Seputar Kaltim

    Anggaran Dipangkas, Festival Belian Adat Paser Nondoi PPU Tetap Digelar Oktober

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    26 Agustus 2026 pukul 17:55 WITA

    Menari Ronggeng bersama menjadi bagian dari rangkaian Festival Belian Adat Paser Nondoi 2025. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) tetap menggelar Festival Belian Adat Paser Nondoi pada Oktober 2026, meski anggaran pelaksanaannya dipangkas jauh dibanding tahun-tahun sebelumnya.

    Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) PPU menyiapkan anggaran sekitar Rp200 juta untuk pelaksanaan festival yang direncanakan berlangsung selama tiga hari.

    Kepala Disbudpar PPU, Safwana, mengatakan keterbatasan anggaran membuat sejumlah kegiatan pendukung harus dikurangi. Namun, ritual utama Festival Nondoi tetap dipertahankan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan adat. 

    "Festival Nondoi tetap kita gelar, rencananya di bulan Oktober, walaupun dengan anggaran yang berkurang jauh dari tahun-tahun sebelumnya," ujar Safwana, Rabu (26/8/2026).

    Menurutnya, Disbudpar masih akan menggelar rapat untuk mematangkan konsep pelaksanaan festival. 

    Sejumlah kegiatan yang sifatnya tidak wajib akan disesuaikan dengan kemampuan anggaran.

    "Ritual belian itu harus ada. Kegiatan yang sifatnya tidak wajib itu kita kurangi," tegasnya.

    Plh Kabid Kebudayaan Disbudpar PPU, Budi Setyo mengatakan konsep Festival Belian Adat Paser Nondoi tahun ini yang wajib dilaksanakan adalah Ritual Belian dan Melarung Jakit. 

    Dalam pelaksanaannya, Disbudpar juga tetap mengupayakan tampilan seni budaya yang menjadi wadah bagi budayawan di daerah.  Sementara sejumlah agenda pendukung, seperti lomba olahraga tradisional, pelibatan UMKM, dan subsektor ekonomi kreatif, masih disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

    Untuk durasi pelaksanaan, pihak dia masih menunggu hasil pembahasan bersama masyarakat adat. Sebab, pelaksanaan ritual Nondoi memiliki ketentuan adat yang harus diperhatikan.

    "Nanti kita sesuaikan, tapi ritualnya harus. Masalah jumlah hari tergantung orang adat yang menghitung. Kalau tidak cukup tujuh hari tujuh malam, apakah ada hari pengganti," kata Budi.

    Festival Nondoi pada dasarnya merupakan ritual adat Paser yang dimaknai sebagai upaya membersihkan kampung dari hal-hal buruk serta memohon keselamatan bagi masyarakat.

    Gelaran festival tidak semata menjadi agenda pertunjukan budaya. Ritual belian menjadi bagian penting sebagai bentuk doa bersama, penghormatan terhadap alam dan leluhur, sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Anggaran Dipangkas, Festival Belian Adat Paser Nondoi PPU Tetap Digelar Oktober

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    26 Agustus 2026 pukul 17:55 WITA

    Menari Ronggeng bersama menjadi bagian dari rangkaian Festival Belian Adat Paser Nondoi 2025. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) tetap menggelar Festival Belian Adat Paser Nondoi pada Oktober 2026, meski anggaran pelaksanaannya dipangkas jauh dibanding tahun-tahun sebelumnya.

    Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) PPU menyiapkan anggaran sekitar Rp200 juta untuk pelaksanaan festival yang direncanakan berlangsung selama tiga hari.

    Kepala Disbudpar PPU, Safwana, mengatakan keterbatasan anggaran membuat sejumlah kegiatan pendukung harus dikurangi. Namun, ritual utama Festival Nondoi tetap dipertahankan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan adat. 

    "Festival Nondoi tetap kita gelar, rencananya di bulan Oktober, walaupun dengan anggaran yang berkurang jauh dari tahun-tahun sebelumnya," ujar Safwana, Rabu (26/8/2026).

    Menurutnya, Disbudpar masih akan menggelar rapat untuk mematangkan konsep pelaksanaan festival. 

    Sejumlah kegiatan yang sifatnya tidak wajib akan disesuaikan dengan kemampuan anggaran.

    "Ritual belian itu harus ada. Kegiatan yang sifatnya tidak wajib itu kita kurangi," tegasnya.

    Plh Kabid Kebudayaan Disbudpar PPU, Budi Setyo mengatakan konsep Festival Belian Adat Paser Nondoi tahun ini yang wajib dilaksanakan adalah Ritual Belian dan Melarung Jakit. 

    Dalam pelaksanaannya, Disbudpar juga tetap mengupayakan tampilan seni budaya yang menjadi wadah bagi budayawan di daerah.  Sementara sejumlah agenda pendukung, seperti lomba olahraga tradisional, pelibatan UMKM, dan subsektor ekonomi kreatif, masih disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

    Untuk durasi pelaksanaan, pihak dia masih menunggu hasil pembahasan bersama masyarakat adat. Sebab, pelaksanaan ritual Nondoi memiliki ketentuan adat yang harus diperhatikan.

    "Nanti kita sesuaikan, tapi ritualnya harus. Masalah jumlah hari tergantung orang adat yang menghitung. Kalau tidak cukup tujuh hari tujuh malam, apakah ada hari pengganti," kata Budi.

    Festival Nondoi pada dasarnya merupakan ritual adat Paser yang dimaknai sebagai upaya membersihkan kampung dari hal-hal buruk serta memohon keselamatan bagi masyarakat.

    Gelaran festival tidak semata menjadi agenda pertunjukan budaya. Ritual belian menjadi bagian penting sebagai bentuk doa bersama, penghormatan terhadap alam dan leluhur, sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

    (Sf/Lo)