Seputar Kaltim

    Aksi Mahasiswa di Depan Gedung DPRD Berakhir Ricuh, Ditemukan Sajam dan Bom Molotov

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    23 Agustus 2024 pukul 21:38 WITA

    Para massa disiram air oleh pihak kepolisian ketika tak kunjung membubarkan diri di depan Gedung DPRD Kaltim, Jumat (23/8/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Aksi unjuk rasa yang digelar oleh mahasiswa dari berbagai universitas yang ada di Samarinda di depan Gedung DPRD Kaltim pada hari ini berakhir dengan kericuhan, dan ditemukan senjata tajam (sajam) serta bom molotov. 

    Aksi semula berjalan dengan baik. Mulai memanas ketika perwakilan dari DPRD tak kunjung menemui para demonstran. 

    Massa mencoba merusak pagar besi dengan tiang papan iklan yang sudah dirobohkan. Tak henti disitu, beberapa kali para peserta aksi pun melempar botol air mineral, batu dan tanah ke dalam gerbang. Mereka juga membakar spanduk dan ban tepat di depan gerbang kantor wakil rakyat itu. 

    Situasi semakin memanas sesaat setelah Wakil Ketua DPRD Kaltim, Muhammad Samsun keluar dari singgasananya menemui para massa sekitar pukul 17.00 WITA. Peserta demonstrasi itu tetap memaksa masuk ke dalam gedung, berusaha meruntuhkan pagar besi itu. 

    Pukul 18.00 WITA, peserta aksi tak kunjung membubarkan diri, masih dengan semangat membara untuk merobohkan pintu gerbang. Hingga akhirnya aparat kepolisian bertindak, meluncurkan semprotan air, menyiram para peserta aksi. 

    Meski sudah basah kuyup, mereka tetap pada pendiriannya, hingga dipukul mundur oleh aparat kepolisian dengan armada lapis bajanya. 

    Pihak kepolisian yang bertugas mengamankan jalannya aksi ini mendapati beberapa insiden kekerasan yang melibatkan pengunjuk rasa.

    Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Ary, dalam keterangannya menyampaikan bahwa sajam yang ditemukan diduga kuat milik pengunjuk rasa. 

    "Sajam itu pasti kita duga milik dari pengunjuk rasa, karena tadi kita temukan di lokasi aksi," ujar Ary. 

    Ia juga mengungkapkan bahwa salah satu anggotanya mengalami luka bakar di bagian mulut akibat terkena lemparan bom molotov, sementara seorang anggota lainnya mengalami luka pada bagian bawah mata akibat lemparan batu.

    Meski situasi pengamanan berjalan baik dan keinginan pengunjuk rasa telah difasilitasi, kericuhan tak terhindarkan. 

    Ia mengaku kecewa dengan komitmen yang dimiliki para pengunjuk rasa. Terlebih menurutnya semua keinginan dari pengunjuk rasa sudah difasilitasi. 

    "Bahkan anggota dewan juga sudah hadir untuk menemui mereka. Namun, setelah ditemui, pengunjuk rasa tidak bisa memegang komitmen, akhirnya melakukan pelemparan pohon, botol, dan merusak sarana prasarana yang ada. Mereka juga melempar anggota dengan bom molotov dan batu, bahkan ada yang membawa sajam," bebernya.

    Pihak kepolisian akan menindaklanjuti temuan sajam tersebut dan menegaskan bahwa tindakan kekerasan dalam bentuk apapun tidak akan ditoleransi. 

    "Sampaikan aspirasi dengan santun dan tertib, karena budaya itu harus kita jaga untuk menjaga Samarinda sebagai kota yang beradab dan patuh aturan. Keamanan seluruh warga merupakan prioritas utama bagi kami," tegasnya.

    Kericuhan mereda sekitar pukul 18.30, ketika semua peserta demonstrasi digiring keluar menuju Jalan Tengkawang, di depan Kantor Dinas PUPR-PERA Kaltim. 

