Seputar Kaltim

    Andi Harun Sebut Tempat Ibadah Punya Peran Bantu Pemerintah dalam Pengentasan Kemiskinan

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    03 April 2025 pukul 08:52 WITA

    Wali Kota Samarinda, Andi Harun. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Wali Kota Samarinda, Andi Harun menilai bahwa masjid dan tempat ibadah lainnya memiliki peran strategis dalam membantu mengentaskan kemiskinan di Samarinda. 

    Ia menegaskan bahwa upaya ini harus terus dijalankan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh masyarakat, serta tempat ibadah.

    Andi Harun mengajak masjid, gereja, dan tempat ibadah lainnya untuk berperan aktif dalam membantu warga kurang mampu di sekitar mereka. 

    Menurutnya, tempat ibadah memiliki potensi besar dalam memberdayakan masyarakat, yang dapat mempercepat penurunan angka kemiskinan di Samarinda.

    Dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) tahun anggaran 2024 yang disampaikan dalam rapat paripurna pada Rabu, 26 Maret lalu, angka kemiskinan di Kota Samarinda tercatat mengalami penurunan. 

    Dari 4,81 persen pada 2023, angka tersebut berkurang menjadi 4,3 persen pada 2024. Selain itu, tingkat pengangguran juga mengalami penurunan dari 5,92 persen menjadi 5,75 persen.

    "Misalnya, di sebuah masjid terdapat sekitar 20 warga miskin. Tanpa harus menunggu bantuan dari pemerintah, masjid tersebut bisa langsung memberikan bantuan. Jika ada warga yang tempat tinggalnya tidak layak huni, masjid dapat berperan serta dalam program bedah rumah," ungkap Andi Harun belum lama ini.

    Meski pemerintah telah menjalankan program bedah rumah bekerja sama dengan perusahaan melalui skema Corporate Social Responsibility (CSR), ia mengakui bahwa cakupannya masih terbatas. 

    Oleh karena itu, ia mendorong tempat ibadah untuk ikut serta agar lebih banyak warga yang terbantu dan prosesnya bisa lebih cepat.

    "Jika ada tempat ibadah yang mampu membiayai bedah rumah bagi warga miskin, tentu itu akan sangat membantu. Tidak harus selesai dalam satu bulan, bisa dalam dua bulan atau lebih. Yang terpenting, tempat ibadah bisa berperan dalam menekan angka kemiskinan di sekitarnya," tambahnya.

    Selain itu, Andi Harun juga mengingatkan pengurus masjid agar dana infaq yang terkumpul tidak hanya disimpan, tetapi dimanfaatkan untuk kepentingan umat. 

    Ia mencontohkan bahwa jika sebuah masjid memiliki dana infaq hingga Rp400 juta dalam kurun waktu dua tahun, sebagian dari dana tersebut dapat digunakan untuk program pemberdayaan masyarakat. 

    Belum lagi jika ditambah dengan perolehan zakat. Apalagi besaran potensi zakat yang dihasilkan Samarinda sangat besar, menyentuh angka Rp180 miliar. 

    Jika seluruh tempat ibadah di Samarinda berpartisipasi aktif dalam gerakan ini, lanjutnya, maka dampak yang dirasakan akan sangat besar. Ia juga optimis bahwa Samarinda dapat menjadi model nasional dalam pembangunan masyarakat berbasis tempat ibadah.

    "Dengan demikian, tempat ibadah tidak hanya berfungsi sebagai pusat pembelajaran agama, tetapi juga sebagai sarana dalam mengentaskan kemiskinan dan mengatasi permasalahan sosial," tegasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Andi Harun Sebut Tempat Ibadah Punya Peran Bantu Pemerintah dalam Pengentasan Kemiskinan

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    03 April 2025 pukul 08:52 WITA

    Wali Kota Samarinda, Andi Harun. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Wali Kota Samarinda, Andi Harun menilai bahwa masjid dan tempat ibadah lainnya memiliki peran strategis dalam membantu mengentaskan kemiskinan di Samarinda. 

    Ia menegaskan bahwa upaya ini harus terus dijalankan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh masyarakat, serta tempat ibadah.

    Andi Harun mengajak masjid, gereja, dan tempat ibadah lainnya untuk berperan aktif dalam membantu warga kurang mampu di sekitar mereka. 

    Menurutnya, tempat ibadah memiliki potensi besar dalam memberdayakan masyarakat, yang dapat mempercepat penurunan angka kemiskinan di Samarinda.

    Dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) tahun anggaran 2024 yang disampaikan dalam rapat paripurna pada Rabu, 26 Maret lalu, angka kemiskinan di Kota Samarinda tercatat mengalami penurunan. 

    Dari 4,81 persen pada 2023, angka tersebut berkurang menjadi 4,3 persen pada 2024. Selain itu, tingkat pengangguran juga mengalami penurunan dari 5,92 persen menjadi 5,75 persen.

    "Misalnya, di sebuah masjid terdapat sekitar 20 warga miskin. Tanpa harus menunggu bantuan dari pemerintah, masjid tersebut bisa langsung memberikan bantuan. Jika ada warga yang tempat tinggalnya tidak layak huni, masjid dapat berperan serta dalam program bedah rumah," ungkap Andi Harun belum lama ini.

    Meski pemerintah telah menjalankan program bedah rumah bekerja sama dengan perusahaan melalui skema Corporate Social Responsibility (CSR), ia mengakui bahwa cakupannya masih terbatas. 

    Oleh karena itu, ia mendorong tempat ibadah untuk ikut serta agar lebih banyak warga yang terbantu dan prosesnya bisa lebih cepat.

    "Jika ada tempat ibadah yang mampu membiayai bedah rumah bagi warga miskin, tentu itu akan sangat membantu. Tidak harus selesai dalam satu bulan, bisa dalam dua bulan atau lebih. Yang terpenting, tempat ibadah bisa berperan dalam menekan angka kemiskinan di sekitarnya," tambahnya.

    Selain itu, Andi Harun juga mengingatkan pengurus masjid agar dana infaq yang terkumpul tidak hanya disimpan, tetapi dimanfaatkan untuk kepentingan umat. 

    Ia mencontohkan bahwa jika sebuah masjid memiliki dana infaq hingga Rp400 juta dalam kurun waktu dua tahun, sebagian dari dana tersebut dapat digunakan untuk program pemberdayaan masyarakat. 

    Belum lagi jika ditambah dengan perolehan zakat. Apalagi besaran potensi zakat yang dihasilkan Samarinda sangat besar, menyentuh angka Rp180 miliar. 

    Jika seluruh tempat ibadah di Samarinda berpartisipasi aktif dalam gerakan ini, lanjutnya, maka dampak yang dirasakan akan sangat besar. Ia juga optimis bahwa Samarinda dapat menjadi model nasional dalam pembangunan masyarakat berbasis tempat ibadah.

    "Dengan demikian, tempat ibadah tidak hanya berfungsi sebagai pusat pembelajaran agama, tetapi juga sebagai sarana dalam mengentaskan kemiskinan dan mengatasi permasalahan sosial," tegasnya.

    (Sf/Rs)