Cari disini...
Seputarfakta.com - Nuraini -
Seputar Kaltim
Ilustrasi. (Foto: Freepik)
Bontang - Ketua DPRD Kota Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, menyoroti tingginya angka stunting di Kelurahan Bontang Baru yang mencapai 88 anak.
Menurutnya, kondisi tersebut cukup memprihatinkan mengingat wilayah Bontang Baru termasuk kawasan perkotaan.
“Kelurahan Bontang Baru ini masuk kategori kawasan kota, jadi ini menjadi pukulan telak ketika masih ada 88 anak mengalami stunting. Angka ini cukup besar, meski faktor penyebabnya bisa beragam, termasuk genetik,” ujarnya saat menggelar reses di Vila Ulin, Gang Sarono Ujung, Kelurahan Bontang Baru, beberapa waktu lalu.
Ia menegaskan persoalan stunting tidak bisa dianggap sepele karena berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
“Ini harus menjadi cambuk dan motivasi bagi pak lurah untuk meningkatkan penanganan, khususnya terkait gizi buruk. Karena ini menyangkut masa depan anak-anak kita,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga mendorong peningkatan peran pemerintah kelurahan, tenaga kesehatan, serta masyarakat dalam upaya penanganan stunting secara lebih intensif.
Selain isu kesehatan, ia turut menyinggung pentingnya penguatan peran Rukun Tetangga (RT) dalam pembangunan berbasis masyarakat. Menurutnya, program pembangunan di tingkat RT akan tetap berjalan meskipun dengan penyesuaian anggaran.
“Kebijakan pembangunan tingkat RT tetap kita laksanakan. Anggarannya akan tetap ada, meski mungkin tidak besar,” jelasnya.
(Sf/Lo)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Nuraini -
Seputar Kaltim

Ilustrasi. (Foto: Freepik)
Bontang - Ketua DPRD Kota Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, menyoroti tingginya angka stunting di Kelurahan Bontang Baru yang mencapai 88 anak.
Menurutnya, kondisi tersebut cukup memprihatinkan mengingat wilayah Bontang Baru termasuk kawasan perkotaan.
“Kelurahan Bontang Baru ini masuk kategori kawasan kota, jadi ini menjadi pukulan telak ketika masih ada 88 anak mengalami stunting. Angka ini cukup besar, meski faktor penyebabnya bisa beragam, termasuk genetik,” ujarnya saat menggelar reses di Vila Ulin, Gang Sarono Ujung, Kelurahan Bontang Baru, beberapa waktu lalu.
Ia menegaskan persoalan stunting tidak bisa dianggap sepele karena berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
“Ini harus menjadi cambuk dan motivasi bagi pak lurah untuk meningkatkan penanganan, khususnya terkait gizi buruk. Karena ini menyangkut masa depan anak-anak kita,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga mendorong peningkatan peran pemerintah kelurahan, tenaga kesehatan, serta masyarakat dalam upaya penanganan stunting secara lebih intensif.
Selain isu kesehatan, ia turut menyinggung pentingnya penguatan peran Rukun Tetangga (RT) dalam pembangunan berbasis masyarakat. Menurutnya, program pembangunan di tingkat RT akan tetap berjalan meskipun dengan penyesuaian anggaran.
“Kebijakan pembangunan tingkat RT tetap kita laksanakan. Anggarannya akan tetap ada, meski mungkin tidak besar,” jelasnya.
(Sf/Lo)