Cari disini...
Seputar Kaltim
Kondisi daratan di Kelurahan Tanjung Tengah, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) yang telah terkikis gelombang laut.(Istimewa)
Penajam – Warga Kelurahan Tanjung Tengah, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), kini semakin cemas. Warga yang bermukim di wilayah pesisir tersebut cemas terhadap pasang surut gelombang laut yang perlahan mulai mengikis daratan di pesisir pantai hingga sepanjang 80 meter dalam sembilan tahun terakhir.
Ketua RT 07, Ariana Nur menyampaikan bahwa kondisi paling parah terjadi di wilayahnya, terutama di sekitar muara. "Setiap tahun air laut terus naik, gelombang semakin besar dan pohon-pohon di tepi pantai perlahan hilang," ucapnya, Kamis (6/2/2025).
Dampak dari abrasi ini tidak hanya dialami warga di lingkup RT 07 saja, tapi juga turut dirasakan warga RT 03 dan 05 yang dasar tempat tinggalnya mulai digenangi air laut. “Warga RT 03 dan 05 sempat bercerita bahwa dasar rumahnya mulai terendam air laut, tapi untung saja bangunan rumahnya berada di ketinggian, sehingga tidak sampai masuk ke rumah,” ungkap Ariani.
Abrasi ini, kata dia, tidak hanya menggerus daratan, tetapi juga merenggut kehidupan masyarakat, terutama menyangkut soal mata pencaharian warga setempat. Mayoritas penduduk di Tanjung Tengah, berprofesi sebagai nelayan dan kini sebagian dari mereka telah beralih profesi karena terlalu berisiko menjadi nelayan yang beberapa tahun belakangan ini kerap dihadapkan dengan terhadap gelombang laut yang kuat, sehingga membuat mereka enggan untuk melaut kembali.
“Para nelayan mengalami kesulitan untuk melaut dan membuat pendapatan mereka turun drastis. Jadi, ada beberapa dari mereka beralih profesi, mulai dari bekerja di bagang, membuka jasa memancing dan lainnya untuk menyambung keberlangsungan hidup mereka,” jelas Ariani.
Kini, Pemerintah Kelurahan Tanjung Tengah sedang berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) PPU untuk rencana pembangunan pemecah ombak sepanjang satu Kilometer (Km) di RT 07, tepatnya dari Pantai Corong hingga Muara Tunan sebagai solusi mengatasi masalah abrasi ini.
Lurah Tanjung Tengah, Asis Wibowo mengatakan bahwa proyek ini nantinya akan diperpanjang hingga 3 Km menuju perbatasan Kelurahan Salo Loang untuk mencegah terjadinya pengikisan tanah di wilayah pesisir. "Kami berharap pemecah ombak ini bisa segera terealisasi agar abrasi tidak semakin parah," jelas Asis. Pemerintah juga turut melakukan upaya mitigasi lain dengan cara menanam 5 ribu pohon mangrove di wilayah terdampak guna memulihkan lingkungan pesisir.
(Sf/Mr)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kondisi daratan di Kelurahan Tanjung Tengah, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) yang telah terkikis gelombang laut.(Istimewa)
Penajam – Warga Kelurahan Tanjung Tengah, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), kini semakin cemas. Warga yang bermukim di wilayah pesisir tersebut cemas terhadap pasang surut gelombang laut yang perlahan mulai mengikis daratan di pesisir pantai hingga sepanjang 80 meter dalam sembilan tahun terakhir.
Ketua RT 07, Ariana Nur menyampaikan bahwa kondisi paling parah terjadi di wilayahnya, terutama di sekitar muara. "Setiap tahun air laut terus naik, gelombang semakin besar dan pohon-pohon di tepi pantai perlahan hilang," ucapnya, Kamis (6/2/2025).
Dampak dari abrasi ini tidak hanya dialami warga di lingkup RT 07 saja, tapi juga turut dirasakan warga RT 03 dan 05 yang dasar tempat tinggalnya mulai digenangi air laut. “Warga RT 03 dan 05 sempat bercerita bahwa dasar rumahnya mulai terendam air laut, tapi untung saja bangunan rumahnya berada di ketinggian, sehingga tidak sampai masuk ke rumah,” ungkap Ariani.
Abrasi ini, kata dia, tidak hanya menggerus daratan, tetapi juga merenggut kehidupan masyarakat, terutama menyangkut soal mata pencaharian warga setempat. Mayoritas penduduk di Tanjung Tengah, berprofesi sebagai nelayan dan kini sebagian dari mereka telah beralih profesi karena terlalu berisiko menjadi nelayan yang beberapa tahun belakangan ini kerap dihadapkan dengan terhadap gelombang laut yang kuat, sehingga membuat mereka enggan untuk melaut kembali.
“Para nelayan mengalami kesulitan untuk melaut dan membuat pendapatan mereka turun drastis. Jadi, ada beberapa dari mereka beralih profesi, mulai dari bekerja di bagang, membuka jasa memancing dan lainnya untuk menyambung keberlangsungan hidup mereka,” jelas Ariani.
Kini, Pemerintah Kelurahan Tanjung Tengah sedang berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) PPU untuk rencana pembangunan pemecah ombak sepanjang satu Kilometer (Km) di RT 07, tepatnya dari Pantai Corong hingga Muara Tunan sebagai solusi mengatasi masalah abrasi ini.
Lurah Tanjung Tengah, Asis Wibowo mengatakan bahwa proyek ini nantinya akan diperpanjang hingga 3 Km menuju perbatasan Kelurahan Salo Loang untuk mencegah terjadinya pengikisan tanah di wilayah pesisir. "Kami berharap pemecah ombak ini bisa segera terealisasi agar abrasi tidak semakin parah," jelas Asis. Pemerintah juga turut melakukan upaya mitigasi lain dengan cara menanam 5 ribu pohon mangrove di wilayah terdampak guna memulihkan lingkungan pesisir.
(Sf/Mr)