Seputar Kaltim

    Angka Stunting di Balikpapan Sempat Turun, Pendataan Kembali Ungkap Kasus di Sejumlah Wilayah

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    08 Agustus 2026 pukul 12:04 WITA

    Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Balikpapan, Nurlena Rahmad Mas’ud saat ditemui awak media. (Foto: maya sari/seputarfakta.com)

    Balikpapan — Upaya penanganan stunting di Kota Balikpapan terus dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari kader PKK, Posyandu, Dinas Kesehatan, hingga masyarakat. Pendataan dan penemuan kasus di lapangan dinilai menjadi bagian penting untuk mengetahui wilayah yang masih membutuhkan perhatian dalam penanganan stunting.

    Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Balikpapan, Nurlena Rahmad Mas’ud mengatakan, angka stunting di Balikpapan sebelumnya menunjukkan tren penurunan. Dari sekitar 22,3 persen, angka tersebut sempat turun menjadi sekitar 18 persen dan kembali menurun hingga berada di kisaran 15 persen.

    “Namun, setelah dilakukan pendataan kembali, angka stunting kembali mengalami peningkatan,” ucap Nurlena kepada media, Sabtu (8/8/2026).

    Menurut Nurlena, kondisi tersebut salah satunya berkaitan dengan adanya pendataan terhadap penduduk, termasuk kemungkinan bertambahnya jumlah pendatang di Balikpapan.

    Meski demikian, ia menegaskan angka tersebut masih berada di bawah angka sebelumnya.

    “Angka stunting kami sebenarnya kemarin sudah turun. Dari 22,3 persen turun menjadi 18 persen, kemudian turun lagi menjadi sekitar 15 persen. Tetapi setelah pendataan kembali, ternyata kami naik lagi,” ujarnya.

    Kata dia, meningkatnya temuan kasus tidak selalu menunjukkan kegagalan dalam penanganan stunting. Sebaliknya, banyaknya kasus yang ditemukan menunjukkan bahwa petugas dan kader semakin aktif melakukan pendataan serta turun langsung ke masyarakat.

    Ia menjelaskan, pendataan tersebut dilakukan untuk mengetahui wilayah mana saja yang masih memiliki kasus stunting, sehingga penanganan dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran.

    “Kalau banyak temuan berarti kami bekerja, karena kami turun ke lapangan. Dari situ kami akhirnya tahu wilayah-wilayah mana saja yang banyak terdeteksi stunting,” katanya.

    Nurlena menyebut wilayah Balikpapan Barat menjadi salah satu kawasan yang ditemukan memiliki kasus stunting cukup banyak. Salah satunya berada di kawasan sekitar Sidodadi dan wilayah yang berada di bagian atas kawasan tersebut.

    Untuk menangani persoalan tersebut, pemerintah tidak hanya mengandalkan pembentukan satuan tugas khusus.

    “Di tengah kebijakan efisiensi, pendekatan berbasis masyarakat dinilai dapat menjadi salah satu solusi,” imbuhnya.

    Relawan dan komunitas di lingkungan tempat tinggal diharapkan dapat ikut berperan dalam melakukan pemantauan dari rumah ke rumah. Organisasi perangkat daerah (OPD) yang berada di lingkungan masyarakat juga diharapkan dapat terlibat dalam memberikan edukasi mengenai pencegahan stunting.

    Dia menilai penanganan stunting tidak dapat hanya diarahkan kepada keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Sebab, kasus stunting juga dapat ditemukan pada keluarga dengan kondisi ekonomi yang relatif baik.

    “Bukan hanya masyarakat menengah ke bawah. Di keluarga dengan kondisi ekonomi yang standar pun, anak-anaknya ada yang mengalami stunting,” ujarnya.

    Selain faktor pemenuhan gizi, Nurlena menekankan pentingnya pola asuh dalam mencegah stunting. Menurutnya, kondisi kehidupan di dalam rumah tangga juga perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi tumbuh kembang anak.

    Dirinya menyoroti kondisi keluarga yang tinggal bersama beberapa anggota keluarga dalam satu rumah. Dalam kondisi tertentu, keberadaan banyak anggota keluarga, termasuk orang tua dan mertua, dinilai dapat memberikan tekanan dalam pengasuhan anak.

    “Pola asuh sangat penting. Kemudian bagaimana kondisi rumah tangga, hubungan antara orang tua dan anak. Biasanya ada juga yang hidup bersama mertua atau beberapa keluarga dalam satu rumah. Itu bisa menjadi tekanan bagi anak,” jelasnya.

    Karena itu, upaya pencegahan stunting membutuhkan pendekatan yang lebih luas. Tidak hanya melalui pemeriksaan kesehatan dan pemenuhan gizi, tetapi juga dengan memperkuat edukasi kepada orang tua mengenai pola asuh, serta menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung tumbuh kembang anak.

    Pemerintah bersama kader PKK, Posyandu, Dinas Kesehatan, relawan, komunitas, dan masyarakat diharapkan dapat terus memperkuat kolaborasi agar kasus stunting di Balikpapan dapat ditekan.

