Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala Biro Kesra Setdaprov Kaltim, Dasmiah. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) melalui Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) mengakui adanya kendala dalam kecepatan pelayanan terhadap mahasiswa.
Hal ini dipicu oleh ketimpangan jumlah petugas admin dengan total mahasiswa yang harus dilayani.
Kepala Biro Kesra Setdaprov Kaltim, Dasmiah, mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa saat ini pihaknya hanya didukung oleh 10 orang tenaga admin.
Padahal, jumlah mahasiswa di Kaltim yang menjadi target layanan mencapai kisaran 100.000 orang.
"Kami menyadari kapasitas kami terbatas karena anggaran. Tenaga admin itu cuma 10 orang. Coba bayangkan jika harus melayani seluruh mahasiswa Kaltim yang jumlahnya kurang lebih 100 ribu, antrean yang masuk ke WhatsApp sangat banyak," ujar Dasmiah, Senin (2/2/2026).
Dasmiah menjelaskan, dengan rasio tersebut, satu orang admin rata-rata harus melayani hingga 100 orang dalam sehari. Beban kerja mereka pun ganda, selain membalas pesan keluhan, mereka juga harus memverifikasi berkas yang masuk.
"Mereka harus memverifikasi data, jadi biasanya malam baru sempat menjawab chat. Makanya kami mohon mahasiswa bersabar, pasti dijawab tapi harus bergantian," tambahnya.
Selain faktor jumlah SDM, Dasmiah menyoroti masalah serius lainnya, yakni rendahnya tingkat literasi atau minat baca para pelamar dalam memahami petunjuk teknis.
Menurut Dasmiah, banyak pertanyaan yang menumpuk di meja admin sebenarnya adalah hal-hal dasar yang sudah tertera di panduan. Namun, karena budaya ingin serba cepat, banyak pelamar yang enggan membaca tuntas.
"Saya mengimbau kepada masyarakat, khususnya mahasiswa, agar budaya literasinya dikembangkan. Kalau dibaca pelan-pelan, sebenarnya pengisian itu mudah dan tidak perlu ditanyakan," tegasnya.
Ia sering mendapati kasus dimana pelamar terburu-buru melakukan scrolling ke bawah, sehingga melewatkan informasi penting yang ada di sisi kanan layar atau bagian atas. Akibatnya, terjadi kesalahan pengisian yang berujung pada komplain ke admin.
"Jangan karena ingin cepat selesai, bacanya dilewat-lewat, akhirnya salah, lalu menyalahkan admin dan tidak sabar. Kuncinya ada di literasi membaca," pungkasnya.
Sebagai informasi, ke-10 admin yang bertugas saat ini merupakan tenaga eksternal yang direkrut khusus (bukan ASN Kesra) untuk membantu mempercepat proses verifikasi data mahasiswa di Kaltim.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala Biro Kesra Setdaprov Kaltim, Dasmiah. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) melalui Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) mengakui adanya kendala dalam kecepatan pelayanan terhadap mahasiswa.
Hal ini dipicu oleh ketimpangan jumlah petugas admin dengan total mahasiswa yang harus dilayani.
Kepala Biro Kesra Setdaprov Kaltim, Dasmiah, mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa saat ini pihaknya hanya didukung oleh 10 orang tenaga admin.
Padahal, jumlah mahasiswa di Kaltim yang menjadi target layanan mencapai kisaran 100.000 orang.
"Kami menyadari kapasitas kami terbatas karena anggaran. Tenaga admin itu cuma 10 orang. Coba bayangkan jika harus melayani seluruh mahasiswa Kaltim yang jumlahnya kurang lebih 100 ribu, antrean yang masuk ke WhatsApp sangat banyak," ujar Dasmiah, Senin (2/2/2026).
Dasmiah menjelaskan, dengan rasio tersebut, satu orang admin rata-rata harus melayani hingga 100 orang dalam sehari. Beban kerja mereka pun ganda, selain membalas pesan keluhan, mereka juga harus memverifikasi berkas yang masuk.
"Mereka harus memverifikasi data, jadi biasanya malam baru sempat menjawab chat. Makanya kami mohon mahasiswa bersabar, pasti dijawab tapi harus bergantian," tambahnya.
Selain faktor jumlah SDM, Dasmiah menyoroti masalah serius lainnya, yakni rendahnya tingkat literasi atau minat baca para pelamar dalam memahami petunjuk teknis.
Menurut Dasmiah, banyak pertanyaan yang menumpuk di meja admin sebenarnya adalah hal-hal dasar yang sudah tertera di panduan. Namun, karena budaya ingin serba cepat, banyak pelamar yang enggan membaca tuntas.
"Saya mengimbau kepada masyarakat, khususnya mahasiswa, agar budaya literasinya dikembangkan. Kalau dibaca pelan-pelan, sebenarnya pengisian itu mudah dan tidak perlu ditanyakan," tegasnya.
Ia sering mendapati kasus dimana pelamar terburu-buru melakukan scrolling ke bawah, sehingga melewatkan informasi penting yang ada di sisi kanan layar atau bagian atas. Akibatnya, terjadi kesalahan pengisian yang berujung pada komplain ke admin.
"Jangan karena ingin cepat selesai, bacanya dilewat-lewat, akhirnya salah, lalu menyalahkan admin dan tidak sabar. Kuncinya ada di literasi membaca," pungkasnya.
Sebagai informasi, ke-10 admin yang bertugas saat ini merupakan tenaga eksternal yang direkrut khusus (bukan ASN Kesra) untuk membantu mempercepat proses verifikasi data mahasiswa di Kaltim.
(Sf/Rs)