Seputar Kaltim

    Angka Kanker Payudara dan Serviks di Bontang Cukup Tinggi, Masyarakat Diimbau Deteksi Dini

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Lodya A
    18 November 2025 pukul 14:30 WITA

    Kepala Dinkes Bontang, Bachtiar Mabe. (Foto: Nuraini/Seputarfakta.com)

     

    Bontang - Kasus kanker payudara dan serviks di Kota Bontang masih menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan (Dinkes). 

    Sepanjang 2025, tercatat 34 kasus kanker payudara dan 4 kasus kanker serviks, sehingga mendorong pemerintah meningkatkan upaya deteksi dini dan pencegahan di masyarakat.

    Kepala Dinkes Bontang, Bachtiar Mabe menjelaskan angka tersebut menunjukkan perlunya intervensi yang lebih kuat melalui edukasi dan pemeriksaan kesehatan berkala.

    “Ini data terbaru di 2025. Kami melakukan berbagai langkah untuk menekan kasus, salah satunya memperluas edukasi kepada masyarakat,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

    Menurut Bachtiar, warga yang telah teridentifikasi memiliki risiko atau gejala akan diarahkan ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan lanjutan. Ia menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan diri dan menerapkan pola hidup sehat.

    “Masyarakat diharapkan aktif melakukan deteksi dini dan rutin mengecek kondisi kesehatan di faskes,” tambahnya.

    Dokter spesialis bedah onkologi RSUD Taman Husada Bontang, Johan Gomar Gama mengatakan keterlambatan penanganan kanker payudara memiliki risiko fatal. Pada kanker payudara stadium empat, tingkat harapan hidup lima tahun hanya tersisa dua hingga tiga pasien.

    “Selebihnya meninggal dalam beberapa bulan setelah diagnosis,” jelasnya.

    Sementara itu, Dokter umum Puskesmas Bontang Barat, Eka Resti Melati Suci Lestari mengatakan kanker serviks masih menjadi penyebab kematian kedua terbanyak pada perempuan Indonesia setelah kanker payudara. 

    Tingkat insidensinya mencapai 16 dari 100 perempuan, sedangkan kanker payudara mencapai 38 dari 100 perempuan.

    Ia menyebut sekitar 38 perempuan Indonesia terdiagnosis kanker serviks setiap hari, dengan penyebab utama infeksi Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18.

    “Kanker serviks bisa menyerang perempuan dari berbagai usia, termasuk remaja dan dewasa,” ujarnya.

    Wanita yang akrab disapa dokter Eka itu menekankan pentingnya mengenali gejala awal seperti perubahan jenis keputihan. Ia juga menyoroti program imunisasi HPV bagi siswa kelas V dan VI sekolah dasar sebagai langkah pencegahan jangka panjang.

    “Dengan deteksi dini dan imunisasi, angka kanker serviks di Bontang dapat ditekan,” tegasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Angka Kanker Payudara dan Serviks di Bontang Cukup Tinggi, Masyarakat Diimbau Deteksi Dini

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Lodya A
    18 November 2025 pukul 14:30 WITA

    Kepala Dinkes Bontang, Bachtiar Mabe. (Foto: Nuraini/Seputarfakta.com)

     

    Bontang - Kasus kanker payudara dan serviks di Kota Bontang masih menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan (Dinkes). 

    Sepanjang 2025, tercatat 34 kasus kanker payudara dan 4 kasus kanker serviks, sehingga mendorong pemerintah meningkatkan upaya deteksi dini dan pencegahan di masyarakat.

    Kepala Dinkes Bontang, Bachtiar Mabe menjelaskan angka tersebut menunjukkan perlunya intervensi yang lebih kuat melalui edukasi dan pemeriksaan kesehatan berkala.

    “Ini data terbaru di 2025. Kami melakukan berbagai langkah untuk menekan kasus, salah satunya memperluas edukasi kepada masyarakat,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

    Menurut Bachtiar, warga yang telah teridentifikasi memiliki risiko atau gejala akan diarahkan ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan lanjutan. Ia menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan diri dan menerapkan pola hidup sehat.

    “Masyarakat diharapkan aktif melakukan deteksi dini dan rutin mengecek kondisi kesehatan di faskes,” tambahnya.

    Dokter spesialis bedah onkologi RSUD Taman Husada Bontang, Johan Gomar Gama mengatakan keterlambatan penanganan kanker payudara memiliki risiko fatal. Pada kanker payudara stadium empat, tingkat harapan hidup lima tahun hanya tersisa dua hingga tiga pasien.

    “Selebihnya meninggal dalam beberapa bulan setelah diagnosis,” jelasnya.

    Sementara itu, Dokter umum Puskesmas Bontang Barat, Eka Resti Melati Suci Lestari mengatakan kanker serviks masih menjadi penyebab kematian kedua terbanyak pada perempuan Indonesia setelah kanker payudara. 

    Tingkat insidensinya mencapai 16 dari 100 perempuan, sedangkan kanker payudara mencapai 38 dari 100 perempuan.

    Ia menyebut sekitar 38 perempuan Indonesia terdiagnosis kanker serviks setiap hari, dengan penyebab utama infeksi Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18.

    “Kanker serviks bisa menyerang perempuan dari berbagai usia, termasuk remaja dan dewasa,” ujarnya.

    Wanita yang akrab disapa dokter Eka itu menekankan pentingnya mengenali gejala awal seperti perubahan jenis keputihan. Ia juga menyoroti program imunisasi HPV bagi siswa kelas V dan VI sekolah dasar sebagai langkah pencegahan jangka panjang.

    “Dengan deteksi dini dan imunisasi, angka kanker serviks di Bontang dapat ditekan,” tegasnya.

    (Sf/Lo)