Cari disini...
Seputar Kaltim
Rumah warga yang mengalami kerusakan akibat pergeseran tanah di Perumahan Keledang Mas. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Bencana amblasannya tanah di kawasan perbukitan Perumahan Keledang Mas, RT 19 dan 20 Kota Samarinda semakin meluas.
Informasi yang dihimpun seputarfakta.com, sudah ada 19 rumah di Blok BS, Blok BW dan Blok BR yang terdampak sehingga membuat warga gelisah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda sendiri sudah mengadakan rapat pasca kejadian dan kini dilanjutkan kajian bersama tim ahli geologi dari Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) pada Sabtu (3/6/2023) lalu.
Telaah tim ahli geologi yang disampaikan pada rapat Senin (5/6/2023) hari ini menghasilkan beberapa point, yakni lokasi longsor masuk dalam kelas lereng yang curam dengan kemerengan 70 persen.
Selanjutnya, batuan di lokasi longsor tersusun oleh batu pasir berukuran sedang hingga kasar di bagian atas yang bersifat mudah lepas, di bawahnya terdapat perselingan batu pasir dan batu lempung yang bersifat kenyal serta mudah mengembang dan licin.
Tim pun merekomendasikan warga untuk oindah sementara waktu, sebab mereka akan melakukan pemotongan lereng guna mengurangi beban dorong pada longsoran.
Untuk drainase yang di bawah harus dikerjakan dan juga dapat dilakukan pemasangan bor pile guna menahan gerakan tanah sedalam 18 meter hingga bertemu batuan keras.
Rekomendasi tersebut masih menjadi pembahasan kembali, sebab banyak masukan dari beberapa pihak yang mengikuti rapat, termasuk pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso mengatakan masih memberikan waktu selama seminggu untuk melakukan penyesuaian terhadap pengembang dan dimulai pengerjaan.
"Tadi ada usul dari DLH bahwa ini perlu pengkajian lebih mendalam lagi, perlu memadukan tata cara memotongnya bagaimana, apakah harus dibuat aliran, termasuk teknik pembuangan tanah tersebut dan peralatan apa yang dibutuhkan. Ini juga masuk dalam rapat hari ini, namun belum mendalam," ungkapnya.
Dengan semua kontribusi tersebut, Suwarso optimis penanggulangan bencana ini segera teratasi dan pihaknya juga tidak ingin buru-buru.
"Jadi catatannya kita tidak mau gegabah karena jangan sampai penanganan ini justru menimbulkan dampak bencana lebih besar dan mudah-mudahan ini cepat selesai walaupun harus tertunda waktunya," terangnya.
Untuk warga, dari 19 rumah yang terdampak, baru lima rumah yang telah pindah. "Ada bantuan untuk warga terdampak karena rumah itu sangat rawan ditempati, sehingga harus menyewa atau mengungsi ketempat yang aman," pungkasnya.
Kepala RT 20, Aspiransyah mengatakan para warga ingin melakukan penindakan dengan cepat. "Kami hanya menginginkan tindakan dari pemerintah dengan cepat, agar ini tidak menimbulkan kerusakan lebih parah lagi," tutupnya.
(Sf/By)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Rumah warga yang mengalami kerusakan akibat pergeseran tanah di Perumahan Keledang Mas. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Bencana amblasannya tanah di kawasan perbukitan Perumahan Keledang Mas, RT 19 dan 20 Kota Samarinda semakin meluas.
Informasi yang dihimpun seputarfakta.com, sudah ada 19 rumah di Blok BS, Blok BW dan Blok BR yang terdampak sehingga membuat warga gelisah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda sendiri sudah mengadakan rapat pasca kejadian dan kini dilanjutkan kajian bersama tim ahli geologi dari Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) pada Sabtu (3/6/2023) lalu.
Telaah tim ahli geologi yang disampaikan pada rapat Senin (5/6/2023) hari ini menghasilkan beberapa point, yakni lokasi longsor masuk dalam kelas lereng yang curam dengan kemerengan 70 persen.
Selanjutnya, batuan di lokasi longsor tersusun oleh batu pasir berukuran sedang hingga kasar di bagian atas yang bersifat mudah lepas, di bawahnya terdapat perselingan batu pasir dan batu lempung yang bersifat kenyal serta mudah mengembang dan licin.
Tim pun merekomendasikan warga untuk oindah sementara waktu, sebab mereka akan melakukan pemotongan lereng guna mengurangi beban dorong pada longsoran.
Untuk drainase yang di bawah harus dikerjakan dan juga dapat dilakukan pemasangan bor pile guna menahan gerakan tanah sedalam 18 meter hingga bertemu batuan keras.
Rekomendasi tersebut masih menjadi pembahasan kembali, sebab banyak masukan dari beberapa pihak yang mengikuti rapat, termasuk pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso mengatakan masih memberikan waktu selama seminggu untuk melakukan penyesuaian terhadap pengembang dan dimulai pengerjaan.
"Tadi ada usul dari DLH bahwa ini perlu pengkajian lebih mendalam lagi, perlu memadukan tata cara memotongnya bagaimana, apakah harus dibuat aliran, termasuk teknik pembuangan tanah tersebut dan peralatan apa yang dibutuhkan. Ini juga masuk dalam rapat hari ini, namun belum mendalam," ungkapnya.
Dengan semua kontribusi tersebut, Suwarso optimis penanggulangan bencana ini segera teratasi dan pihaknya juga tidak ingin buru-buru.
"Jadi catatannya kita tidak mau gegabah karena jangan sampai penanganan ini justru menimbulkan dampak bencana lebih besar dan mudah-mudahan ini cepat selesai walaupun harus tertunda waktunya," terangnya.
Untuk warga, dari 19 rumah yang terdampak, baru lima rumah yang telah pindah. "Ada bantuan untuk warga terdampak karena rumah itu sangat rawan ditempati, sehingga harus menyewa atau mengungsi ketempat yang aman," pungkasnya.
Kepala RT 20, Aspiransyah mengatakan para warga ingin melakukan penindakan dengan cepat. "Kami hanya menginginkan tindakan dari pemerintah dengan cepat, agar ini tidak menimbulkan kerusakan lebih parah lagi," tutupnya.
(Sf/By)