," tungkasnya.

    Sementara itu, Asisten I Setkab Berau, M. Hendratno sangat menyambut baik terselenggaranya kegiatan ini. Salah satu bentuk intervensi yang dapat dilakukan adalah melalui pangan yang dikonsumsi balita dan ibu hamil yang sangat menentukan tumbuh kembang balita tersebut maupun bayi yang sedang dikandung.

    "Saya pun mendorong para kader Posyandu, sebagai layanan kesehatan bagi ibu dan balita untuk dapat melaksanakan program PMT berbahan pangan lokal selain tetap terus mengupayakan optimalnya angka kunjungan, pengukuran, dan penyuluhan, serta bekerja sama dengan tenaga kesehatan," tuturnya.

    Menurutnya peran Posyandu sangat penting dalam memberikan layanan kesehatan masyarakat di tingkat dasar, sehingga diperlukan peningkatan kapasitas, khususnya kemampuan dasar agar dapat melaksanakan tugas dan layanan secara profesional berdasarkan standar yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.

    "Kita perlu memastikan kualitas kesehatan anak-anak kita sebagai generasi penerus yang kelak memegang tonggak kepemimpinan dan membawa kemajuan bagi daerah ini," ujarnya.

    Dirinya pun sangat menyayangkan terkait masih tingginya angka stunting. Sementara itu diketahui bahwa Indonesia ini adalah negara terbesar ketiga di dunia dalam keragaman hayati.

    "Seharusnya ini menjadi potensi yang luar biasa yang dapat kita maksimalkan dalam mencegah dan menanggulangi kasus stunting di Kabupaten Berau," katanya.

    Selain itu, Hendratno pun menekankan bahwa kebijakan dan program percepatan penurunan stunting diarahkan untuk mendukung pencapaian target RPJMN pada angka 14 persen untuk tahun 2024. Menurutnya Angka ini tentu menjadi pekerjaan besar bagi semua pihak.

    "Untuk itu, saya menginstruksikan kepada seluruh perangkat terkait untuk bekerja lebih maksimal agar target ini bisa dicapai sehingga angka stunting dapat ditekan," tandasnya. 

    (Sf/Rs)