Seputar Kaltim

    Anggaran Buku Fisik Nihil, Perpustakaan Samarinda Perkuat Koleksi Digital dan Gerakan Wakaf Literasi

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    20 Juli 2026 pukul 18:33 WITA

    Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Samarinda. (Foto: Arsensia Serlyani/ seputarfakta.com)

    Samarinda - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Samarinda tahun ini memfokuskan pengadaan koleksi melalui perpustakaan digital dengan alokasi anggaran sekitar Rp130 juta. 

    Sementara itu, pengadaan buku fisik belum dianggarkan sehingga kebutuhan koleksi cetak diupayakan melalui Gerakan Wakaf Literasi dan partisipasi masyarakat.

    Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Samarinda, Erham Yusuf, mengatakan penyesuaian anggaran menjadi salah satu alasan belum dialokasikannya dana untuk pengadaan buku fisik pada APBD tahun ini. 

    Kondisi tersebut membuat pihaknya mengoptimalkan layanan perpustakaan digital sekaligus mengajak masyarakat berkontribusi menambah koleksi melalui wakaf buku.

    "Sekarang kan kuenya kecil, tentu dibagi sesuai prioritas pemerintah. Karena itu kami juga melakukan upaya penggalangan buku dari masyarakat. Untuk pengadaan buku tahun ini yang ada sekitar Rp130 jutaan, tetapi itu khusus untuk koleksi digital. Kalau buku fisik belum ada anggarannya tahun ini, mudah-mudahan nanti bisa diusulkan pada perubahan anggaran," ujar Erham, Senin (20/7/2026).

    Menurutnya, pengembangan perpustakaan digital tetap berjalan optimal meski anggarannya tidak terlalu besar. 

    Ia memastikan pengelolaan anggaran dilakukan sesuai prosedur dan selama ini tidak pernah menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

    "Tidak ada masalah untuk perpustakaan digital. Yang penting seluruh administrasi dipenuhi. Selama ini juga kami selalu diaudit BPK dan belum ada temuan terkait pengelolaan layanan digital tersebut," ungkapnya.

    Erham menjelaskan, pada tahun lalu pengadaan buku fisik masih dianggarkan sekitar Rp160 juta, sedangkan anggaran koleksi digital nilainya jauh lebih kecil dibanding tahun ini. 

    Perubahan kebijakan tersebut merupakan bentuk penyesuaian terhadap kemampuan keuangan daerah.

    Di tengah keterbatasan anggaran, Dispusip tetap berupaya menjaga pertumbuhan koleksi melalui Gerakan Wakaf Literatur yang telah dicanangkan sejak 2021. 

    Program tersebut mengajak masyarakat menyumbangkan buku maupun benda-benda yang memiliki nilai literasi dan sejarah.

    "Kami mengajak masyarakat yang memiliki buku-buku, novel, atau referensi lain yang sudah tidak dimanfaatkan di rumah agar diserahkan ke perpustakaan. Ilmu pengetahuan tidak pernah kedaluwarsa. Buku yang masih layak baca akan jauh lebih bermanfaat jika bisa dibaca masyarakat dibanding hanya disimpan di rumah," pungkasnya.

    Tak hanya buku, Erham mengatakan pihaknya juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin mewakafkan benda-benda bersejarah atau teknologi lama, seperti mesin tik manual, telepon putar, kaset, maupun perangkat komunikasi lawas. 

    Menurutnya, benda-benda tersebut dapat menjadi referensi edukatif bagi generasi muda untuk mengenal perkembangan teknologi dari masa ke masa.

    Ke depan, Dispusip Samarinda juga akan memperkuat kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat, mulai dari yayasan pendidikan, pondok pesantren, tokoh agama hingga tokoh masyarakat guna memperluas budaya literasi di Kota Tepian.

