Ada 6.188 Anak di Kukar Putus Sekolah, Kasus Terbanyak di Tenggarong

    Seputarfakta.com - Agus Saputra -

    Seputar Kaltim

    31 Maret 2026 01:34 WIB

    ilustrasi anak usia belajar (Dok: freepik)

    Tenggarong - Sebanyak 6.188 anak di Kutai Kartanegara (Kukar) tercatat tidak melanjutkan pendidikan atau putus sekolah, baik di jenjang PAUD, SD dan SMP.

    Kepala Bidang PAUD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Lucy Yulidasari mengatakan dari ribuan anak tersebut, kasus terbanyak tercatat berada di Kecamatan Tenggarong dengan jumlah mencapai 660 anak.

    “Ada 6.188 anak putus sekolah di Kukar dan paling tinggi di Tenggarong sekitar 660 anak,” ujar Lucy, Selasa (31/3/2026).

    Ia mengungkap Disdikbud Kukar hingga kini belum melakukan analisis secara menyeluruh terkait alasan di balik banyaknya anak yang memutuskan berhenti bersekolah.

    Meski belum diketahui secara pasti, terdapat beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab, salah satunya kondisi ekonomi.

    “Ada beberapa faktor dan bisa dikatakan klasik, tapi faktanya memang ada adalah ekonomi. Padahal pemerintah telah konsen semuanya itu (pendidikan) tidak dikenakan biaya, bahkan termasuk perlengkapan sekolah telah disiapkan pemerintah,” terang Lucy.

    Selain permasalahan ekonomi, pola pikir masyarakat juga dinilai menjadi faktor yang turut mempengaruhi tingginya angka putus sekolah di Kukar.

    Ia menduga mungkin beberapa masyarakat masih menganggap pendidikan merupakan hal yang merepotkan, sehingga anak-anak lebih diarahkan untuk membantu orang tua dengan bekerja sejak dini dibanding bersekolah.

    Menurutnya anak-anak usia sekitar 4-21 tahun harus menempuh pendidikan agar memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk menghadapi masa depan. 

    “Mungkin ada yang beranggapan sekolah itu repot atau semacamnya, sehingga tidak bersekolah,” ungkapnya.

    Sebagai upaya menekan angka anak putus sekolah, Disdikbud Kukar akan menggencarkan sosialisasi ke masyarakat terkait pentingnya pendidikan bagi anak-anak.

    Tak hanya itu, Disdikbud Kukar juga akan membuka program pendidikan non-formal melalui kejar paket bagi anak-anak yang sudah terlanjur putus sekolah agar tetap bisa mendapatkan akses pendidikan.

    “Kita dari pemerintah tentu membuka peluang bagi anak-anak putus sekolah sebagai salah satu cara menyelesaikan masalah ini,” tandasnya.

    (Sf/Lo)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Ada 6.188 Anak di Kukar Putus Sekolah, Kasus Terbanyak di Tenggarong

    Seputarfakta.com - Agus Saputra -

    Seputar Kaltim

    31 Maret 2026 01:34 WIB

    ilustrasi anak usia belajar (Dok: freepik)

    Tenggarong - Sebanyak 6.188 anak di Kutai Kartanegara (Kukar) tercatat tidak melanjutkan pendidikan atau putus sekolah, baik di jenjang PAUD, SD dan SMP.

    Kepala Bidang PAUD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Lucy Yulidasari mengatakan dari ribuan anak tersebut, kasus terbanyak tercatat berada di Kecamatan Tenggarong dengan jumlah mencapai 660 anak.

    “Ada 6.188 anak putus sekolah di Kukar dan paling tinggi di Tenggarong sekitar 660 anak,” ujar Lucy, Selasa (31/3/2026).

    Ia mengungkap Disdikbud Kukar hingga kini belum melakukan analisis secara menyeluruh terkait alasan di balik banyaknya anak yang memutuskan berhenti bersekolah.

    Meski belum diketahui secara pasti, terdapat beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab, salah satunya kondisi ekonomi.

    “Ada beberapa faktor dan bisa dikatakan klasik, tapi faktanya memang ada adalah ekonomi. Padahal pemerintah telah konsen semuanya itu (pendidikan) tidak dikenakan biaya, bahkan termasuk perlengkapan sekolah telah disiapkan pemerintah,” terang Lucy.

    Selain permasalahan ekonomi, pola pikir masyarakat juga dinilai menjadi faktor yang turut mempengaruhi tingginya angka putus sekolah di Kukar.

    Ia menduga mungkin beberapa masyarakat masih menganggap pendidikan merupakan hal yang merepotkan, sehingga anak-anak lebih diarahkan untuk membantu orang tua dengan bekerja sejak dini dibanding bersekolah.

    Menurutnya anak-anak usia sekitar 4-21 tahun harus menempuh pendidikan agar memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk menghadapi masa depan. 

    “Mungkin ada yang beranggapan sekolah itu repot atau semacamnya, sehingga tidak bersekolah,” ungkapnya.

    Sebagai upaya menekan angka anak putus sekolah, Disdikbud Kukar akan menggencarkan sosialisasi ke masyarakat terkait pentingnya pendidikan bagi anak-anak.

    Tak hanya itu, Disdikbud Kukar juga akan membuka program pendidikan non-formal melalui kejar paket bagi anak-anak yang sudah terlanjur putus sekolah agar tetap bisa mendapatkan akses pendidikan.

    “Kita dari pemerintah tentu membuka peluang bagi anak-anak putus sekolah sebagai salah satu cara menyelesaikan masalah ini,” tandasnya.

    (Sf/Lo)