Seputar Kaltim

    Ancaman Karhutla dan Krisis Air Bersih di Kaltim, Dinkes Ingatkan Waspada ISPA hingga Diare

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    29 Juli 2026 pukul 16:08 WITA

    Ancaman Karhutla di wilayah Kaltim ditunjukkan dengan cuaca yang mencapai status merah. (Foto: BPBD)

    Samarinda - Memasuki akhir Juli hingga awal Agustus 2026, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dihadapkan pada ancaman musiman berupa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta krisis kekeringan. 

    Berdasarkan peta peringatan dini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan, indeks kemudahan karhutla atau Fine Fuel Moisture Code (FFMC) di sebagian besar wilayah Kaltim menunjukkan status warna merah dengan tingkat kekeringan bahan ringan di atas angka 82 yang sangat mudah terbakar.

    Kondisi cuaca yang ekstrem dan kering ini tidak hanya memicu kekhawatiran terhadap bencana lingkungan, tetapi juga membawa dampak serius bagi kesehatan masyarakat. 

    Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Jaya Mualimin, mengingatkan bahwa musim kemarau panjang sangat identik dengan lonjakan kasus penyakit saluran pernapasan serta ancaman pencemaran sumber air bersih yang berpotensi memicu wabah penyakit di tengah masyarakat.

    Menurut Jaya Mualimin, ancaman kesehatan yang paling dominan muncul pada periode musim kemarau adalah infeksi saluran pernapasan akut atau yang lebih dikenal sebagai ISPA. 

    Oleh karena itu, pihaknya telah menggerakkan berbagai langkah preventif di tengah masyarakat, termasuk menggencarkan kampanye Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

    "Ya, kalau untuk musim kemarau tentu lebih banyak pada penyakit-penyakit saluran nafas ya. Infeksi saluran nafas atau ISPA. Dan kita sudah melakukan upaya pencegahan ya, termasuk juga PHBS ya. Jadi program hidup bersih ya di masyarakat ya, terutama juga cuci tangan yang dilakukan dengan menggunakan sabun dalam melakukan segala aktivitas ya," ujar Jaya Mualimin.

    Selain ancaman ISPA akibat debu dan potensi asap karhutla, tantangan besar lainnya yang menyertai musim kemarau adalah ketersediaan air bersih. 

    Penurunan debit air dan mengeringnya sumur-sumur warga menuntut kewaspadaan tinggi dalam pemanfaatan sumber air sehari-hari agar masyarakat tidak menggunakan air yang sudah tercemar.

    Jaya Mualimin menekankan bahwa krisis air bersih dapat menjadi pemicu utama timbulnya berbagai penyakit berbasis lingkungan, mulai dari diare hingga penyakit berbahaya yang ditularkan oleh hewan pengerat seperti tikus.

    Jaya Mualimin menekankan bahwa saat kekeringan melanda, fokus utama harus diarahkan pada penjagaan kualitas sumber air bersih harian. Penurunan debit air akibat kemarau berisiko membuat masyarakat terpaksa menggunakan genangan atau sumber air yang kurang higienis.

    "Untuk mengantisipasi kekeringan, kita harus sangat memperhatikan sumber air bersih. Jangan sampai menggunakan air yang sudah tercemar atau kotor. Air yang tercemar ini bisa memicu diare, hingga demam kuning yang disebabkan oleh kencing tikus," tegasnya.

    Melihat eskalasi peta karhutla yang kian meluas dengan dominasi warna merah di berbagai kabupaten/kota di Kaltim pada awal Agustus 2026 ini, Dinas Kesehatan bersama instansi lintas sektoral terus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan. 

    Disiplin menerapkan kebersihan diri, menjaga higienitas sumber air minum, serta menghindari segala bentuk pembakaran lahan terbuka menjadi kunci utama untuk menekan risiko bencana ganda baik dari sisi lingkungan maupun kesehatan warga.

