Seputar Kaltim

    985 Anak di PPU Putus Sekolah, Disdikpora Bentuk Tim Penanganan 

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Lodya A
    03 September 2025 pukul 15:29 WITA

    Potret anak sekolah. (Dok: freepik)

    Penajam - Kepala Bidang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan non formal Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora), Durajat mengungkap 985 anak di Penajam Paser Utara (PPU) memilih berhenti dan diberhentikan dari sekolah.

    Angka itu mengacu pada data yang dihimpun Data Pokok Pendidikan (Dapodik) per 2 September 2025.

    “Ada 985 anak di PPU Drop Out (DO) dan ada pula 789 anak belum pernah sekolah serta 715 anak lulus namun tidak melanjutkan. Itu semua jenjang mulai PAUD hingga SMA” ucap Durajat, Rabu (3/9/2025).

    Tingginya angka anak putus sekolah, belum pernah bersekolah dan tidak melanjutkan pendidikan dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pekerjaan, ekonomi hingga memang tidak memiliki keinginan untuk menempuh studi.

    “Jadi berdasarkan data, 175 anak lebih memilih untuk bekerja, 317 karena memang tidak punya niat untuk bersekolah, sedangkan faktor ekonomi hanya 10 orang saja,” terangnya.

    Sebagai upaya untuk mengatasi persoalan ini, Disdikpora PPU berencana membentuk tim penanganan Anak Putus Sekolah (APS) dengan melibatkan lintas sektor, seperti Disdukcapil, BPS, DPMD, Bapelitbang, Dinsos hingga Disnakertrans.

    Pihaknya juga akan mengundang operator sekolah di 54 desa dan kelurahan untuk melakukan pendataan.

    Langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan verifikasi dan validasi data anak-anak usia sekolah di 54 desa dan kelurahan guna memastikan jumlah pasti dan faktor utama, sehingga gampang untuk dicarikan solusi terbaik.

    “Kita telah melakukan pertemuan sebanyak dua kali untuk membahas persoalan ini. Kemarin kita mengundang empat camat beserta anggota DPRD untuk menyosialisasikan,” ujar Durajat.

    “Jadi setelah dilakukan pendataan, nanti anak-anak diarahkan sebaiknya seperti apa. Misalnya mungkin dia butuh keterampilan, maka Disnakertrans berperan memberikan pelatihan,” tambahnya.

    Pembentukan tim penanganan APS kini telah memasuki tahap finalisasi dengan menunggu Surat Keputusan (SK) dari kepala daerah.

    “Hari ini akan kita sampaikan (pembentukan tim penanganan APS) ke bagian hukum melalui pak sekda, sehingga bisa ditetapkan menjadi SK bupati,” tandasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    985 Anak di PPU Putus Sekolah, Disdikpora Bentuk Tim Penanganan 

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Lodya A
    03 September 2025 pukul 15:29 WITA

    Potret anak sekolah. (Dok: freepik)

    Penajam - Kepala Bidang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan non formal Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora), Durajat mengungkap 985 anak di Penajam Paser Utara (PPU) memilih berhenti dan diberhentikan dari sekolah.

    Angka itu mengacu pada data yang dihimpun Data Pokok Pendidikan (Dapodik) per 2 September 2025.

    “Ada 985 anak di PPU Drop Out (DO) dan ada pula 789 anak belum pernah sekolah serta 715 anak lulus namun tidak melanjutkan. Itu semua jenjang mulai PAUD hingga SMA” ucap Durajat, Rabu (3/9/2025).

    Tingginya angka anak putus sekolah, belum pernah bersekolah dan tidak melanjutkan pendidikan dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pekerjaan, ekonomi hingga memang tidak memiliki keinginan untuk menempuh studi.

    “Jadi berdasarkan data, 175 anak lebih memilih untuk bekerja, 317 karena memang tidak punya niat untuk bersekolah, sedangkan faktor ekonomi hanya 10 orang saja,” terangnya.

    Sebagai upaya untuk mengatasi persoalan ini, Disdikpora PPU berencana membentuk tim penanganan Anak Putus Sekolah (APS) dengan melibatkan lintas sektor, seperti Disdukcapil, BPS, DPMD, Bapelitbang, Dinsos hingga Disnakertrans.

    Pihaknya juga akan mengundang operator sekolah di 54 desa dan kelurahan untuk melakukan pendataan.

    Langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan verifikasi dan validasi data anak-anak usia sekolah di 54 desa dan kelurahan guna memastikan jumlah pasti dan faktor utama, sehingga gampang untuk dicarikan solusi terbaik.

    “Kita telah melakukan pertemuan sebanyak dua kali untuk membahas persoalan ini. Kemarin kita mengundang empat camat beserta anggota DPRD untuk menyosialisasikan,” ujar Durajat.

    “Jadi setelah dilakukan pendataan, nanti anak-anak diarahkan sebaiknya seperti apa. Misalnya mungkin dia butuh keterampilan, maka Disnakertrans berperan memberikan pelatihan,” tambahnya.

    Pembentukan tim penanganan APS kini telah memasuki tahap finalisasi dengan menunggu Surat Keputusan (SK) dari kepala daerah.

    “Hari ini akan kita sampaikan (pembentukan tim penanganan APS) ke bagian hukum melalui pak sekda, sehingga bisa ditetapkan menjadi SK bupati,” tandasnya.

    (Sf/Lo)