Cari disini...
Seputarfakta.com-Lisda -
Seputar Kaltim
Ilustrasi ruam campak pada anak. (Foto: Freepik)
Sangatta - Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Dinkes Kutim) mencatat sebanyak 105 kasus suspek campak sejak awal Januari hingga pekan pertama Maret 2026.
Kepala Dinkes Kutim, Yuwana Sri Kurniawati, menyampaikan temuan tersebut menjadi perhatian serius. Sebab, jika ada satu saja kasus yang terkonfirmasi positif, maka kondisi itu berpotensi ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
“Total suspek yang tercatat sejak awal Januari hingga awal Maret mencapai 105 kasus. Saat ini statusnya masih suspek karena kita masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Samarinda,” ujar Yuwana.
Ia menjelaskan, kasus suspek campak tersebut hampir ditemukan di seluruh kecamatan di Kutim. Namun, jumlah terbanyak tercatat di wilayah Sangatta Utara, Teluk Pandan, dan Sangatta Selatan.
Menurutnya, campak sendiri merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus morbilli dan mudah menular melalui percikan ludah saat penderita batuk atau bersin.
Gejalanya biasanya diawali demam, kemudian muncul ruam kemerahan pada kulit, disertai batuk, pilek dan mata merah.
Yuwana menegaskan penyakit campak tidak boleh dianggap sepele. Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit tersebut dapat memicu berbagai komplikasi serius, terutama pada bayi dan anak-anak.
“Campak dapat menyebabkan komplikasi seperti infeksi telinga, pneumonia hingga radang selaput otak. Pada kondisi tertentu bahkan bisa berujung kematian,” jelasnya.
Untuk mencegah penyebaran, Dinkes Kutim meningkatkan kewaspadaan di seluruh fasilitas kesehatan, mulai dari puskesmas, klinik hingga rumah sakit.
Masyarakat juga diimbau segera membawa anak yang mengalami gejala campak ke fasilitas kesehatan serta menghindari aktivitas di luar rumah agar tidak menularkan kepada orang lain.
“Jika ada anak yang mengalami gejala campak, sebaiknya tidak beraktivitas di luar rumah atau pergi ke sekolah sampai kondisinya membaik,” katanya.
Dinkes Kutim juga mengingatkan pentingnya imunisasi campak atau Measles Rubella (MR) bagi anak-anak. Saat ini cakupan imunisasi campak di Kutim mencapai sekitar 88 persen, sementara untuk dosis kedua masih berada di kisaran 65 persen.
Menurut Yuwana, angka tersebut menunjukkan masih ada anak yang belum kembali untuk mendapatkan vaksin lanjutan yang berfungsi memperkuat kekebalan tubuh.
Karena itu, pihaknya mengajak para orang tua segera membawa bayi dan balita yang belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap ke posyandu atau fasilitas kesehatan terdekat.
“Kami mengimbau para orang tua agar memastikan anak-anak mendapatkan imunisasi campak secara lengkap untuk mencegah penularan penyakit ini,” pungkasnya.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com-Lisda -
Seputar Kaltim

Ilustrasi ruam campak pada anak. (Foto: Freepik)
Sangatta - Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Dinkes Kutim) mencatat sebanyak 105 kasus suspek campak sejak awal Januari hingga pekan pertama Maret 2026.
Kepala Dinkes Kutim, Yuwana Sri Kurniawati, menyampaikan temuan tersebut menjadi perhatian serius. Sebab, jika ada satu saja kasus yang terkonfirmasi positif, maka kondisi itu berpotensi ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
“Total suspek yang tercatat sejak awal Januari hingga awal Maret mencapai 105 kasus. Saat ini statusnya masih suspek karena kita masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Samarinda,” ujar Yuwana.
Ia menjelaskan, kasus suspek campak tersebut hampir ditemukan di seluruh kecamatan di Kutim. Namun, jumlah terbanyak tercatat di wilayah Sangatta Utara, Teluk Pandan, dan Sangatta Selatan.
Menurutnya, campak sendiri merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus morbilli dan mudah menular melalui percikan ludah saat penderita batuk atau bersin.
Gejalanya biasanya diawali demam, kemudian muncul ruam kemerahan pada kulit, disertai batuk, pilek dan mata merah.
Yuwana menegaskan penyakit campak tidak boleh dianggap sepele. Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit tersebut dapat memicu berbagai komplikasi serius, terutama pada bayi dan anak-anak.
“Campak dapat menyebabkan komplikasi seperti infeksi telinga, pneumonia hingga radang selaput otak. Pada kondisi tertentu bahkan bisa berujung kematian,” jelasnya.
Untuk mencegah penyebaran, Dinkes Kutim meningkatkan kewaspadaan di seluruh fasilitas kesehatan, mulai dari puskesmas, klinik hingga rumah sakit.
Masyarakat juga diimbau segera membawa anak yang mengalami gejala campak ke fasilitas kesehatan serta menghindari aktivitas di luar rumah agar tidak menularkan kepada orang lain.
“Jika ada anak yang mengalami gejala campak, sebaiknya tidak beraktivitas di luar rumah atau pergi ke sekolah sampai kondisinya membaik,” katanya.
Dinkes Kutim juga mengingatkan pentingnya imunisasi campak atau Measles Rubella (MR) bagi anak-anak. Saat ini cakupan imunisasi campak di Kutim mencapai sekitar 88 persen, sementara untuk dosis kedua masih berada di kisaran 65 persen.
Menurut Yuwana, angka tersebut menunjukkan masih ada anak yang belum kembali untuk mendapatkan vaksin lanjutan yang berfungsi memperkuat kekebalan tubuh.
Karena itu, pihaknya mengajak para orang tua segera membawa bayi dan balita yang belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap ke posyandu atau fasilitas kesehatan terdekat.
“Kami mengimbau para orang tua agar memastikan anak-anak mendapatkan imunisasi campak secara lengkap untuk mencegah penularan penyakit ini,” pungkasnya.
(Sf/Rs)