    Akibat kejadian itu, arus lalu lintas juga sempat terganggu.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Aksi Mahasiswa di Depan Gedung DPRD Berakhir Ricuh, Ditemukan Sajam dan Bom Molotov

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    23 Agustus 2024 pukul 21:38 WITA

    Para massa disiram air oleh pihak kepolisian ketika tak kunjung membubarkan diri di depan Gedung DPRD Kaltim, Jumat (23/8/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Aksi unjuk rasa yang digelar oleh mahasiswa dari berbagai universitas yang ada di Samarinda di depan Gedung DPRD Kaltim pada hari ini berakhir dengan kericuhan, dan ditemukan senjata tajam (sajam) serta bom molotov. 

    Aksi semula berjalan dengan baik. Mulai memanas ketika perwakilan dari DPRD tak kunjung menemui para demonstran. 

    Massa mencoba merusak pagar besi dengan tiang papan iklan yang sudah dirobohkan. Tak henti disitu, beberapa kali para peserta aksi pun melempar botol air mineral, batu dan tanah ke dalam gerbang. Mereka juga membakar spanduk dan ban tepat di depan gerbang kantor wakil rakyat itu. 

    Situasi semakin memanas sesaat setelah Wakil Ketua DPRD Kaltim, Muhammad Samsun keluar dari singgasananya menemui para massa sekitar pukul 17.00 WITA. Peserta demonstrasi itu tetap memaksa masuk ke dalam gedung, berusaha meruntuhkan pagar besi itu. 

    Pukul 18.00 WITA, peserta aksi tak kunjung membubarkan diri, masih dengan semangat membara untuk merobohkan pintu gerbang. Hingga akhirnya aparat kepolisian bertindak, meluncurkan semprotan air, menyiram para peserta aksi. 

    Meski sudah basah kuyup, mereka tetap pada pendiriannya, hingga dipukul mundur oleh aparat kepolisian dengan armada lapis bajanya. 

    Pihak kepolisian yang bertugas mengamankan jalannya aksi ini mendapati beberapa insiden kekerasan yang melibatkan pengunjuk rasa.

    Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Ary, dalam keterangannya menyampaikan bahwa sajam yang ditemukan diduga kuat milik pengunjuk rasa. 

    "Sajam itu pasti kita duga milik dari pengunjuk rasa, karena tadi kita temukan di lokasi aksi," ujar Ary. 

    Ia juga mengungkapkan bahwa salah satu anggotanya mengalami luka bakar di bagian mulut akibat terkena lemparan bom molotov, sementara seorang anggota lainnya mengalami luka pada bagian bawah mata akibat lemparan batu.

    Meski situasi pengamanan berjalan baik dan keinginan pengunjuk rasa telah difasilitasi, kericuhan tak terhindarkan. 

    Ia mengaku kecewa dengan komitmen yang dimiliki para pengunjuk rasa. Terlebih menurutnya semua keinginan dari pengunjuk rasa sudah difasilitasi. 

    "Bahkan anggota dewan juga sudah hadir untuk menemui mereka. Namun, setelah ditemui, pengunjuk rasa tidak bisa memegang komitmen, akhirnya melakukan pelemparan pohon, botol, dan merusak sarana prasarana yang ada. Mereka juga melempar anggota dengan bom molotov dan batu, bahkan ada yang membawa sajam," bebernya.

    Pihak kepolisian akan menindaklanjuti temuan sajam tersebut dan menegaskan bahwa tindakan kekerasan dalam bentuk apapun tidak akan ditoleransi. 

    "Sampaikan aspirasi dengan santun dan tertib, karena budaya itu harus kita jaga untuk menjaga Samarinda sebagai kota yang beradab dan patuh aturan. Keamanan seluruh warga merupakan prioritas utama bagi kami," tegasnya.

    Kericuhan mereda sekitar pukul 18.30, ketika semua peserta demonstrasi digiring keluar menuju Jalan Tengkawang, di depan Kantor Dinas PUPR-PERA Kaltim. 

    Akibat kejadian itu, arus lalu lintas juga sempat terganggu.

    (Sf/Rs)