Seputar Kaltim

    Andi Harun Resmikan RS PrimeCare Samarinda, Soroti Investasi Kesehatan dan Serapan Tenaga Kerja Lokal

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    08 Agustus 2026 pukul 21:22 WITA

    CEO Primecare Hospital, John Kwari. Direktur RS Primecare Samarinda, dr. Boy E.R. Wajong, (Foto: Arsensia Serlyani/ seputarfakta.com)

    Samarinda — Wali Kota Samarinda Andi Harun menilai beroperasinya Rumah Sakit PrimeCare Samarinda tidak hanya memperluas layanan kesehatan, tetapi juga membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi masyarakat.

    Dalam sambutannya pada acara grand opening RS PrimeCare Samarinda, Andi Harun menyampaikan apresiasi kepada pihak rumah sakit yang telah berinvestasi di Kota Samarinda. 

    Ia menilai tambahan fasilitas kesehatan menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing kota.

    "Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Hadi Sunarto dan Ibu Ratna Suhartono, berserta keluarga yang telah melakukan investasi di Kota Samarinda. Pasti pengaruhnya sangat besar," ujar Andi Harun, Sabtu (8/8/2026).

    Menurutnya, dampak investasi tersebut tidak berhenti pada bertambahnya sarana pelayanan kesehatan. Kehadiran rumah sakit juga membuka lapangan pekerjaan dan berpotensi menggerakkan sektor ekonomi lain, mulai dari usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), warung hingga sektor perhotelan.

    Andi Harun menyebut sekitar 95 persen tenaga kerja yang terserap dari pembukaan rumah sakit tersebut berasal dari warga Samarinda, sebagaimana disampaikan pihak manajemen dalam acara peresmian.

    "Belum lagi nanti warung, hotel, UMKM, serta yang lain-lainnya yang merupakan multiplier effect dari kegiatan rumah sakit ini," ungkapnya.

    Andi Harun juga meminta jajaran Pemerintah Kota Samarinda memberikan dukungan terhadap investasi dan kegiatan usaha masyarakat. 

    Ia meminta perangkat daerah terkait, termasuk Dinas Kesehatan, kecamatan, kelurahan, pelayanan perizinan dan ketenagakerjaan, membantu memastikan kegiatan usaha berjalan sesuai aturan.

    Menurutnya, iklim usaha yang sehat membutuhkan tata kelola pemerintahan yang baik serta perlindungan dari berbagai bentuk gangguan.

    "Kota ini kalau mau bagus ke depan, kita harus selalu memperbaiki governance atau tata kelola. Kita tidak akan pernah bisa maju kalau kota ini masih ada premanismenya, masih ada gangguannya," tegasnya.

    Ia juga mengajak unsur aparat penegak hukum untuk ikut menciptakan lingkungan usaha yang aman sehingga investasi dan aktivitas ekonomi masyarakat dapat berkembang.

    Di sisi lain, Andi Harun mengingatkan pengelola RS Primecare agar tidak hanya mengejar tingkat keterisian pasien atau occupancy rate. 

    Menurutnya, pertumbuhan rumah sakit harus berjalan beriringan dengan peningkatan mutu pelayanan kesehatan.

    Ia meminta aspek lingkungan, termasuk pengelolaan limbah medis dan nonmedis, turut menjadi perhatian dalam pengoperasian rumah sakit.

    "Tidak hanya kita doakan occupancy rate-nya naik, tapi di saat yang sama kita harapkan pelayanan kesehatannya betul-betul prima, lingkungannya, pengelolaan limbah medis maupun nonmedisnya, dan semua hal yang berkaitan," katanya.

    Andi Harun juga mendorong RS Primecare mengembangkan pendekatan pelayanan kesehatan yang tidak hanya berorientasi pada pengobatan ketika masyarakat sudah sakit, tetapi juga memperkuat upaya pencegahan.

    Menurutnya, perkembangan pelayanan kesehatan modern mengarah pada pendekatan preventif. Rumah sakit diharapkan mampu menjadi tempat masyarakat memperoleh edukasi dan layanan yang membantu mencegah gangguan kesehatan sejak dini.

    "Jadi orang tidak datang ke rumah sakit hanya sekadar ingin berobat, tapi dia yakin bahwa datang ke rumah sakit juga bisa mencegah hal-hal yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat," tuturnya.

