Seputar Kaltim

    Anggaran Dipangkas dari Rp3,6 Miliar jadi Rp400 Juta, Disporapar Samarinda Tetap Prioritaskan Dua Festival Besar

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    19 Juni 2026 pukul 21:22 WITA

    Ilustrasi (Generate Gemini AI)

    Samarinda – Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Samarinda mengalami pemangkasan anggaran yang cukup drastis pada 2026. Dari semula sekitar Rp3,6 miliar, anggaran yang tersedia kini hanya tersisa sekitar Rp400 juta setelah kebijakan efisiensi anggaran diberlakukan. 

    Kendati anggaran mengalami pemangkasan signifikan, Disporapar memastikan sejumlah program prioritas, termasuk Festival Mahakam dan Festival Budaya Pampang, tetap akan dilaksanakan.

    Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Disporapar Samarinda, Diana P Juliadi, mengatakan kebijakan efisiensi membuat ruang gerak organisasi perangkat daerah menjadi sangat terbatas. 

    Sejumlah kegiatan yang sebelumnya rutin dilaksanakan terpaksa dikurangi bahkan ditiadakan untuk menyesuaikan kondisi keuangan daerah.

    “Sebelum efisiensi itu anggaran saya Rp3,6 miliar. Saat mengalami efisiensi, tinggal Rp400 juta,” ujar Diana, Jumat (19/6/2026).

    Menurutnya, sisa anggaran yang tersedia harus difokuskan untuk kebutuhan yang dianggap paling mendesak dan memiliki dampak langsung terhadap sektor pariwisata daerah. 

    Selain untuk memenuhi sejumlah kewajiban kontrak yang sudah berjalan, anggaran tersebut juga diprioritaskan untuk mendukung pelaksanaan Festival Mahakam dan Festival Budaya Pampang.

    Diana menjelaskan dua agenda tersebut tetap dipertahankan karena menjadi bagian dari kegiatan prioritas yang mendapat perhatian pemerintah daerah. Festival Mahakam selama ini menjadi salah satu agenda unggulan promosi pariwisata Kota Samarinda, sedangkan Festival Budaya Pampang dinilai penting untuk menjaga dan memperkenalkan warisan budaya lokal kepada masyarakat luas.

    Kondisi keterbatasan anggaran juga berdampak pada berbagai kegiatan pendukung promosi pariwisata. Program pameran yang sebelumnya rutin diikuti Disporapar di berbagai daerah kini tidak lagi mendapat alokasi anggaran. Begitu pula dengan kegiatan perjalanan dinas, rapat, hingga belanja konsumsi yang mengalami pemangkasan.

    “Kami perjalanan nol. Rapat, makan minum nol. Pameran yang biasanya beberapa kali dalam sebulan juga nol,” ungkapnya.

    Ia mengakui penyesuaian anggaran sempat menimbulkan tantangan dalam pelaksanaan program, termasuk saat berkoordinasi dengan panitia kegiatan maupun komunitas budaya yang mengharapkan dukungan lebih besar dari pemerintah.

    Terlepas dari itu, Diana meminta seluruh pihak memahami kondisi fiskal yang saat ini dihadapi pemerintah. Menurutnya, efisiensi anggaran bukan hanya terjadi di Disporapar, tetapi juga dirasakan oleh berbagai perangkat daerah lainnya.

    Di tengah keterbatasan tersebut, Disporapar tetap berupaya menjaga keberlangsungan agenda pariwisata yang memiliki dampak besar terhadap promosi daerah dan pergerakan ekonomi masyarakat. 

    Pemerintah berharap pelaksanaan Festival Mahakam dan Festival Budaya Pampang tetap mampu menarik kunjungan wisatawan sekaligus mendukung pelaku usaha lokal meskipun berlangsung dalam kondisi anggaran yang lebih terbatas dibanding tahun-tahun sebelumnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Anggaran Dipangkas dari Rp3,6 Miliar jadi Rp400 Juta, Disporapar Samarinda Tetap Prioritaskan Dua Festival Besar

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    19 Juni 2026 pukul 21:22 WITA

    Ilustrasi (Generate Gemini AI)

    Samarinda – Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Samarinda mengalami pemangkasan anggaran yang cukup drastis pada 2026. Dari semula sekitar Rp3,6 miliar, anggaran yang tersedia kini hanya tersisa sekitar Rp400 juta setelah kebijakan efisiensi anggaran diberlakukan. 

    Kendati anggaran mengalami pemangkasan signifikan, Disporapar memastikan sejumlah program prioritas, termasuk Festival Mahakam dan Festival Budaya Pampang, tetap akan dilaksanakan.

    Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Disporapar Samarinda, Diana P Juliadi, mengatakan kebijakan efisiensi membuat ruang gerak organisasi perangkat daerah menjadi sangat terbatas. 

    Sejumlah kegiatan yang sebelumnya rutin dilaksanakan terpaksa dikurangi bahkan ditiadakan untuk menyesuaikan kondisi keuangan daerah.

    “Sebelum efisiensi itu anggaran saya Rp3,6 miliar. Saat mengalami efisiensi, tinggal Rp400 juta,” ujar Diana, Jumat (19/6/2026).

    Menurutnya, sisa anggaran yang tersedia harus difokuskan untuk kebutuhan yang dianggap paling mendesak dan memiliki dampak langsung terhadap sektor pariwisata daerah. 

    Selain untuk memenuhi sejumlah kewajiban kontrak yang sudah berjalan, anggaran tersebut juga diprioritaskan untuk mendukung pelaksanaan Festival Mahakam dan Festival Budaya Pampang.

    Diana menjelaskan dua agenda tersebut tetap dipertahankan karena menjadi bagian dari kegiatan prioritas yang mendapat perhatian pemerintah daerah. Festival Mahakam selama ini menjadi salah satu agenda unggulan promosi pariwisata Kota Samarinda, sedangkan Festival Budaya Pampang dinilai penting untuk menjaga dan memperkenalkan warisan budaya lokal kepada masyarakat luas.

    Kondisi keterbatasan anggaran juga berdampak pada berbagai kegiatan pendukung promosi pariwisata. Program pameran yang sebelumnya rutin diikuti Disporapar di berbagai daerah kini tidak lagi mendapat alokasi anggaran. Begitu pula dengan kegiatan perjalanan dinas, rapat, hingga belanja konsumsi yang mengalami pemangkasan.

    “Kami perjalanan nol. Rapat, makan minum nol. Pameran yang biasanya beberapa kali dalam sebulan juga nol,” ungkapnya.

    Ia mengakui penyesuaian anggaran sempat menimbulkan tantangan dalam pelaksanaan program, termasuk saat berkoordinasi dengan panitia kegiatan maupun komunitas budaya yang mengharapkan dukungan lebih besar dari pemerintah.

    Terlepas dari itu, Diana meminta seluruh pihak memahami kondisi fiskal yang saat ini dihadapi pemerintah. Menurutnya, efisiensi anggaran bukan hanya terjadi di Disporapar, tetapi juga dirasakan oleh berbagai perangkat daerah lainnya.

    Di tengah keterbatasan tersebut, Disporapar tetap berupaya menjaga keberlangsungan agenda pariwisata yang memiliki dampak besar terhadap promosi daerah dan pergerakan ekonomi masyarakat. 

    Pemerintah berharap pelaksanaan Festival Mahakam dan Festival Budaya Pampang tetap mampu menarik kunjungan wisatawan sekaligus mendukung pelaku usaha lokal meskipun berlangsung dalam kondisi anggaran yang lebih terbatas dibanding tahun-tahun sebelumnya.

    (Sf/Rs)