Cari disini...
Seputar Kaltim
Jajaran Pemkab Kukar seusai membahasa pencanangan pelaksanaan Sensus 2026 (Foto: Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Tenggarong - Ketergantungan ekonomi Kutai Kartanegara (Kukar) terhadap sektor pertambangan masih sangat tinggi.
Tercatat sekitar 62 persen struktur perekonomian daerah masih ditopang sektor tambang dan penggalian, sehingga perubahan produksi batu bara maupun aktivitas usaha di sektor tersebut berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Kondisi ini disampaikan Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri saat menghadiri pencanangan Sensus Ekonomi 2026 yang digelar Badan Pusat Statistik (BPS) Kukar di Pendopo Odah Etam, Tenggarong, Kamis (11/6/2026).
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Kukar pada triwulan I 2026 yang tercatat sebesar 2,20 persen perlu dicermati lebih mendalam.
Sebab, fluktuasi pada sektor pertambangan masih menjadi faktor dominan yang mempengaruhi pergerakan ekonomi daerah.
"Ketika terjadi penurunan RKAB, produksi batu bara menurun atau terjadi pengurangan tenaga kerja di sektor pertambangan, dampaknya langsung terasa terhadap pertumbuhan ekonomi Kukar," ujar Aulia.
Ia menilai sejumlah sektor nonpertambangan mulai menunjukkan perkembangan positif, mulai dari usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), perdagangan hingga pertanian. Bahkan dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi penopang ekonomi daerah di masa mendatang.
Karena itu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar bersama BPS akan memanfaatkan hasil Sensus Ekonomi 2026 untuk memperoleh gambaran yang lebih rinci mengenai kontribusi masing-masing sektor terhadap perekonomian daerah.
Plh Kepala BPS Kukar, Khairil Anwar mengatakan Sensus Ekonomi 2026 merupakan program nasional yang bertujuan untuk menghasilkan data ekonomi yang lengkap, akurat dan berkualitas sebagai dasar perencanaan pembangunan.
Di Kukar, pendataan akan berlangsung mulai 15 Juni-31 Agustus 2026 dengan menyasar berbagai unit usaha, mulai dari UMKM hingga perusahaan berskala besar yang tersebar di 20 kecamatan.
Untuk mendukung pelaksanaan sensus tersebut, BPS Kukar mengerahkan 586 petugas lapangan yang terdiri dari 514 petugas pencacah dan 72 petugas pengawas.
Sebanyak 434 usaha besar juga akan menjadi target pendataan melalui skema pengisian mandiri yang didampingi langsung petugas BPS melalui program Ngisi Bareng (Nibar).
“Harapannya melalui Sensus 2026 ini dapat membantu pemerintah daerah dalam mengidentifikasi sektor-sektor unggulan di luar pertambangan yang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi Kukar secara berkelanjutan,” tandasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Jajaran Pemkab Kukar seusai membahasa pencanangan pelaksanaan Sensus 2026 (Foto: Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Tenggarong - Ketergantungan ekonomi Kutai Kartanegara (Kukar) terhadap sektor pertambangan masih sangat tinggi.
Tercatat sekitar 62 persen struktur perekonomian daerah masih ditopang sektor tambang dan penggalian, sehingga perubahan produksi batu bara maupun aktivitas usaha di sektor tersebut berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Kondisi ini disampaikan Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri saat menghadiri pencanangan Sensus Ekonomi 2026 yang digelar Badan Pusat Statistik (BPS) Kukar di Pendopo Odah Etam, Tenggarong, Kamis (11/6/2026).
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Kukar pada triwulan I 2026 yang tercatat sebesar 2,20 persen perlu dicermati lebih mendalam.
Sebab, fluktuasi pada sektor pertambangan masih menjadi faktor dominan yang mempengaruhi pergerakan ekonomi daerah.
"Ketika terjadi penurunan RKAB, produksi batu bara menurun atau terjadi pengurangan tenaga kerja di sektor pertambangan, dampaknya langsung terasa terhadap pertumbuhan ekonomi Kukar," ujar Aulia.
Ia menilai sejumlah sektor nonpertambangan mulai menunjukkan perkembangan positif, mulai dari usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), perdagangan hingga pertanian. Bahkan dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi penopang ekonomi daerah di masa mendatang.
Karena itu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar bersama BPS akan memanfaatkan hasil Sensus Ekonomi 2026 untuk memperoleh gambaran yang lebih rinci mengenai kontribusi masing-masing sektor terhadap perekonomian daerah.
Plh Kepala BPS Kukar, Khairil Anwar mengatakan Sensus Ekonomi 2026 merupakan program nasional yang bertujuan untuk menghasilkan data ekonomi yang lengkap, akurat dan berkualitas sebagai dasar perencanaan pembangunan.
Di Kukar, pendataan akan berlangsung mulai 15 Juni-31 Agustus 2026 dengan menyasar berbagai unit usaha, mulai dari UMKM hingga perusahaan berskala besar yang tersebar di 20 kecamatan.
Untuk mendukung pelaksanaan sensus tersebut, BPS Kukar mengerahkan 586 petugas lapangan yang terdiri dari 514 petugas pencacah dan 72 petugas pengawas.
Sebanyak 434 usaha besar juga akan menjadi target pendataan melalui skema pengisian mandiri yang didampingi langsung petugas BPS melalui program Ngisi Bareng (Nibar).
“Harapannya melalui Sensus 2026 ini dapat membantu pemerintah daerah dalam mengidentifikasi sektor-sektor unggulan di luar pertambangan yang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi Kukar secara berkelanjutan,” tandasnya.
(Sf/Rs)