    RS Primecare Samarinda merupakan rumah sakit umum swasta kelas C yang berlokasi di Jalan Muso Salim, Kota Samarinda. 

    Data Kementerian Kesehatan mencatat rumah sakit tersebut memiliki layanan gawat darurat umum 24 jam serta sejumlah layanan medis lainnya. 

    Sebelumnya, pihak Primecare juga menyatakan pengembangan rumah sakit di Samarinda merupakan bagian dari upaya memperluas layanan kesehatan setelah sebelumnya hadir melalui jaringan klinik di kota tersebut. 

    Dalam kesempatan tersebut, Andi Harun juga menyampaikan bahwa pemerintah daerah akan terus mendukung kegiatan usaha masyarakat selama berjalan sesuai ketentuan. 

    Ia menegaskan pembangunan Samarinda tidak hanya bergantung pada siapa yang memimpin, tetapi membutuhkan rasa memiliki dari seluruh masyarakat.

    "Karena soal kota ini bukan soal siapa wali kotanya. Saya bisa come and go, saya bisa datang dan pergi, dan pasti akan pergi akhir 2030. Tapi yang tidak boleh pergi adalah cinta dan rasa memiliki Samarinda bagi kita semua," pungkasnya.

    Sementara itu, CEO PrimeCare John Kwari membeber, RS PrimeCare Samarinda hadir sebagai jawaban dari kebutuhan layanan kesehatan masyarakat Samarinda dan Kalimantan Timur yang tidak hanya punya teknologi tinggi, tetapi juga mengutamakan pengalaman pasien. 

    Selain itu, selama ini tidak sedikit masyarakat Kota Samarinda dan sekitarnya masih harus pergi ke luar daerah bahkan ke luar negeri seperti Malaysia, atau Singapura untuk mendapatkan layanan kesehatan. 

    "Kami berharap pasien yang biasa berobat ke luar negeri mereka tidak perlu lagi ke sana, dan bisa tetap di Samarinda saja. Bahkan yang harus ke luar Samarinda seperti Jakarta atau Surabaya, juga bisa terlayani di sini. Itu costnya besar. Lebih baik di Samarinda. Kami pastikan tarif sangat kompetitif dengan RS yang ada," ungkap John. 

    Sebagai salah satu keunggulan utama, Direktur RS PrimeCare Samarinda dr. Boy E.R. Wajong menyebut, rumah sakitnya bakal menjadi yang pertama dalam layanan dengan teknologi genomik, dengan alat berupa sequencer yang dapat mendeteksi penyakit-penyakit bersifat bawaan secara lebih dini dan akurat. 

    Dengan bangunan 4 lantai dengan total luas 11 ribu meter persegi di atas lahan seluas 8000 meter persegi, RS PrimeCare Samarinda punya total 16 Ruangan poliklinik dan ketersediaan 96 tempat tidur rawat inap. 

    "Ya ada tempat tidur standar 23, deluxe 22, VIP / Junior suite 25, Suite 1, Presiden Suite 1, Intensive 14 tempat tidur, HCU 2, ICU dewasa 5, PICU 2, NICU 4, Isolasi Intensif 1, dan Perina 4," jelas dr Boy. 

    Selain itu, RS PrimeCare Samarinda saat ditenagai total 130 karyawan dengan 95 persen adalah tenaga kerja asli Samarinda dan sekitarnya, dengan kurang lebih 52 dokter spesialis dan dokter umum, diantaranya 11 dokter tetap. 

    "Kami juga menyediakan beberapa Teknologi terupdate seperti Teknologi LASER HOLMIUM, yaitu alat penghancur batu ginjal dan Terapi Pembengkakan Prostat, disamping alat Teknologi standard C-ARM, CT Scan 126 slice, Lab dan Bank darah," beber Boy. 

    Berikutnya, lanjut Boy, teknologi informasi e-MR terkoneksi dengan Aplikasi SATU SEHAT Kementerian Kesehatan dan sistem integrasi informasi laboratorium (LIS) dan radiologi (PACS) untuk mempercepat hasil expertise pemeriksaan radiologi dan bisa memotong waktu tunggu penegakkan diagnose. 

    "Tujuan menjadi SMART HOSPITAL dengan Minimal Invasive Strategi," pungkasnya. 

