Seputar Kaltim

    Akibat Bendungan Jembol, Puluhan Rumah di Rapak Lambur Terendam Banjir

    Penulis:Muhammad Anshori|Redaktur:Buniyamin
    02 Juli 2024 pukul 20:08 WITA

    Rumah warga Desa Rapak Lambur yang terendam banjir. Tampak bekas banjir di dinding rumah warga berbekas dan menguning. (Foto: Eko Tryono)

    Tenggarong - Puluhan rumah warga di RT 10 dan 12, Desa Rapak Lambur, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terendam banjir.

    Banjir ini sendiri diduga akibat jebolnya bendungan perusahaan tambang batu bara di sekitar pemukiman warga. Selain rumah, banjir juga merendam lahan pertanian warga setempat. Peristiwa itu kemudian viral di media sosial (medsos) Instagram.

    Dalam video itu, salah satu warga mengatakan kejadian banjir itu disebabkan karena bendungan tambang yag tidak jauh dari pemukiman warga jebol. "Ini akibat tambang ilegal tanpa irigasi," ucap warga dalam video tersebut.

    Kepala Desa (Kades) Rapak Lambur, Muhammad Yusuf mengaku banjir tersebut diakibatkan oleh curah hujan yang tinggi, sehingga menyebabkan air naik dan merendam lahan pertanian warga.

    "Di sana memang selokannya kecil, ditambah dengan adanya aktivitas tambang, sehingga aliran air tak bisa jalan. Sampah juga menumpuk di selokan itu dan air tertahan yang menyebabkan banjir naik, serta merendam lahan warga," ungkapnya.

    Ia menyebut video yang viral di media sosial instagram tersebut terjadi pada Senin (1/7/2024) kemarin. "Banjir kemarin berlangsung hingga dua jam," sebutnya.

    Untuk mengantisipasi banjir tersebut, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan perusahaan terkait didampingi Bhabinkamtibmas guna mencari solusi.

    "Kita juga minta solusi kepada perusahaan agar ketika hujan, tidak terjadi banjir karena sangat merugikan sekali bagi lahan warga," ucapnya.

    Warga yang terdampak akibat kejadian tersebut mencapai 30 Kepala Keluarga (KK) dua RT 10 dan RT 12.

    Ia berharap perusahaan dapat memberikan solusi terbaik, seperti menimbun kembali galian tambang agar aliran air bisa berjalan dengan lancar.

    "Semoga ini yang terakhir. Kalau terjadi lagi, pemerintah desa bersama masayarakat akan turun tangan," tegasnya.

    (Sf/By)

    Seputar Kaltim

    Akibat Bendungan Jembol, Puluhan Rumah di Rapak Lambur Terendam Banjir

    Penulis:Muhammad Anshori|Redaktur:Buniyamin
    02 Juli 2024 pukul 20:08 WITA

    Rumah warga Desa Rapak Lambur yang terendam banjir. Tampak bekas banjir di dinding rumah warga berbekas dan menguning. (Foto: Eko Tryono)

    Tenggarong - Puluhan rumah warga di RT 10 dan 12, Desa Rapak Lambur, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terendam banjir.

    Banjir ini sendiri diduga akibat jebolnya bendungan perusahaan tambang batu bara di sekitar pemukiman warga. Selain rumah, banjir juga merendam lahan pertanian warga setempat. Peristiwa itu kemudian viral di media sosial (medsos) Instagram.

    Dalam video itu, salah satu warga mengatakan kejadian banjir itu disebabkan karena bendungan tambang yag tidak jauh dari pemukiman warga jebol. "Ini akibat tambang ilegal tanpa irigasi," ucap warga dalam video tersebut.

    Kepala Desa (Kades) Rapak Lambur, Muhammad Yusuf mengaku banjir tersebut diakibatkan oleh curah hujan yang tinggi, sehingga menyebabkan air naik dan merendam lahan pertanian warga.

    "Di sana memang selokannya kecil, ditambah dengan adanya aktivitas tambang, sehingga aliran air tak bisa jalan. Sampah juga menumpuk di selokan itu dan air tertahan yang menyebabkan banjir naik, serta merendam lahan warga," ungkapnya.

    Ia menyebut video yang viral di media sosial instagram tersebut terjadi pada Senin (1/7/2024) kemarin. "Banjir kemarin berlangsung hingga dua jam," sebutnya.

    Untuk mengantisipasi banjir tersebut, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan perusahaan terkait didampingi Bhabinkamtibmas guna mencari solusi.

    "Kita juga minta solusi kepada perusahaan agar ketika hujan, tidak terjadi banjir karena sangat merugikan sekali bagi lahan warga," ucapnya.

    Warga yang terdampak akibat kejadian tersebut mencapai 30 Kepala Keluarga (KK) dua RT 10 dan RT 12.

    Ia berharap perusahaan dapat memberikan solusi terbaik, seperti menimbun kembali galian tambang agar aliran air bisa berjalan dengan lancar.

    "Semoga ini yang terakhir. Kalau terjadi lagi, pemerintah desa bersama masayarakat akan turun tangan," tegasnya.

    (Sf/By)