    (Sf/Rs)

    SeedBacklink Media

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Seputar Kaltim

    Ancaman Karhutla dan Krisis Air Bersih di Kaltim, Dinkes Ingatkan Waspada ISPA hingga Diare

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    29 Juli 2026 pukul 16:08 WITA

    Ancaman Karhutla di wilayah Kaltim ditunjukkan dengan cuaca yang mencapai status merah. (Foto: BPBD)

    Samarinda - Memasuki akhir Juli hingga awal Agustus 2026, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dihadapkan pada ancaman musiman berupa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta krisis kekeringan. 

    Berdasarkan peta peringatan dini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan, indeks kemudahan karhutla atau Fine Fuel Moisture Code (FFMC) di sebagian besar wilayah Kaltim menunjukkan status warna merah dengan tingkat kekeringan bahan ringan di atas angka 82 yang sangat mudah terbakar.

    Kondisi cuaca yang ekstrem dan kering ini tidak hanya memicu kekhawatiran terhadap bencana lingkungan, tetapi juga membawa dampak serius bagi kesehatan masyarakat. 

    Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Jaya Mualimin, mengingatkan bahwa musim kemarau panjang sangat identik dengan lonjakan kasus penyakit saluran pernapasan serta ancaman pencemaran sumber air bersih yang berpotensi memicu wabah penyakit di tengah masyarakat.

    Menurut Jaya Mualimin, ancaman kesehatan yang paling dominan muncul pada periode musim kemarau adalah infeksi saluran pernapasan akut atau yang lebih dikenal sebagai ISPA. 

    Oleh karena itu, pihaknya telah menggerakkan berbagai langkah preventif di tengah masyarakat, termasuk menggencarkan kampanye Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

    "Ya, kalau untuk musim kemarau tentu lebih banyak pada penyakit-penyakit saluran nafas ya. Infeksi saluran nafas atau ISPA. Dan kita sudah melakukan upaya pencegahan ya, termasuk juga PHBS ya. Jadi program hidup bersih ya di masyarakat ya, terutama juga cuci tangan yang dilakukan dengan menggunakan sabun dalam melakukan segala aktivitas ya," ujar Jaya Mualimin.

    Selain ancaman ISPA akibat debu dan potensi asap karhutla, tantangan besar lainnya yang menyertai musim kemarau adalah ketersediaan air bersih. 

    Penurunan debit air dan mengeringnya sumur-sumur warga menuntut kewaspadaan tinggi dalam pemanfaatan sumber air sehari-hari agar masyarakat tidak menggunakan air yang sudah tercemar.

    Jaya Mualimin menekankan bahwa krisis air bersih dapat menjadi pemicu utama timbulnya berbagai penyakit berbasis lingkungan, mulai dari diare hingga penyakit berbahaya yang ditularkan oleh hewan pengerat seperti tikus.

    Jaya Mualimin menekankan bahwa saat kekeringan melanda, fokus utama harus diarahkan pada penjagaan kualitas sumber air bersih harian. Penurunan debit air akibat kemarau berisiko membuat masyarakat terpaksa menggunakan genangan atau sumber air yang kurang higienis.

    "Untuk mengantisipasi kekeringan, kita harus sangat memperhatikan sumber air bersih. Jangan sampai menggunakan air yang sudah tercemar atau kotor. Air yang tercemar ini bisa memicu diare, hingga demam kuning yang disebabkan oleh kencing tikus," tegasnya.

    Melihat eskalasi peta karhutla yang kian meluas dengan dominasi warna merah di berbagai kabupaten/kota di Kaltim pada awal Agustus 2026 ini, Dinas Kesehatan bersama instansi lintas sektoral terus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan. 

    Disiplin menerapkan kebersihan diri, menjaga higienitas sumber air minum, serta menghindari segala bentuk pembakaran lahan terbuka menjadi kunci utama untuk menekan risiko bencana ganda baik dari sisi lingkungan maupun kesehatan warga.

    (Sf/Rs)