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Andi Harun Resmikan RS PrimeCare Samarinda, Soroti Investasi Kesehatan dan Serapan Tenaga Kerja Lokal

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    08 Agustus 2026 pukul 21:22 WITA

    CEO Primecare Hospital, John Kwari. Direktur RS Primecare Samarinda, dr. Boy E.R. Wajong, (Foto: Arsensia Serlyani/ seputarfakta.com)

    Samarinda — Wali Kota Samarinda Andi Harun menilai beroperasinya Rumah Sakit PrimeCare Samarinda tidak hanya memperluas layanan kesehatan, tetapi juga membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi masyarakat.

    Dalam sambutannya pada acara grand opening RS PrimeCare Samarinda, Andi Harun menyampaikan apresiasi kepada pihak rumah sakit yang telah berinvestasi di Kota Samarinda. 

    Ia menilai tambahan fasilitas kesehatan menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing kota.

    "Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Hadi Sunarto dan Ibu Ratna Suhartono, berserta keluarga yang telah melakukan investasi di Kota Samarinda. Pasti pengaruhnya sangat besar," ujar Andi Harun, Sabtu (8/8/2026).

    Menurutnya, dampak investasi tersebut tidak berhenti pada bertambahnya sarana pelayanan kesehatan. Kehadiran rumah sakit juga membuka lapangan pekerjaan dan berpotensi menggerakkan sektor ekonomi lain, mulai dari usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), warung hingga sektor perhotelan.

    Andi Harun menyebut sekitar 95 persen tenaga kerja yang terserap dari pembukaan rumah sakit tersebut berasal dari warga Samarinda, sebagaimana disampaikan pihak manajemen dalam acara peresmian.

    "Belum lagi nanti warung, hotel, UMKM, serta yang lain-lainnya yang merupakan multiplier effect dari kegiatan rumah sakit ini," ungkapnya.

    Andi Harun juga meminta jajaran Pemerintah Kota Samarinda memberikan dukungan terhadap investasi dan kegiatan usaha masyarakat. 

    Ia meminta perangkat daerah terkait, termasuk Dinas Kesehatan, kecamatan, kelurahan, pelayanan perizinan dan ketenagakerjaan, membantu memastikan kegiatan usaha berjalan sesuai aturan.

    Menurutnya, iklim usaha yang sehat membutuhkan tata kelola pemerintahan yang baik serta perlindungan dari berbagai bentuk gangguan.

    "Kota ini kalau mau bagus ke depan, kita harus selalu memperbaiki governance atau tata kelola. Kita tidak akan pernah bisa maju kalau kota ini masih ada premanismenya, masih ada gangguannya," tegasnya.

    Ia juga mengajak unsur aparat penegak hukum untuk ikut menciptakan lingkungan usaha yang aman sehingga investasi dan aktivitas ekonomi masyarakat dapat berkembang.

    Di sisi lain, Andi Harun mengingatkan pengelola RS Primecare agar tidak hanya mengejar tingkat keterisian pasien atau occupancy rate. 

    Menurutnya, pertumbuhan rumah sakit harus berjalan beriringan dengan peningkatan mutu pelayanan kesehatan.

    Ia meminta aspek lingkungan, termasuk pengelolaan limbah medis dan nonmedis, turut menjadi perhatian dalam pengoperasian rumah sakit.

    "Tidak hanya kita doakan occupancy rate-nya naik, tapi di saat yang sama kita harapkan pelayanan kesehatannya betul-betul prima, lingkungannya, pengelolaan limbah medis maupun nonmedisnya, dan semua hal yang berkaitan," katanya.

    Andi Harun juga mendorong RS Primecare mengembangkan pendekatan pelayanan kesehatan yang tidak hanya berorientasi pada pengobatan ketika masyarakat sudah sakit, tetapi juga memperkuat upaya pencegahan.

    Menurutnya, perkembangan pelayanan kesehatan modern mengarah pada pendekatan preventif. Rumah sakit diharapkan mampu menjadi tempat masyarakat memperoleh edukasi dan layanan yang membantu mencegah gangguan kesehatan sejak dini.

    "Jadi orang tidak datang ke rumah sakit hanya sekadar ingin berobat, tapi dia yakin bahwa datang ke rumah sakit juga bisa mencegah hal-hal yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat," tuturnya.

