Cari disini...
Seputar Kaltim
Proses pembersihan sampah di SKM yang ada di kawasan Jalan Tongkol, Kelurahan Sungai Dama, Samarinda Ilir, Sabtu (18/5/2024) pagi. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda menggelar aksi giat bersih di Sungai Karang Mumus (SKM), Sabtu (18/5/2024) pagi.
Kepala DLH Samarinda, Endang Liansyah mengatakan kegiatan ini melibatkan sekitar 80 perahu.
Sekitar 60 perahu dari nelayan, ditambah dengan perahu dari DLH dan instansi lainnya, seperti BPBD kota dan provinsi serta Polair.
"Secara keseluruhan, ada sekitar 80 perahu yang berpartisipasi dalam kegiatan ini," ungkap Endang usai kegiatan bersih sungai.
Operasi pembersihan sampah dimulai dari Jalan Tongkol hingga Jalan Kehewanan. Dalam kegiatan ini, DLH juga mendapatkan bantuan dari Koramil, Polsek Samarinda Kota, pemerintah setempat, mahasiswa Universitas Widyagama dan masyarakat sekitar.
Endang menekankan, meski sungai berhasil dibersihkan, sampah akan kembali menumpuk jika masyarakat tidak sadar akan pentingnya menjaga kebersihan.
"Sungai ini bisa bersih berkepanjangan jika dilakukan penataan seperti pemasangan turap dan relokasi warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai," ujar Endang.
Ia menambahkan, sebagian besar sampah berasal dari warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai, pasar atau yang memiliki parit yang bermuara ke SKM.
Aksi bersih-bersih ini juga bertujuan untuk menyadarkan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan ke depannya.
Ia mengingatkan, SKM adalah bagian dari lingkungan hidup yang digunakan untuk berbagai keperluan seperti, mencuci dan mencari ikan. Sungai yang bersih juga berpotensi untuk dijadikan kawasan wisata.
"Kadang-kadang anak kita berenang di sini, atau diambil airnya untuk cuci-cuci, semisal air ini kotor harusnya bantu bersihkan," bebernya.
Endang mengaku prihatinan terhadap rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempat dan waktu yang telah ditentukan.
"Masyarakat masih banyak yang membuang sampah di luar jam yang ditetapkan, yaitu dari jam 6 sore hingga jam 6 pagi," ujarnya.
Kondisi ini menyebabkan penumpukan sampah di siang hari, meski petugas kebersihan sudah bekerja sejak pagi.
"Jika tidak mau membantu membersihkan, minimal jangan mengotori. Buanglah sampah di tempat pembuangan sementara (TPS) dan patuhi jadwal pembuangan sampah," tegasnya.
Ia berharap dengan kerja sama semua pihak, SKM dapat terjaga kebersihannya dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Samarinda.
"Kota ini punya kita, kita hidup di sini, kita juga yang mengotori, nanti kalau keluarga atau anaknya kena dampak, seperti muntaber dan DBD, baru yang disalahkan pemerintah," pungkasnya.
(Sf/By)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Proses pembersihan sampah di SKM yang ada di kawasan Jalan Tongkol, Kelurahan Sungai Dama, Samarinda Ilir, Sabtu (18/5/2024) pagi. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda menggelar aksi giat bersih di Sungai Karang Mumus (SKM), Sabtu (18/5/2024) pagi.
Kepala DLH Samarinda, Endang Liansyah mengatakan kegiatan ini melibatkan sekitar 80 perahu.
Sekitar 60 perahu dari nelayan, ditambah dengan perahu dari DLH dan instansi lainnya, seperti BPBD kota dan provinsi serta Polair.
"Secara keseluruhan, ada sekitar 80 perahu yang berpartisipasi dalam kegiatan ini," ungkap Endang usai kegiatan bersih sungai.
Operasi pembersihan sampah dimulai dari Jalan Tongkol hingga Jalan Kehewanan. Dalam kegiatan ini, DLH juga mendapatkan bantuan dari Koramil, Polsek Samarinda Kota, pemerintah setempat, mahasiswa Universitas Widyagama dan masyarakat sekitar.
Endang menekankan, meski sungai berhasil dibersihkan, sampah akan kembali menumpuk jika masyarakat tidak sadar akan pentingnya menjaga kebersihan.
"Sungai ini bisa bersih berkepanjangan jika dilakukan penataan seperti pemasangan turap dan relokasi warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai," ujar Endang.
Ia menambahkan, sebagian besar sampah berasal dari warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai, pasar atau yang memiliki parit yang bermuara ke SKM.
Aksi bersih-bersih ini juga bertujuan untuk menyadarkan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan ke depannya.
Ia mengingatkan, SKM adalah bagian dari lingkungan hidup yang digunakan untuk berbagai keperluan seperti, mencuci dan mencari ikan. Sungai yang bersih juga berpotensi untuk dijadikan kawasan wisata.
"Kadang-kadang anak kita berenang di sini, atau diambil airnya untuk cuci-cuci, semisal air ini kotor harusnya bantu bersihkan," bebernya.
Endang mengaku prihatinan terhadap rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempat dan waktu yang telah ditentukan.
"Masyarakat masih banyak yang membuang sampah di luar jam yang ditetapkan, yaitu dari jam 6 sore hingga jam 6 pagi," ujarnya.
Kondisi ini menyebabkan penumpukan sampah di siang hari, meski petugas kebersihan sudah bekerja sejak pagi.
"Jika tidak mau membantu membersihkan, minimal jangan mengotori. Buanglah sampah di tempat pembuangan sementara (TPS) dan patuhi jadwal pembuangan sampah," tegasnya.
Ia berharap dengan kerja sama semua pihak, SKM dapat terjaga kebersihannya dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Samarinda.
"Kota ini punya kita, kita hidup di sini, kita juga yang mengotori, nanti kalau keluarga atau anaknya kena dampak, seperti muntaber dan DBD, baru yang disalahkan pemerintah," pungkasnya.
(Sf/By)