Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih saat ditemui di ruangannya, Jumat (27/9/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda - Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih mengonfirmasi adanya peningkatan kasus mumps atau gondongan di Kota Samarinda sejak awal September 2024. Tren peningkatan ini terjadi bersamaan dengan peningkatan kasus cacar di wilayah tersebut dalam waktu tiga minggu belakangan ini.
Ismid menjelaskan bahwa peningkatan kasus ini sebagian besar terjadi pada anak-anak sekolah dasar (SD), mengingat interaksi mereka yang tinggi di lingkungan sekolah.
“Kami akui, baik gondongan maupun cacar mengalami peningkatan di Samarinda. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang mudah menular, terutama melalui droplet. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami cara penularan dan pencegahannya,” kata Ismid saat ditemui di ruangannya, Senin (28
7/09/2024).
Sebagai seorang dokter, Ismid juga menyoroti kaitan antara penyebaran virus dengan faktor cuaca. Menurutnya, virus umumnya tidak tahan terhadap suhu panas.
“Kasus yang melonjak dua hingga tiga minggu lalu kini sudah menunjukkan penurunan, namun kewaspadaan tetap perlu dijaga," ungkapnya.
Pihaknya pun telah menyampaikan imbauan kepada seluruh layanan kesehatan melalui 26 puskesmas di Samarinda dan juga mengedarkan pemberitahuan ke sekolah-sekolah agar lebih waspada.
Seperti edaran yang dikeluarkan oleh UPTD Puskesmas Samarinda Kota, lewat surat dengan nomor 400.7.8/439/100.02.026. Surat tersebut mengimbau sekolah-sekolah di Kecamatan Samarinda Kota untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gondongan.
Di dalamnya menginstruksikan agar anak yang terkena gondongan melakukan isolasi mandiri selama enam hari sejak pembengkakan leher terjadi.
Edaran itu juga menekankan pentingnya penggunaan masker, konsumsi makanan bergizi, serta menjaga kebersihan melalui cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.
Lebih lanjut, Ismid menjelaskan bahwa penyakit gondongan dan cacar tidak termasuk dalam Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Namun pihaknya tetap melaporkan perkembangan kasus ini ke Dinas Kesehatan Provinsi sebagai bahan evaluasi.
“Karena gondongan tidak termasuk dalam SKDR, vaksin untuk penyakit ini sudah tidak tersedia lagi. Sebelumnya ada vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella), namun karena kasus gondongan menurun drastis, vaksin yang diberikan kini hanya MR (Measles dan Rubella) saja. Kami berharap dengan peningkatan ini, ada evaluasi lebih lanjut,” jelasnya.
Ia pun mengingatkan masyarakat bahwa gondongan bisa menular kepada siapa saja, tanpa memandang usia. Penularannya pun terbilang cepat, salah satunya melalui percikan ludah (droplet).
“Penting untuk menjaga daya tahan tubuh, terutama dengan pola hidup sehat dan disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan. Insya Allah, kasus ini tidak akan berdampak fatal,” pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih saat ditemui di ruangannya, Jumat (27/9/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda - Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih mengonfirmasi adanya peningkatan kasus mumps atau gondongan di Kota Samarinda sejak awal September 2024. Tren peningkatan ini terjadi bersamaan dengan peningkatan kasus cacar di wilayah tersebut dalam waktu tiga minggu belakangan ini.
Ismid menjelaskan bahwa peningkatan kasus ini sebagian besar terjadi pada anak-anak sekolah dasar (SD), mengingat interaksi mereka yang tinggi di lingkungan sekolah.
“Kami akui, baik gondongan maupun cacar mengalami peningkatan di Samarinda. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang mudah menular, terutama melalui droplet. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami cara penularan dan pencegahannya,” kata Ismid saat ditemui di ruangannya, Senin (28
7/09/2024).
Sebagai seorang dokter, Ismid juga menyoroti kaitan antara penyebaran virus dengan faktor cuaca. Menurutnya, virus umumnya tidak tahan terhadap suhu panas.
“Kasus yang melonjak dua hingga tiga minggu lalu kini sudah menunjukkan penurunan, namun kewaspadaan tetap perlu dijaga," ungkapnya.
Pihaknya pun telah menyampaikan imbauan kepada seluruh layanan kesehatan melalui 26 puskesmas di Samarinda dan juga mengedarkan pemberitahuan ke sekolah-sekolah agar lebih waspada.
Seperti edaran yang dikeluarkan oleh UPTD Puskesmas Samarinda Kota, lewat surat dengan nomor 400.7.8/439/100.02.026. Surat tersebut mengimbau sekolah-sekolah di Kecamatan Samarinda Kota untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gondongan.
Di dalamnya menginstruksikan agar anak yang terkena gondongan melakukan isolasi mandiri selama enam hari sejak pembengkakan leher terjadi.
Edaran itu juga menekankan pentingnya penggunaan masker, konsumsi makanan bergizi, serta menjaga kebersihan melalui cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.
Lebih lanjut, Ismid menjelaskan bahwa penyakit gondongan dan cacar tidak termasuk dalam Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Namun pihaknya tetap melaporkan perkembangan kasus ini ke Dinas Kesehatan Provinsi sebagai bahan evaluasi.
“Karena gondongan tidak termasuk dalam SKDR, vaksin untuk penyakit ini sudah tidak tersedia lagi. Sebelumnya ada vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella), namun karena kasus gondongan menurun drastis, vaksin yang diberikan kini hanya MR (Measles dan Rubella) saja. Kami berharap dengan peningkatan ini, ada evaluasi lebih lanjut,” jelasnya.
Ia pun mengingatkan masyarakat bahwa gondongan bisa menular kepada siapa saja, tanpa memandang usia. Penularannya pun terbilang cepat, salah satunya melalui percikan ludah (droplet).
“Penting untuk menjaga daya tahan tubuh, terutama dengan pola hidup sehat dan disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan. Insya Allah, kasus ini tidak akan berdampak fatal,” pungkasnya.
(Sf/Rs)