Seputar Kaltim

    Ancaman Gelombang Tinggi, BMKG Sebut Pesisir Berau Perlu Alat Observasi Laut

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    08 Januari 2026 pukul 12:00 WITA

    Kepala BMKG Berau, Ade Heryadi. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Berau mendorong penambahan alat observasi laut di wilayah perairan Berau. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan akurasi informasi cuaca laut sekaligus meminimalkan risiko akibat gelombang tinggi yang kerap terjadi secara tiba-tiba di kawasan pesisir.

    Kepala BMKG Berau, Ade Heryadi, mengatakan bahwa kondisi perairan Berau memiliki potensi ancaman serius, khususnya bagi aktivitas pelayaran dan nelayan. Terlebih mengingat wilayah pesisir Berau juga menjadi destinasi wisata unggulan Kabupaten Berau.

    "Alat ukur untuk observasi laut memang diperlukan," ujar Ade.

    Ia menjelaskan, saat ini BMKG Berau hanya dapat memberikan prakiraan tinggi gelombang laut maksimal untuk tujuh hari ke depan. Informasi tersebut pun diberikan berdasarkan permintaan pengguna atau user.

    "Untuk tinggi gelombang kita memberikan informasi maksimal tujuh hari ke depan. Jadi kita bisa melayani user yang meminta informasi itu dalam tujuh hari yang akan datang," jelasnya.

    Untuk prakiraan jangka panjang, lanjutnya, BMKG baru bisa menyampaikan gambaran klimatologis dan data iklim berupa data rata-rata, baik tinggi gelombang maupun kecepatan angin.

    Oleh karena itu, menurutnya, alat observasi laut sangat dibutuhkan untuk memperoleh data kondisi riil perairan. Data tersebut tidak hanya digunakan untuk prakiraan cuaca, tetapi juga untuk memantau anomali laut seperti perubahan arus dan kenaikan muka air laut.

    "Mudah-mudahan ke depan kita bisa bersinergi, baik BMKG maupun pemerintah daerah, untuk menyediakan alat ukur kondisi riil di perairan Berau," ujarnya.

    Ia menyebut saat ini, alat pengukur muka air laut (tide gauge) yang memenuhi kualifikasi nasional telah terpasang di Pelabuhan Tanjung Batu dan merupakan milik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

    Ke depan, BMKG juga mempertimbangkan penambahan alat serupa di wilayah lain seperti Maratua, agar jaringan pengamatan laut semakin rapat dan data yang dihasilkan lebih akurat.

    "Semakin rapat tentu semakin bagus. Di Maratua juga perlu dipasang alat pengukur muka air laut tersebut, selain juga untuk mengukur arus dan kondisi perairan lainnya," katanya.

    Ade berharap pemasangan alat tambahan dapat direalisasikan dalam waktu dekat, meski masih bergantung pada kesiapan lokasi, anggaran dan dukungan pemerintah daerah.

    "Kalau rencana sih mudah-mudahan tahun ini, tapi kembali lagi ke kondisi keuangannya seperti apa," tandasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Ancaman Gelombang Tinggi, BMKG Sebut Pesisir Berau Perlu Alat Observasi Laut

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    08 Januari 2026 pukul 12:00 WITA

    Kepala BMKG Berau, Ade Heryadi. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Berau mendorong penambahan alat observasi laut di wilayah perairan Berau. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan akurasi informasi cuaca laut sekaligus meminimalkan risiko akibat gelombang tinggi yang kerap terjadi secara tiba-tiba di kawasan pesisir.

    Kepala BMKG Berau, Ade Heryadi, mengatakan bahwa kondisi perairan Berau memiliki potensi ancaman serius, khususnya bagi aktivitas pelayaran dan nelayan. Terlebih mengingat wilayah pesisir Berau juga menjadi destinasi wisata unggulan Kabupaten Berau.

    "Alat ukur untuk observasi laut memang diperlukan," ujar Ade.

    Ia menjelaskan, saat ini BMKG Berau hanya dapat memberikan prakiraan tinggi gelombang laut maksimal untuk tujuh hari ke depan. Informasi tersebut pun diberikan berdasarkan permintaan pengguna atau user.

    "Untuk tinggi gelombang kita memberikan informasi maksimal tujuh hari ke depan. Jadi kita bisa melayani user yang meminta informasi itu dalam tujuh hari yang akan datang," jelasnya.

    Untuk prakiraan jangka panjang, lanjutnya, BMKG baru bisa menyampaikan gambaran klimatologis dan data iklim berupa data rata-rata, baik tinggi gelombang maupun kecepatan angin.

    Oleh karena itu, menurutnya, alat observasi laut sangat dibutuhkan untuk memperoleh data kondisi riil perairan. Data tersebut tidak hanya digunakan untuk prakiraan cuaca, tetapi juga untuk memantau anomali laut seperti perubahan arus dan kenaikan muka air laut.

    "Mudah-mudahan ke depan kita bisa bersinergi, baik BMKG maupun pemerintah daerah, untuk menyediakan alat ukur kondisi riil di perairan Berau," ujarnya.

    Ia menyebut saat ini, alat pengukur muka air laut (tide gauge) yang memenuhi kualifikasi nasional telah terpasang di Pelabuhan Tanjung Batu dan merupakan milik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

    Ke depan, BMKG juga mempertimbangkan penambahan alat serupa di wilayah lain seperti Maratua, agar jaringan pengamatan laut semakin rapat dan data yang dihasilkan lebih akurat.

    "Semakin rapat tentu semakin bagus. Di Maratua juga perlu dipasang alat pengukur muka air laut tersebut, selain juga untuk mengukur arus dan kondisi perairan lainnya," katanya.

    Ade berharap pemasangan alat tambahan dapat direalisasikan dalam waktu dekat, meski masih bergantung pada kesiapan lokasi, anggaran dan dukungan pemerintah daerah.

    "Kalau rencana sih mudah-mudahan tahun ini, tapi kembali lagi ke kondisi keuangannya seperti apa," tandasnya.

    (Sf/Rs)