Seputar Kaltim

    Akses Kesehatan Sulit, Pemkab Kutim Kirim Dokter Spesialis ke Desa Pesisir Sandaran

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    09 Mei 2026 pukul 19:44 WITA

    Pelayanan kesehatan (Foto: Ilustrasi AI)

    Sangatta - Bagi sebagian warga di wilayah pesisir Kecamatan Sandaran, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), sakit bukan hanya soal kondisi tubuh, tetapi juga perjuangan panjang menembus akses yang terbatas.

    Selama ini, warga di desa-desa pesisir harus menempuh perjalanan jauh melalui jalur darat dengan kondisi jalan yang rusak hanya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak. 

    Tidak sedikit masyarakat yang memilih berobat ke Sangkulirang karena dianggap lebih mudah dijangkau dibanding menuju pusat kecamatan sendiri atau ke Sangatta.

    Di wilayah yang dipisahkan jarak dan infrastruktur minim itu, bertemu dokter spesialis menjadi sesuatu yang jarang dirasakan masyarakat.

    Pelaksana Tugas (Plt) Camat Sandaran, Mulyadi, mengatakan kondisi akses jalan dan jarak tempuh masih menjadi kendala utama masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.

    "Selama ini masyarakat lebih banyak berobat ke Sangkulirang karena jaraknya dinilai lebih dekat dibanding harus menuju pusat kecamatan atau kabupaten," ujar Mulyadi.

    Kondisi tersebut menjadi gambaran tantangan masyarakat pesisir dalam memperoleh layanan kesehatan dasar. Saat ibu hamil membutuhkan pemeriksaan rutin, anak mengalami sakit, atau warga lanjut usia memerlukan penanganan medis, perjalanan panjang sering kali tidak dapat dihindari.

    Kini, harapan itu mulai mendekat ke desa-desa pesisir. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim menjalankan program Pelayanan Kesehatan Bergerak pada 2026 untuk menjangkau wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan akses layanan kesehatan.

    Program jemput bola tersebut difokuskan di empat desa di Kecamatan Sandaran, yakni Desa Marukangan, Susuk Tengah, Susuk Dalam, dan Susuk Luar.

    Sekretaris Dinas Kesehatan Kutim, Triana Nur, menjelaskan wilayah Sandaran dan Susuk masih menghadapi sejumlah persoalan kesehatan dasar yang memerlukan perhatian serius.

    Beberapa tantangan yang masih dihadapi di antaranya tingginya angka kematian ibu, angka kematian anak, hingga prevalensi stunting di kawasan pesisir.

    “Kegiatan ini bertujuan menurunkan angka kematian ibu dan anak serta mengurangi stunting di wilayah Sandaran,” kata Triana.

    Dalam pelaksanaannya, program tersebut menghadirkan layanan dokter spesialis langsung ke desa-desa. Tim medis yang diterjunkan terdiri dari dokter spesialis kandungan, spesialis anak, spesialis penyakit dalam, hingga spesialis bedah.

    Bagi masyarakat yang selama ini kesulitan mengakses pelayanan kesehatan lanjutan, kedatangan tenaga medis menjadi kabar yang disambut antusias. Warga kini tidak harus lagi menghabiskan waktu berjam-jam menempuh perjalanan hanya untuk bertemu dokter spesialis.

    Program kesehatan bergerak itu juga menjadi pengembangan dari layanan Rumah Sakit Kapal yang sebelumnya telah dijalankan pemerintah daerah.

    Namun demikian, pemerintah menilai masih terdapat sejumlah wilayah pesisir yang belum dapat dijangkau kapal layanan kesehatan karena keterbatasan titik sandar, sehingga pelayanan medis melalui jalur darat tetap diperlukan.

    Di tengah keterbatasan akses yang selama ini dihadapi masyarakat pesisir, kehadiran dokter spesialis langsung ke desa menjadi lebih dari sekadar pelayanan kesehatan. Bagi warga Sandaran, layanan itu menjadi tanda bahwa perhatian pemerintah perlahan mulai hadir lebih dekat ke wilayah pesisir.

