Seputar Kaltim

    Ancam Organ Paru Anak, Dampak Karhutla dan El Nino Picu Krisis Kesehatan di Paser

    Penulis:Padliannor|Redaktur:Rusdianto
    30 September 2026 pukul 22:28 WITA

    Coffee Morning Karhutla: Penanganan, Dampak dan Pemulihan IDI Paser. (Foto: Padliannor/seputarfakta.com)

    Tana Paser - Kabupaten Paser saat ini menghadapi ancaman krisis kesehatan menyusul meluasnya dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

    Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Paser, dr Hadi Wijaya pada saat kegiatan Coffee Morning yang diselenggarakan oleh IDI Paser, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Paser, KAHMI Paser dan KAINA untuk membahas penanganan, dampak dan pemulihan Karhutla.

    dr Ahmad Hadi Wijaya menyebut lonjakan pasien ISPA didominasi oleh kelompok rentan, khususnya anak-anak yang kini memadati berbagai fasilitas kesehatan mulai dari klinik hingga RSUD Panglima Sebaya. Anak-anak menjadi korban paling rentan akibat paparan asap karhutla yang mengepung wilayah Paser.

    Menurutnya, anak-anak mengalami risiko tertinggi kerusakan jaringan paru-paru lantaran organ pernapasan mereka masih dalam tahap perkembangan dan pertumbuhan.

    "Risiko tertinggi ada pada anak-anak karena organ perpasan mereka masih dalam tahap pertumbuhan," kata dr Hadi, Rabu (30/9/2026).

    Bahaya asap karhutla itu tidak hanya terletak pada kepekatannya, melainkan juga kandungan racun berbahaya dari material lahan terbakar yang terhirup langsung oleh warga.

    Sementara Dokter Spesialis Paru RSUD Panglima Sebaya, dr Ahmad Rifani menjelaskan zat-zat beracun dari asap tersebut berpotensi memicu gangguan pernapasan akut hingga dampak jangka panjang bagi saluran pernapasan.

    Kondisi kesehatan masyarakat kian terancam seiring dengan penurunan kualitas udara di Kabupaten Paser yang kini telah resmi masuk dalam kategori tidak sehat.

    Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Paser mencatat fenomena iklim El Nino menjadi salah satu pemicu utama yang memperparah siklus cuaca ekstrem dan memperluas sebaran titik panas.

    Kepala DLH Paser, Achmad Safari mengungkapkan terdapat tiga wilayah dengan kontribusi titik panas dan karhutla terbesar, yakni Kecamatan Tanah Grogot, Paser Belengkong, dan Batu Engau.

    Kebakaran di ketiga kecamatan tersebut dilaporkan telah melahap sekitar 50 hektare lahan gambut serta mendorong tingkat kerusakan alam di wilayah Paser hingga mencapai perkiraan 80 persen.

    "Fenomena El Nino menjadi pemicu utama yang mengakibatkan cuaca ekstrem saat ini," ucapnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Ancam Organ Paru Anak, Dampak Karhutla dan El Nino Picu Krisis Kesehatan di Paser

    Penulis:Padliannor|Redaktur:Rusdianto
    30 September 2026 pukul 22:28 WITA

    Coffee Morning Karhutla: Penanganan, Dampak dan Pemulihan IDI Paser. (Foto: Padliannor/seputarfakta.com)

    Tana Paser - Kabupaten Paser saat ini menghadapi ancaman krisis kesehatan menyusul meluasnya dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

    Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Paser, dr Hadi Wijaya pada saat kegiatan Coffee Morning yang diselenggarakan oleh IDI Paser, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Paser, KAHMI Paser dan KAINA untuk membahas penanganan, dampak dan pemulihan Karhutla.

    dr Ahmad Hadi Wijaya menyebut lonjakan pasien ISPA didominasi oleh kelompok rentan, khususnya anak-anak yang kini memadati berbagai fasilitas kesehatan mulai dari klinik hingga RSUD Panglima Sebaya. Anak-anak menjadi korban paling rentan akibat paparan asap karhutla yang mengepung wilayah Paser.

    Menurutnya, anak-anak mengalami risiko tertinggi kerusakan jaringan paru-paru lantaran organ pernapasan mereka masih dalam tahap perkembangan dan pertumbuhan.

    "Risiko tertinggi ada pada anak-anak karena organ perpasan mereka masih dalam tahap pertumbuhan," kata dr Hadi, Rabu (30/9/2026).

    Bahaya asap karhutla itu tidak hanya terletak pada kepekatannya, melainkan juga kandungan racun berbahaya dari material lahan terbakar yang terhirup langsung oleh warga.

    Sementara Dokter Spesialis Paru RSUD Panglima Sebaya, dr Ahmad Rifani menjelaskan zat-zat beracun dari asap tersebut berpotensi memicu gangguan pernapasan akut hingga dampak jangka panjang bagi saluran pernapasan.

    Kondisi kesehatan masyarakat kian terancam seiring dengan penurunan kualitas udara di Kabupaten Paser yang kini telah resmi masuk dalam kategori tidak sehat.

    Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Paser mencatat fenomena iklim El Nino menjadi salah satu pemicu utama yang memperparah siklus cuaca ekstrem dan memperluas sebaran titik panas.

    Kepala DLH Paser, Achmad Safari mengungkapkan terdapat tiga wilayah dengan kontribusi titik panas dan karhutla terbesar, yakni Kecamatan Tanah Grogot, Paser Belengkong, dan Batu Engau.

    Kebakaran di ketiga kecamatan tersebut dilaporkan telah melahap sekitar 50 hektare lahan gambut serta mendorong tingkat kerusakan alam di wilayah Paser hingga mencapai perkiraan 80 persen.

    "Fenomena El Nino menjadi pemicu utama yang mengakibatkan cuaca ekstrem saat ini," ucapnya.

    (Sf/Rs)