Cari disini...
Seputar Kaltim
Para anggota Active Speaker Community. (Foto: Dok. ASC)
Samarinda - Kemampuan berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris, dinilai semakin krusial di tengah pesatnya perkembangan Kota Samarinda.
Menyadari hal tersebut, sekumpulan pemuda mendirikan Active Speaker Community, sebuah wadah inklusif untuk belajar dan melatih kemampuan speaking secara komprehensif tanpa harus merogoh kocek dalam.
Founder Active Speaker Community, Muhammad Abidzar, mengungkapkan bahwa komunitas ini lahir dari kebutuhan mendasar para pembelajar bahasa, yakni lingkungan yang mendukung.
Menurutnya, menguasai bahasa Inggris tidak cukup hanya bermodal teori, melainkan butuh teman untuk mempraktikkannya secara langsung.
"Di sinilah Active Speaker Community hadir memberikan tempat berkumpul. Kita berlatih bahasa Inggris bersama, menambah kosakata, dan yang paling penting, meningkatkan kepercayaan diri karena kita membiasakan diri berbicara di depan banyak orang," ujar Abidzar.
Komunitas ini resmi berdiri pada 24 Mei 2025. Menjelang usia satu tahunnya, Abidzar menceritakan bahwa pergerakan ini murni terbentuk dari modal nekat.
Ide tersebut tercetus saat ia bersama rekannya, Muhammad Zidane Ansyari, berkumpul dan bertukar gagasan di Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur di Samarinda.
"Awalnya kami sama sekali tidak tahu kalau ada komunitas bahasa Inggris lain di Samarinda. Dengan modal yang minim dan tekad nekat, akhirnya komunitas ini resmi dibentuk hari itu di perpustakaan," kenangnya.
Kini, antusiasme masyarakat terbilang positif. Active Speaker Community telah menjaring sekitar 200 peminat di Instagram, dengan 55 anggota yang tergabung aktif di dalam grup diskusi.
Untuk mengasah ketajaman lidah anggotanya, komunitas ini rutin mengadakan pertemuan tatap muka dua kali dalam sepekan, yakni setiap akhir pekan di hari Sabtu dan Minggu.
Kegiatannya bervariasi. Mulai dari sesi berbagi (sharing session) dengan daftar pertanyaan terarah yang konsepnya diadaptasi dari metode pembelajaran di Kampung Inggris, hingga sesi debat.
Menariknya, komunitas ini memiliki tiga aturan emas yang wajib diterapkan dalam setiap pertemuan, yaitu Listen (Dengarkan), Respond (Tanggapi), dan Give a Question (Berikan Pertanyaan).
"Tiga aturan ini yang membantu kami menjadi lebih sosial. Aturan ini yang membuat setiap pertemuan lebih mendalam (deep), lebih kontras, dan mendorong orang untuk lebih sering berbicara saat berada di Active Speaker Community," jelasnya.
Guna membiasakan diri dan mendobrak rasa malu, komunitas ini juga kerap menggelar diskusinya di ruang publik terbuka yang asyik untuk nongkrong, seperti pusat perbelanjaan (mal).
Melihat ke depan, target komunitas ini cukup membumi namun berdampak luas. Abidzar ingin terus memperluas jaringan dan memfasilitasi anak-anak muda yang ingin belajar bahasa Inggris tanpa terkendala biaya pendaftaran yang besar.
Terlebih, ia meyakini kemajuan Samarinda ke depannya akan berbanding lurus dengan peningkatan kunjungan warga negara asing.
"Nantinya Samarinda ini akan jadi kota yang maju ya kan, jadi pastinya akan ada turis di situ. Kami ingin membiasakan anggota kami meningkatkan kemampuan speaking agar nantinya mereka lebih siap dan percaya diri ketika berinteraksi langsung dengan turis," tutupnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Para anggota Active Speaker Community. (Foto: Dok. ASC)
Samarinda - Kemampuan berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris, dinilai semakin krusial di tengah pesatnya perkembangan Kota Samarinda.
Menyadari hal tersebut, sekumpulan pemuda mendirikan Active Speaker Community, sebuah wadah inklusif untuk belajar dan melatih kemampuan speaking secara komprehensif tanpa harus merogoh kocek dalam.
Founder Active Speaker Community, Muhammad Abidzar, mengungkapkan bahwa komunitas ini lahir dari kebutuhan mendasar para pembelajar bahasa, yakni lingkungan yang mendukung.
Menurutnya, menguasai bahasa Inggris tidak cukup hanya bermodal teori, melainkan butuh teman untuk mempraktikkannya secara langsung.
"Di sinilah Active Speaker Community hadir memberikan tempat berkumpul. Kita berlatih bahasa Inggris bersama, menambah kosakata, dan yang paling penting, meningkatkan kepercayaan diri karena kita membiasakan diri berbicara di depan banyak orang," ujar Abidzar.
Komunitas ini resmi berdiri pada 24 Mei 2025. Menjelang usia satu tahunnya, Abidzar menceritakan bahwa pergerakan ini murni terbentuk dari modal nekat.
Ide tersebut tercetus saat ia bersama rekannya, Muhammad Zidane Ansyari, berkumpul dan bertukar gagasan di Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur di Samarinda.
"Awalnya kami sama sekali tidak tahu kalau ada komunitas bahasa Inggris lain di Samarinda. Dengan modal yang minim dan tekad nekat, akhirnya komunitas ini resmi dibentuk hari itu di perpustakaan," kenangnya.
Kini, antusiasme masyarakat terbilang positif. Active Speaker Community telah menjaring sekitar 200 peminat di Instagram, dengan 55 anggota yang tergabung aktif di dalam grup diskusi.
Untuk mengasah ketajaman lidah anggotanya, komunitas ini rutin mengadakan pertemuan tatap muka dua kali dalam sepekan, yakni setiap akhir pekan di hari Sabtu dan Minggu.
Kegiatannya bervariasi. Mulai dari sesi berbagi (sharing session) dengan daftar pertanyaan terarah yang konsepnya diadaptasi dari metode pembelajaran di Kampung Inggris, hingga sesi debat.
Menariknya, komunitas ini memiliki tiga aturan emas yang wajib diterapkan dalam setiap pertemuan, yaitu Listen (Dengarkan), Respond (Tanggapi), dan Give a Question (Berikan Pertanyaan).
"Tiga aturan ini yang membantu kami menjadi lebih sosial. Aturan ini yang membuat setiap pertemuan lebih mendalam (deep), lebih kontras, dan mendorong orang untuk lebih sering berbicara saat berada di Active Speaker Community," jelasnya.
Guna membiasakan diri dan mendobrak rasa malu, komunitas ini juga kerap menggelar diskusinya di ruang publik terbuka yang asyik untuk nongkrong, seperti pusat perbelanjaan (mal).
Melihat ke depan, target komunitas ini cukup membumi namun berdampak luas. Abidzar ingin terus memperluas jaringan dan memfasilitasi anak-anak muda yang ingin belajar bahasa Inggris tanpa terkendala biaya pendaftaran yang besar.
Terlebih, ia meyakini kemajuan Samarinda ke depannya akan berbanding lurus dengan peningkatan kunjungan warga negara asing.
"Nantinya Samarinda ini akan jadi kota yang maju ya kan, jadi pastinya akan ada turis di situ. Kami ingin membiasakan anggota kami meningkatkan kemampuan speaking agar nantinya mereka lebih siap dan percaya diri ketika berinteraksi langsung dengan turis," tutupnya.
(Sf/Rs)