Seputar Kaltim

    360 Ibu Hamil di Bontang Berisiko Lahirkan Bayi Stunting, Pemkot Gencarkan Intervensi Gizi dan Edukasi

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Lodya A
    27 Mei 2025 pukul 22:21 WITA

    Operasi timbang serentak di Bontang yang berlangsung pada 6 hingga 10 Mei 2025. (Foto: Kominfo Bontang)

    Bontang - Sebanyak 360 ibu hamil di Kota Bontang terdeteksi berisiko melahirkan bayi stunting, berdasarkan hasil operasi timbang serentak yang digelar pada 6-10 Mei 2025. 

    Temuan ini mendorong pemerintah untuk segera melakukan intervensi guna mencegah lahirnya bayi dengan kondisi kekurangan gizi.

    Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni mengatakan pihaknya juga memberikan perhatian intens kepada para ibu hamil. Bagi para ibu yang berisiko stunting, pemkot akan memberikan intervensi pencegahan, seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT) guna memenuhi gizi ibu dan bayi, hingga masa persalinan.

    “Nanti akan ada tim yang mendampingi dan tidak hanya kita berikan pemenuhan gizi makanan tapi juga pemahaman bagaimana mencegah stunting, khususnya kepada sang ibu,” ujarnya.

    Ia menjelaskan salah satu penyebab stunting adalah rendahnya literasi keluarga tentang pentingnya asupan gizi untuk memenuhi nutrisi bayi. Banyak ibu yang tidak menjaga pola hidup, sehingga saat hamil berisiko melahirkan bayi stunting.

    “Gaya hidup sangat berpengaruh, walaupun ada juga yang karena bawaan jadi ukuran balita tidak normal. Tapi tetap yang paling harus pastikan gizi anak tercukupi,” lanjutnya.

    Berdasarkan hasil timbang serentak yang menyasar lebih dari 10.000 balita, 1.219 di antaranya dinyatakan stunting atau sekitar 12 persen. Balita-balita tersebut juga akan menjadi perhatian Pemkot Bontang untuk dilakukan intervensi selama 56 hari ke depan. 

    Pemkot Bontang menargetkan dalam masa 100 kerja Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni dan Agus Hari, angka prevalensi stunting tuntas menjadi nol.

    “Target kita 100 hari kerja ini Bontang zero stunting, mudah-mudahan bisa,” ucap Neni.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    360 Ibu Hamil di Bontang Berisiko Lahirkan Bayi Stunting, Pemkot Gencarkan Intervensi Gizi dan Edukasi

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Lodya A
    27 Mei 2025 pukul 22:21 WITA

    Operasi timbang serentak di Bontang yang berlangsung pada 6 hingga 10 Mei 2025. (Foto: Kominfo Bontang)

    Bontang - Sebanyak 360 ibu hamil di Kota Bontang terdeteksi berisiko melahirkan bayi stunting, berdasarkan hasil operasi timbang serentak yang digelar pada 6-10 Mei 2025. 

    Temuan ini mendorong pemerintah untuk segera melakukan intervensi guna mencegah lahirnya bayi dengan kondisi kekurangan gizi.

    Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni mengatakan pihaknya juga memberikan perhatian intens kepada para ibu hamil. Bagi para ibu yang berisiko stunting, pemkot akan memberikan intervensi pencegahan, seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT) guna memenuhi gizi ibu dan bayi, hingga masa persalinan.

    “Nanti akan ada tim yang mendampingi dan tidak hanya kita berikan pemenuhan gizi makanan tapi juga pemahaman bagaimana mencegah stunting, khususnya kepada sang ibu,” ujarnya.

    Ia menjelaskan salah satu penyebab stunting adalah rendahnya literasi keluarga tentang pentingnya asupan gizi untuk memenuhi nutrisi bayi. Banyak ibu yang tidak menjaga pola hidup, sehingga saat hamil berisiko melahirkan bayi stunting.

    “Gaya hidup sangat berpengaruh, walaupun ada juga yang karena bawaan jadi ukuran balita tidak normal. Tapi tetap yang paling harus pastikan gizi anak tercukupi,” lanjutnya.

    Berdasarkan hasil timbang serentak yang menyasar lebih dari 10.000 balita, 1.219 di antaranya dinyatakan stunting atau sekitar 12 persen. Balita-balita tersebut juga akan menjadi perhatian Pemkot Bontang untuk dilakukan intervensi selama 56 hari ke depan. 

    Pemkot Bontang menargetkan dalam masa 100 kerja Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni dan Agus Hari, angka prevalensi stunting tuntas menjadi nol.

    “Target kita 100 hari kerja ini Bontang zero stunting, mudah-mudahan bisa,” ucap Neni.

    (Sf/Lo)