    “Pendataan yang dilakukan secara berkelanjutan juga menjadi penting untuk memastikan setiap kasus yang ditemukan dapat segera ditindaklanjuti sesuai kebutuhan masing-masing keluarga,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Angka Stunting di Balikpapan Sempat Turun, Pendataan Kembali Ungkap Kasus di Sejumlah Wilayah

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    08 Agustus 2026 pukul 12:04 WITA

    Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Balikpapan, Nurlena Rahmad Mas’ud saat ditemui awak media. (Foto: maya sari/seputarfakta.com)

    Balikpapan — Upaya penanganan stunting di Kota Balikpapan terus dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari kader PKK, Posyandu, Dinas Kesehatan, hingga masyarakat. Pendataan dan penemuan kasus di lapangan dinilai menjadi bagian penting untuk mengetahui wilayah yang masih membutuhkan perhatian dalam penanganan stunting.

    Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Balikpapan, Nurlena Rahmad Mas’ud mengatakan, angka stunting di Balikpapan sebelumnya menunjukkan tren penurunan. Dari sekitar 22,3 persen, angka tersebut sempat turun menjadi sekitar 18 persen dan kembali menurun hingga berada di kisaran 15 persen.

    “Namun, setelah dilakukan pendataan kembali, angka stunting kembali mengalami peningkatan,” ucap Nurlena kepada media, Sabtu (8/8/2026).

    Menurut Nurlena, kondisi tersebut salah satunya berkaitan dengan adanya pendataan terhadap penduduk, termasuk kemungkinan bertambahnya jumlah pendatang di Balikpapan.

    Meski demikian, ia menegaskan angka tersebut masih berada di bawah angka sebelumnya.

    “Angka stunting kami sebenarnya kemarin sudah turun. Dari 22,3 persen turun menjadi 18 persen, kemudian turun lagi menjadi sekitar 15 persen. Tetapi setelah pendataan kembali, ternyata kami naik lagi,” ujarnya.

    Kata dia, meningkatnya temuan kasus tidak selalu menunjukkan kegagalan dalam penanganan stunting. Sebaliknya, banyaknya kasus yang ditemukan menunjukkan bahwa petugas dan kader semakin aktif melakukan pendataan serta turun langsung ke masyarakat.

    Ia menjelaskan, pendataan tersebut dilakukan untuk mengetahui wilayah mana saja yang masih memiliki kasus stunting, sehingga penanganan dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran.

    “Kalau banyak temuan berarti kami bekerja, karena kami turun ke lapangan. Dari situ kami akhirnya tahu wilayah-wilayah mana saja yang banyak terdeteksi stunting,” katanya.

    Nurlena menyebut wilayah Balikpapan Barat menjadi salah satu kawasan yang ditemukan memiliki kasus stunting cukup banyak. Salah satunya berada di kawasan sekitar Sidodadi dan wilayah yang berada di bagian atas kawasan tersebut.

    Untuk menangani persoalan tersebut, pemerintah tidak hanya mengandalkan pembentukan satuan tugas khusus.

    “Di tengah kebijakan efisiensi, pendekatan berbasis masyarakat dinilai dapat menjadi salah satu solusi,” imbuhnya.

    Relawan dan komunitas di lingkungan tempat tinggal diharapkan dapat ikut berperan dalam melakukan pemantauan dari rumah ke rumah. Organisasi perangkat daerah (OPD) yang berada di lingkungan masyarakat juga diharapkan dapat terlibat dalam memberikan edukasi mengenai pencegahan stunting.

    Dia menilai penanganan stunting tidak dapat hanya diarahkan kepada keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Sebab, kasus stunting juga dapat ditemukan pada keluarga dengan kondisi ekonomi yang relatif baik.

    “Bukan hanya masyarakat menengah ke bawah. Di keluarga dengan kondisi ekonomi yang standar pun, anak-anaknya ada yang mengalami stunting,” ujarnya.

    Selain faktor pemenuhan gizi, Nurlena menekankan pentingnya pola asuh dalam mencegah stunting. Menurutnya, kondisi kehidupan di dalam rumah tangga juga perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi tumbuh kembang anak.

    Dirinya menyoroti kondisi keluarga yang tinggal bersama beberapa anggota keluarga dalam satu rumah. Dalam kondisi tertentu, keberadaan banyak anggota keluarga, termasuk orang tua dan mertua, dinilai dapat memberikan tekanan dalam pengasuhan anak.

    “Pola asuh sangat penting. Kemudian bagaimana kondisi rumah tangga, hubungan antara orang tua dan anak. Biasanya ada juga yang hidup bersama mertua atau beberapa keluarga dalam satu rumah. Itu bisa menjadi tekanan bagi anak,” jelasnya.

    Karena itu, upaya pencegahan stunting membutuhkan pendekatan yang lebih luas. Tidak hanya melalui pemeriksaan kesehatan dan pemenuhan gizi, tetapi juga dengan memperkuat edukasi kepada orang tua mengenai pola asuh, serta menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung tumbuh kembang anak.

    Pemerintah bersama kader PKK, Posyandu, Dinas Kesehatan, relawan, komunitas, dan masyarakat diharapkan dapat terus memperkuat kolaborasi agar kasus stunting di Balikpapan dapat ditekan.

    “Pendataan yang dilakukan secara berkelanjutan juga menjadi penting untuk memastikan setiap kasus yang ditemukan dapat segera ditindaklanjuti sesuai kebutuhan masing-masing keluarga,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)