    Ia berharap dukungan masyarakat melalui wakaf literasi dapat membantu memperkaya koleksi perpustakaan sekaligus meningkatkan minat baca di tengah keterbatasan anggaran pemerintah.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Anggaran Buku Fisik Nihil, Perpustakaan Samarinda Perkuat Koleksi Digital dan Gerakan Wakaf Literasi

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    20 Juli 2026 pukul 18:33 WITA

    Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Samarinda. (Foto: Arsensia Serlyani/ seputarfakta.com)

    Samarinda - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Samarinda tahun ini memfokuskan pengadaan koleksi melalui perpustakaan digital dengan alokasi anggaran sekitar Rp130 juta. 

    Sementara itu, pengadaan buku fisik belum dianggarkan sehingga kebutuhan koleksi cetak diupayakan melalui Gerakan Wakaf Literasi dan partisipasi masyarakat.

    Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Samarinda, Erham Yusuf, mengatakan penyesuaian anggaran menjadi salah satu alasan belum dialokasikannya dana untuk pengadaan buku fisik pada APBD tahun ini. 

    Kondisi tersebut membuat pihaknya mengoptimalkan layanan perpustakaan digital sekaligus mengajak masyarakat berkontribusi menambah koleksi melalui wakaf buku.

    "Sekarang kan kuenya kecil, tentu dibagi sesuai prioritas pemerintah. Karena itu kami juga melakukan upaya penggalangan buku dari masyarakat. Untuk pengadaan buku tahun ini yang ada sekitar Rp130 jutaan, tetapi itu khusus untuk koleksi digital. Kalau buku fisik belum ada anggarannya tahun ini, mudah-mudahan nanti bisa diusulkan pada perubahan anggaran," ujar Erham, Senin (20/7/2026).

    Menurutnya, pengembangan perpustakaan digital tetap berjalan optimal meski anggarannya tidak terlalu besar. 

    Ia memastikan pengelolaan anggaran dilakukan sesuai prosedur dan selama ini tidak pernah menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

    "Tidak ada masalah untuk perpustakaan digital. Yang penting seluruh administrasi dipenuhi. Selama ini juga kami selalu diaudit BPK dan belum ada temuan terkait pengelolaan layanan digital tersebut," ungkapnya.

    Erham menjelaskan, pada tahun lalu pengadaan buku fisik masih dianggarkan sekitar Rp160 juta, sedangkan anggaran koleksi digital nilainya jauh lebih kecil dibanding tahun ini. 

    Perubahan kebijakan tersebut merupakan bentuk penyesuaian terhadap kemampuan keuangan daerah.

    Di tengah keterbatasan anggaran, Dispusip tetap berupaya menjaga pertumbuhan koleksi melalui Gerakan Wakaf Literatur yang telah dicanangkan sejak 2021. 

    Program tersebut mengajak masyarakat menyumbangkan buku maupun benda-benda yang memiliki nilai literasi dan sejarah.

    "Kami mengajak masyarakat yang memiliki buku-buku, novel, atau referensi lain yang sudah tidak dimanfaatkan di rumah agar diserahkan ke perpustakaan. Ilmu pengetahuan tidak pernah kedaluwarsa. Buku yang masih layak baca akan jauh lebih bermanfaat jika bisa dibaca masyarakat dibanding hanya disimpan di rumah," pungkasnya.

    Tak hanya buku, Erham mengatakan pihaknya juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin mewakafkan benda-benda bersejarah atau teknologi lama, seperti mesin tik manual, telepon putar, kaset, maupun perangkat komunikasi lawas. 

    Menurutnya, benda-benda tersebut dapat menjadi referensi edukatif bagi generasi muda untuk mengenal perkembangan teknologi dari masa ke masa.

    Ke depan, Dispusip Samarinda juga akan memperkuat kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat, mulai dari yayasan pendidikan, pondok pesantren, tokoh agama hingga tokoh masyarakat guna memperluas budaya literasi di Kota Tepian.

    Ia berharap dukungan masyarakat melalui wakaf literasi dapat membantu memperkaya koleksi perpustakaan sekaligus meningkatkan minat baca di tengah keterbatasan anggaran pemerintah.

    (Sf/Rs)