Cari disini...
Seputar Kaltim
Telur salah satu kebutuhan utama masyarakat yang terus meningkat. (Foto: Istimewa/Seputarfakta.com)
Balikpapan – Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan memastikan pasokan pangan di kota ini tetap aman, meski kebutuhan meningkat akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Keterbatasan produksi lokal membuat Balikpapan sejak lama bergantung pada pasokan daerah lain, namun Pemkot menegaskan sudah memiliki strategi untuk menjaga ketersediaan bahan pangan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Balikpapan, Sri Wahjuningsih mengatakan, hampir 80 persen kebutuhan pangan Balikpapan dipenuhi dari luar daerah. Kondisi geografis kota yang memiliki lahan pertanian terbatas, membuat produksi lokal tidak mampu mengimbangi kebutuhan masyarakat.
“Produksi pertanian, peternakan, dan perikanan kami terbatas. Karena itu pasokan terbesar tetap dari daerah penghasil,” ucap Yuyun sapaan akrabnya, Minggu (23/11/2025).
Menurut Yuyun, komoditas utama seperti telur banyak dipasok dari Jawa Timur dan Sulawesi, sementara daging sapi berasal dari Sulawesi dan Bali. Kebutuhan daging juga didukung oleh stok daging beku yang beredar di pasaran.
“Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pasti memanfaatkan ketersediaan daging beku yang cukup besar,” terangnya.
Ia memastikan sejauh ini tidak ada laporan kelangkaan pangan, baik untuk kebutuhan harian masyarakat maupun tambahan permintaan akibat program MBG dan persiapan Natal-Tahun Baru (Nataru). Distributor pun masih dapat memenuhi permintaan sesuai mekanisme pasar.
“Yang penting kebutuhan pangan masyarakat tetap tercukupi,” tegasnya.
Untuk menjaga stabilitas pasokan dalam jangka panjang, Pemkot Balikpapan telah memperkuat kerja sama dengan berbagai daerah penghasil pangan, seperti penyuplai beras, cabai, dan bawang.
Kerja sama ini kemudian diteruskan oleh para distributor sebagai ujung tombak suplai di lapangan.
“Semua berlangsung lewat pejuang pangan kita, yaitu para distributor,” tutup Yuyun.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Telur salah satu kebutuhan utama masyarakat yang terus meningkat. (Foto: Istimewa/Seputarfakta.com)
Balikpapan – Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan memastikan pasokan pangan di kota ini tetap aman, meski kebutuhan meningkat akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Keterbatasan produksi lokal membuat Balikpapan sejak lama bergantung pada pasokan daerah lain, namun Pemkot menegaskan sudah memiliki strategi untuk menjaga ketersediaan bahan pangan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Balikpapan, Sri Wahjuningsih mengatakan, hampir 80 persen kebutuhan pangan Balikpapan dipenuhi dari luar daerah. Kondisi geografis kota yang memiliki lahan pertanian terbatas, membuat produksi lokal tidak mampu mengimbangi kebutuhan masyarakat.
“Produksi pertanian, peternakan, dan perikanan kami terbatas. Karena itu pasokan terbesar tetap dari daerah penghasil,” ucap Yuyun sapaan akrabnya, Minggu (23/11/2025).
Menurut Yuyun, komoditas utama seperti telur banyak dipasok dari Jawa Timur dan Sulawesi, sementara daging sapi berasal dari Sulawesi dan Bali. Kebutuhan daging juga didukung oleh stok daging beku yang beredar di pasaran.
“Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pasti memanfaatkan ketersediaan daging beku yang cukup besar,” terangnya.
Ia memastikan sejauh ini tidak ada laporan kelangkaan pangan, baik untuk kebutuhan harian masyarakat maupun tambahan permintaan akibat program MBG dan persiapan Natal-Tahun Baru (Nataru). Distributor pun masih dapat memenuhi permintaan sesuai mekanisme pasar.
“Yang penting kebutuhan pangan masyarakat tetap tercukupi,” tegasnya.
Untuk menjaga stabilitas pasokan dalam jangka panjang, Pemkot Balikpapan telah memperkuat kerja sama dengan berbagai daerah penghasil pangan, seperti penyuplai beras, cabai, dan bawang.
Kerja sama ini kemudian diteruskan oleh para distributor sebagai ujung tombak suplai di lapangan.
“Semua berlangsung lewat pejuang pangan kita, yaitu para distributor,” tutup Yuyun.
(Sf/Rs)