    RS Primecare Samarinda merupakan rumah sakit umum swasta kelas C yang berlokasi di Jalan Muso Salim, Kota Samarinda. 

    Data Kementerian Kesehatan mencatat rumah sakit tersebut memiliki layanan gawat darurat umum 24 jam serta sejumlah layanan medis lainnya. 

    Sebelumnya, pihak Primecare juga menyatakan pengembangan rumah sakit di Samarinda merupakan bagian dari upaya memperluas layanan kesehatan setelah sebelumnya hadir melalui jaringan klinik di kota tersebut. 

    Dalam kesempatan tersebut, Andi Harun juga menyampaikan bahwa pemerintah daerah akan terus mendukung kegiatan usaha masyarakat selama berjalan sesuai ketentuan. 

    Ia menegaskan pembangunan Samarinda tidak hanya bergantung pada siapa yang memimpin, tetapi membutuhkan rasa memiliki dari seluruh masyarakat.

    "Karena soal kota ini bukan soal siapa wali kotanya. Saya bisa come and go, saya bisa datang dan pergi, dan pasti akan pergi akhir 2030. Tapi yang tidak boleh pergi adalah cinta dan rasa memiliki Samarinda bagi kita semua," pungkasnya.

    Sementara itu, CEO PrimeCare John Kwari membeber, RS PrimeCare Samarinda hadir sebagai jawaban dari kebutuhan layanan kesehatan masyarakat Samarinda dan Kalimantan Timur yang tidak hanya punya teknologi tinggi, tetapi juga mengutamakan pengalaman pasien. 

    Selain itu, selama ini tidak sedikit masyarakat Kota Samarinda dan sekitarnya masih harus pergi ke luar daerah bahkan ke luar negeri seperti Malaysia, atau Singapura untuk mendapatkan layanan kesehatan. 

    "Kami berharap pasien yang biasa berobat ke luar negeri mereka tidak perlu lagi ke sana, dan bisa tetap di Samarinda saja. Bahkan yang harus ke luar Samarinda seperti Jakarta atau Surabaya, juga bisa terlayani di sini. Itu costnya besar. Lebih baik di Samarinda. Kami pastikan tarif sangat kompetitif dengan RS yang ada," ungkap John. 

    Sebagai salah satu keunggulan utama, Direktur RS PrimeCare Samarinda dr. Boy E.R. Wajong menyebut, rumah sakitnya bakal menjadi yang pertama dalam layanan dengan teknologi genomik, dengan alat berupa sequencer yang dapat mendeteksi penyakit-penyakit bersifat bawaan secara lebih dini dan akurat. 

    Dengan bangunan 4 lantai dengan total luas 11 ribu meter persegi di atas lahan seluas 8000 meter persegi, RS PrimeCare Samarinda punya total 16 Ruangan poliklinik dan ketersediaan 96 tempat tidur rawat inap. 

    "Ya ada tempat tidur standar 23, deluxe 22, VIP / Junior suite 25, Suite 1, Presiden Suite 1, Intensive 14 tempat tidur, HCU 2, ICU dewasa 5, PICU 2, NICU 4, Isolasi Intensif 1, dan Perina 4," jelas dr Boy. 

    Selain itu, RS PrimeCare Samarinda saat ditenagai total 130 karyawan dengan 95 persen adalah tenaga kerja asli Samarinda dan sekitarnya, dengan kurang lebih 52 dokter spesialis dan dokter umum, diantaranya 11 dokter tetap. 

    "Kami juga menyediakan beberapa Teknologi terupdate seperti Teknologi LASER HOLMIUM, yaitu alat penghancur batu ginjal dan Terapi Pembengkakan Prostat, disamping alat Teknologi standard C-ARM, CT Scan 126 slice, Lab dan Bank darah," beber Boy. 

    Berikutnya, lanjut Boy, teknologi informasi e-MR terkoneksi dengan Aplikasi SATU SEHAT Kementerian Kesehatan dan sistem integrasi informasi laboratorium (LIS) dan radiologi (PACS) untuk mempercepat hasil expertise pemeriksaan radiologi dan bisa memotong waktu tunggu penegakkan diagnose. 

    "Tujuan menjadi SMART HOSPITAL dengan Minimal Invasive Strategi," pungkasnya. 

    (Sf/Rs)