    (Sf/RS)

    Seputar Kaltim

    Akses Kesehatan Sulit, Pemkab Kutim Kirim Dokter Spesialis ke Desa Pesisir Sandaran

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    09 Mei 2026 pukul 19:44 WITA

    Pelayanan kesehatan (Foto: Ilustrasi AI)

    Sangatta - Bagi sebagian warga di wilayah pesisir Kecamatan Sandaran, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), sakit bukan hanya soal kondisi tubuh, tetapi juga perjuangan panjang menembus akses yang terbatas.

    Selama ini, warga di desa-desa pesisir harus menempuh perjalanan jauh melalui jalur darat dengan kondisi jalan yang rusak hanya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak. 

    Tidak sedikit masyarakat yang memilih berobat ke Sangkulirang karena dianggap lebih mudah dijangkau dibanding menuju pusat kecamatan sendiri atau ke Sangatta.

    Di wilayah yang dipisahkan jarak dan infrastruktur minim itu, bertemu dokter spesialis menjadi sesuatu yang jarang dirasakan masyarakat.

    Pelaksana Tugas (Plt) Camat Sandaran, Mulyadi, mengatakan kondisi akses jalan dan jarak tempuh masih menjadi kendala utama masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.

    "Selama ini masyarakat lebih banyak berobat ke Sangkulirang karena jaraknya dinilai lebih dekat dibanding harus menuju pusat kecamatan atau kabupaten," ujar Mulyadi.

    Kondisi tersebut menjadi gambaran tantangan masyarakat pesisir dalam memperoleh layanan kesehatan dasar. Saat ibu hamil membutuhkan pemeriksaan rutin, anak mengalami sakit, atau warga lanjut usia memerlukan penanganan medis, perjalanan panjang sering kali tidak dapat dihindari.

    Kini, harapan itu mulai mendekat ke desa-desa pesisir. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim menjalankan program Pelayanan Kesehatan Bergerak pada 2026 untuk menjangkau wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan akses layanan kesehatan.

    Program jemput bola tersebut difokuskan di empat desa di Kecamatan Sandaran, yakni Desa Marukangan, Susuk Tengah, Susuk Dalam, dan Susuk Luar.

    Sekretaris Dinas Kesehatan Kutim, Triana Nur, menjelaskan wilayah Sandaran dan Susuk masih menghadapi sejumlah persoalan kesehatan dasar yang memerlukan perhatian serius.

    Beberapa tantangan yang masih dihadapi di antaranya tingginya angka kematian ibu, angka kematian anak, hingga prevalensi stunting di kawasan pesisir.

    “Kegiatan ini bertujuan menurunkan angka kematian ibu dan anak serta mengurangi stunting di wilayah Sandaran,” kata Triana.

    Dalam pelaksanaannya, program tersebut menghadirkan layanan dokter spesialis langsung ke desa-desa. Tim medis yang diterjunkan terdiri dari dokter spesialis kandungan, spesialis anak, spesialis penyakit dalam, hingga spesialis bedah.

    Bagi masyarakat yang selama ini kesulitan mengakses pelayanan kesehatan lanjutan, kedatangan tenaga medis menjadi kabar yang disambut antusias. Warga kini tidak harus lagi menghabiskan waktu berjam-jam menempuh perjalanan hanya untuk bertemu dokter spesialis.

    Program kesehatan bergerak itu juga menjadi pengembangan dari layanan Rumah Sakit Kapal yang sebelumnya telah dijalankan pemerintah daerah.

    Namun demikian, pemerintah menilai masih terdapat sejumlah wilayah pesisir yang belum dapat dijangkau kapal layanan kesehatan karena keterbatasan titik sandar, sehingga pelayanan medis melalui jalur darat tetap diperlukan.

    Di tengah keterbatasan akses yang selama ini dihadapi masyarakat pesisir, kehadiran dokter spesialis langsung ke desa menjadi lebih dari sekadar pelayanan kesehatan. Bagi warga Sandaran, layanan itu menjadi tanda bahwa perhatian pemerintah perlahan mulai hadir lebih dekat ke wilayah pesisir.

    (Sf/RS)