Seputar Kaltim

    Akademisi Unmul Sebut RON BBM yang Tak Sesuai bisa Rusak Kendaraan: Harus uji laboratorium 

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    10 April 2025 pukul 18:57 WITA

    Dosen Teknik Kimia, Rif'an Fathoni saat ditemui di ruangannya, Kamis (10/4/2025) siang. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Dosen Teknik Kimia Universitas Mulawarman (Unmul), Rif’an Fathoni, mengingatkan pentingnya kesesuaian nilai Research Octane Number (RON) pada bahan bakar minyak (BBM) dengan spesifikasi mesin kendaraan. 

    Menurutnya, penggunaan BBM dengan RON yang tidak sesuai dapat berdampak langsung terhadap performa mesin hingga menimbulkan gejala kerusakan pada kendaraan. 

    Seperti peristiwa yang terjadi di Samarinda saat ini, banyak masyarakat yang mengeluhkan kendaraannya mengalami gangguan usai mengisi bahan bakar. Sehingga muncul dugaan penurunan kualitas pada BBM yang beredar di tengah masyarakat. 

    “Setiap kendaraan itu punya kebutuhan RON berbeda. Kalau mesin dirancang untuk BBM RON 92 seperti Pertamax, tapi diisi RON 90 seperti Pertalite, itu bisa menimbulkan gejala brebet atau pembakaran yang tidak sempurna,” ujar Rif’an saat ditemui di ruangannya, Kamis (10/4/2025) siang.

    Ia mengatakan, semakin tinggi RON, maka pembakaran makin halus dan efisien, suara mesin juga lebih halus dan performa meningkat. 

    Rif'an juga menjelaskan bahwa nilai RON tidak bisa dikenali secara kasat mata. Meskipun warna dan aroma BBM bisa menjadi indikator awal, yang dapat dilakukan untuk membedakan jenis BBM. 

    “RON itu hasil dari susunan kimia bahan bakar. Harus diuji di lab, tidak bisa sekadar dilihat kasat mata,” tegasnya.

    Terkait dugaan pencampuran BBM atau yang disebut masyarakat sebagai “oplosan”, Rif’an menyebut istilah tersebut perlu diluruskan. Sebab, dalam industri migas, pencampuran dikenal dengan istilah blending dan merupakan bagian dari proses resmi untuk menyesuaikan kadar RON.  

    “Blending itu legal, bahkan di kilang atau distribusi seperti Patra Niaga itu hal yang umum. Tapi masyarakat menganggap istilah ‘oplosan’ selalu negatif,” ujarnya.

    Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pencampuran antara BBM ber-RON tinggi dan rendah dilakukan untuk mencapai nilai RON yang diinginkan. 

    Misalnya, pencampuran RON 90 dan RON 92 dengan rasio 50:50 akan menghasilkan BBM dengan RON 91. Namun, pencampuran ini pun harus dilakukan secara tepat dan di bawah pengawasan teknis yang ketat.

    Selain kesalahan RON, Rif’an mengungkap bahwa gejala gangguan mesin juga bisa disebabkan oleh faktor lain seperti tangki kendaraan yang kotor, filter bahan bakar yang tidak terawat, atau busi yang jarang diganti.

    “Masyarakat juga perlu memahami bahwa bukan hanya BBM, tapi perawatan kendaraan secara umum juga penting,” imbuhnya.

    Di Unmul sendiri kata dia, belum mampu untuk melakukan uji RON sebab peralatan yang dimiliki belum mumpuni. 

    Ia pun berharap pemerintah setempat dapat melakukan uji laboratorium dan hasilnya dapat disampaikan secara transparan ke publik untuk menjawab keresahan masyarakat saat ini. 

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Akademisi Unmul Sebut RON BBM yang Tak Sesuai bisa Rusak Kendaraan: Harus uji laboratorium 

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    10 April 2025 pukul 18:57 WITA

    Dosen Teknik Kimia, Rif'an Fathoni saat ditemui di ruangannya, Kamis (10/4/2025) siang. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Dosen Teknik Kimia Universitas Mulawarman (Unmul), Rif’an Fathoni, mengingatkan pentingnya kesesuaian nilai Research Octane Number (RON) pada bahan bakar minyak (BBM) dengan spesifikasi mesin kendaraan. 

    Menurutnya, penggunaan BBM dengan RON yang tidak sesuai dapat berdampak langsung terhadap performa mesin hingga menimbulkan gejala kerusakan pada kendaraan. 

    Seperti peristiwa yang terjadi di Samarinda saat ini, banyak masyarakat yang mengeluhkan kendaraannya mengalami gangguan usai mengisi bahan bakar. Sehingga muncul dugaan penurunan kualitas pada BBM yang beredar di tengah masyarakat. 

    “Setiap kendaraan itu punya kebutuhan RON berbeda. Kalau mesin dirancang untuk BBM RON 92 seperti Pertamax, tapi diisi RON 90 seperti Pertalite, itu bisa menimbulkan gejala brebet atau pembakaran yang tidak sempurna,” ujar Rif’an saat ditemui di ruangannya, Kamis (10/4/2025) siang.

    Ia mengatakan, semakin tinggi RON, maka pembakaran makin halus dan efisien, suara mesin juga lebih halus dan performa meningkat. 

    Rif'an juga menjelaskan bahwa nilai RON tidak bisa dikenali secara kasat mata. Meskipun warna dan aroma BBM bisa menjadi indikator awal, yang dapat dilakukan untuk membedakan jenis BBM. 

    “RON itu hasil dari susunan kimia bahan bakar. Harus diuji di lab, tidak bisa sekadar dilihat kasat mata,” tegasnya.

    Terkait dugaan pencampuran BBM atau yang disebut masyarakat sebagai “oplosan”, Rif’an menyebut istilah tersebut perlu diluruskan. Sebab, dalam industri migas, pencampuran dikenal dengan istilah blending dan merupakan bagian dari proses resmi untuk menyesuaikan kadar RON.  

    “Blending itu legal, bahkan di kilang atau distribusi seperti Patra Niaga itu hal yang umum. Tapi masyarakat menganggap istilah ‘oplosan’ selalu negatif,” ujarnya.

    Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pencampuran antara BBM ber-RON tinggi dan rendah dilakukan untuk mencapai nilai RON yang diinginkan. 

    Misalnya, pencampuran RON 90 dan RON 92 dengan rasio 50:50 akan menghasilkan BBM dengan RON 91. Namun, pencampuran ini pun harus dilakukan secara tepat dan di bawah pengawasan teknis yang ketat.

    Selain kesalahan RON, Rif’an mengungkap bahwa gejala gangguan mesin juga bisa disebabkan oleh faktor lain seperti tangki kendaraan yang kotor, filter bahan bakar yang tidak terawat, atau busi yang jarang diganti.

    “Masyarakat juga perlu memahami bahwa bukan hanya BBM, tapi perawatan kendaraan secara umum juga penting,” imbuhnya.

    Di Unmul sendiri kata dia, belum mampu untuk melakukan uji RON sebab peralatan yang dimiliki belum mumpuni. 

    Ia pun berharap pemerintah setempat dapat melakukan uji laboratorium dan hasilnya dapat disampaikan secara transparan ke publik untuk menjawab keresahan masyarakat saat ini. 

    (Sf/Rs)