Cari disini...
Seputar Kaltim
Ilustrasi AI Music. (Foto:Pinterest)
Tenggarong - Para musisi tengah ramai menyuarakan kekhawatiran terhadap perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam industri musik.
Namun kekhawatiran itu sepertinya tidak berlaku pada musisi lokal di Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Vokalis Dead Rotten Band, Mustakim mengatakan teknologi seharusnya bisa membantu musisi dalam berkaya.
"Saya yakin musik hasil AI tidak sama dengan musik yang kami buat. Sebab, pendengaran seorang musisi itu sangat peka sekali terhadap nada yang diciptakannya," kata Mustakim, Jumat (31/5/2024).
Ia menilai kegelisahan ini karena musisi tersebut belum memahami peran dari AI. Seorang musisi harus mencari tahu lebih jauh terkait peranan AI dalam bermusik.
"Kalau tak paham manfaatnya, pasti akan ada kekhawatiran. Jika kita mencari tahu fungsinya, maka itu akan mempermudah dalam berkarya, maksudnya membuat berkarya itu makin luas," sebutnya.
Mustakim mengaku para musisi pasti punya pengetahuan tentang AI di era modern kini. “Ketika punya pengetahuan teknologi, kita juga harus punya kebijaksanaan saat menerapkan AI dalam karya kita,” ungkapnya.
Dirinya meyakini AI bisa diakses oleh semua kalangan masyarakat dan telah memiliki aturan untuk meminimalisir penyalahgunaan.
“Semua yang datang sudah ada regulasinya. Sebagai contoh kalau kita mau download aplikasi itu pasti ada terms dan condition. Ya pastinya di situ ada kebijakan yang sudah dibuat, makanya kita bisa menggunakan,” ujarnya.
Kini, Mustakim mengaku sangat tertarik dengan adanya AI dalam kegiatan bermusik. "Saya ingin mendalami AI agar tidak dianggap ketinggalan zaman," tutupnya.
(Sf/By)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ilustrasi AI Music. (Foto:Pinterest)
Tenggarong - Para musisi tengah ramai menyuarakan kekhawatiran terhadap perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam industri musik.
Namun kekhawatiran itu sepertinya tidak berlaku pada musisi lokal di Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Vokalis Dead Rotten Band, Mustakim mengatakan teknologi seharusnya bisa membantu musisi dalam berkaya.
"Saya yakin musik hasil AI tidak sama dengan musik yang kami buat. Sebab, pendengaran seorang musisi itu sangat peka sekali terhadap nada yang diciptakannya," kata Mustakim, Jumat (31/5/2024).
Ia menilai kegelisahan ini karena musisi tersebut belum memahami peran dari AI. Seorang musisi harus mencari tahu lebih jauh terkait peranan AI dalam bermusik.
"Kalau tak paham manfaatnya, pasti akan ada kekhawatiran. Jika kita mencari tahu fungsinya, maka itu akan mempermudah dalam berkarya, maksudnya membuat berkarya itu makin luas," sebutnya.
Mustakim mengaku para musisi pasti punya pengetahuan tentang AI di era modern kini. “Ketika punya pengetahuan teknologi, kita juga harus punya kebijaksanaan saat menerapkan AI dalam karya kita,” ungkapnya.
Dirinya meyakini AI bisa diakses oleh semua kalangan masyarakat dan telah memiliki aturan untuk meminimalisir penyalahgunaan.
“Semua yang datang sudah ada regulasinya. Sebagai contoh kalau kita mau download aplikasi itu pasti ada terms dan condition. Ya pastinya di situ ada kebijakan yang sudah dibuat, makanya kita bisa menggunakan,” ujarnya.
Kini, Mustakim mengaku sangat tertarik dengan adanya AI dalam kegiatan bermusik. "Saya ingin mendalami AI agar tidak dianggap ketinggalan zaman," tutupnya.
(Sf/By)