Cari disini...
Seputar Kaltim
Rapat Koordinasi Percepatan Penurunan Stunting yang digelar Pemkot Bontang di Auditorium Tiga Dimensi. (Foto: Prokompim Bontang)
Bontang - Stunting di Kota Bontang berada di angka 14,3 hingga 15,7 persen. Ini terungkap dalam Rapat Koordinasi Percepatan Penurunan Stunting di Auditorium Tiga Dimensi, Selasa (23/12/2025).
Dalam rapat tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang menetapkan target penurunan menjadi 12,5 persen pada 2026 dengan evaluasi dilakukan setiap semester.
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris menyampaikan kelompok sasaran penanganan stunting meliputi bayi usia 0–5 tahun, ibu hamil, ibu menyusui, serta keluarga berisiko stunting. Pendampingan difokuskan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan didukung pemutakhiran data hingga tingkat kelurahan dan RT.
Ia juga mengatakan penurunan stunting merupakan bagian dari upaya menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) menuju Indonesia Emas 2045.
“Penurunan stunting bukan hanya target pemerintah daerah, tetapi bagian dari komitmen kita bersama untuk menyiapkan SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya Agus Haris.
Ia menyebut stunting berkaitan dengan kemiskinan, sanitasi, pendidikan dan praktik pernikahan dini, sehingga penanganannya melibatkan lintas sektor. Ia juga menekankan pentingnya data yang akurat dan terperinci sebagai dasar penentuan intervensi.
Selain sektor pemerintah, penanganan stunting juga melibatkan sektor non-pemerintah melalui program CSR perusahaan yang diarahkan pada pemenuhan gizi, sanitasi dan akses air bersih.
“Dengan komitmen dan kolaboras yang solid, saya yakin Kota Bontang mampu menurunkan angka stunting secara signifikan dan berkelanjutan,” tandasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Rapat Koordinasi Percepatan Penurunan Stunting yang digelar Pemkot Bontang di Auditorium Tiga Dimensi. (Foto: Prokompim Bontang)
Bontang - Stunting di Kota Bontang berada di angka 14,3 hingga 15,7 persen. Ini terungkap dalam Rapat Koordinasi Percepatan Penurunan Stunting di Auditorium Tiga Dimensi, Selasa (23/12/2025).
Dalam rapat tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang menetapkan target penurunan menjadi 12,5 persen pada 2026 dengan evaluasi dilakukan setiap semester.
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris menyampaikan kelompok sasaran penanganan stunting meliputi bayi usia 0–5 tahun, ibu hamil, ibu menyusui, serta keluarga berisiko stunting. Pendampingan difokuskan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan didukung pemutakhiran data hingga tingkat kelurahan dan RT.
Ia juga mengatakan penurunan stunting merupakan bagian dari upaya menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) menuju Indonesia Emas 2045.
“Penurunan stunting bukan hanya target pemerintah daerah, tetapi bagian dari komitmen kita bersama untuk menyiapkan SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya Agus Haris.
Ia menyebut stunting berkaitan dengan kemiskinan, sanitasi, pendidikan dan praktik pernikahan dini, sehingga penanganannya melibatkan lintas sektor. Ia juga menekankan pentingnya data yang akurat dan terperinci sebagai dasar penentuan intervensi.
Selain sektor pemerintah, penanganan stunting juga melibatkan sektor non-pemerintah melalui program CSR perusahaan yang diarahkan pada pemenuhan gizi, sanitasi dan akses air bersih.
“Dengan komitmen dan kolaboras yang solid, saya yakin Kota Bontang mampu menurunkan angka stunting secara signifikan dan berkelanjutan,” tandasnya.
(Sf/Lo)