Seputar Kaltim

    2 Hal ini jadi Penyebab Kebakaran Paling Banyak di Samarinda 

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    13 Desember 2024 pukul 16:18 WITA

    Peristiwa kebakaran yang melanda warga Samarinda di Jalan Pelita, Kecamatan Sungai Pinang pada 26 Oktober lalu.(Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Disdamkar) dan Penyelamatan Kota Samarinda, Hendra AH menyebut kebakaran di Samarinda masih menjadi ancaman serius, dengan lebih dari 50 persen kasus disebabkan oleh korsleting listrik. Ia menegaskan bahwa masyarakat perlu lebih waspada terhadap kondisi peralatan listrik di rumah, seperti kabel dan colokan.

    Selain itu, kelalaian masyarakat juga menjadi faktor utama kebakaran, dengan tingkat kelalaian mencapai 90 persen. Kebakaran sering terjadi di Samarinda, berdasarkan data yang dihimpun dari media sosial Disdamkar Samarinda, sejak November hingga 13 Desember 2024 ini, sudah terjadi kebakaran sebanyak delapan kali. 

    “Korsleting listrik menjadi penyebab kebakaran terbanyak, lebih dari 50 persen.  Kemudian kelalaian juga terjadi hampir 90 persen. Contoh kecilnya adalah memasak dan meninggalkan kompor tanpa pengawasan. Kasus seperti ini cukup sering terjadi,” ungkap Hendra, saat diwawancara Jumat (13/12/2024) siang. 

    Hendra mengungkapkan berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi permasalahan ini, di antaranya juga dengan melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya kebakaran. Namun, kebiasaan lalai diakuinya masih menjadi tantangan besar yang harus dihadapi.

    Di sisi lain, Asisten I Sekretariat Daerah Kota Samarinda, Ridwan Tassa juga mengakui bahwa kebakaran di Samarinda kerap kali terjadi lebih sering dibandingkan kota besar lainnya. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, kebakaran besar bisa terjadi dua kali dalam sehari.

    “Ancaman kebakaran di Samarinda belum bisa dihindari, terutama karena faktor korsleting listrik. Ini disebabkan oleh penggunaan kabel lama dan kepadatan permukiman yang membuat petugas pemadam kebakaran sulit menjangkau lokasi,” ujar Ridwan.

    Untuk mengatasi masalah ini, Ridwan mengatakan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda tengah merancang program revitalisasi arus listrik di kawasan permukiman padat penduduk. Ridwan menambahkan bahwa program ini akan menjadi salah satu langkah utama untuk menekan angka kebakaran di Samarinda.

    “Kami akan menganggarkan program ini agar semua permukiman di Samarinda terhindar dari potensi kebakaran. Harapannya, kebakaran tidak lagi menjadi permasalahan rutin di kota ini,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    2 Hal ini jadi Penyebab Kebakaran Paling Banyak di Samarinda 

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    13 Desember 2024 pukul 16:18 WITA

    Peristiwa kebakaran yang melanda warga Samarinda di Jalan Pelita, Kecamatan Sungai Pinang pada 26 Oktober lalu.(Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Disdamkar) dan Penyelamatan Kota Samarinda, Hendra AH menyebut kebakaran di Samarinda masih menjadi ancaman serius, dengan lebih dari 50 persen kasus disebabkan oleh korsleting listrik. Ia menegaskan bahwa masyarakat perlu lebih waspada terhadap kondisi peralatan listrik di rumah, seperti kabel dan colokan.

    Selain itu, kelalaian masyarakat juga menjadi faktor utama kebakaran, dengan tingkat kelalaian mencapai 90 persen. Kebakaran sering terjadi di Samarinda, berdasarkan data yang dihimpun dari media sosial Disdamkar Samarinda, sejak November hingga 13 Desember 2024 ini, sudah terjadi kebakaran sebanyak delapan kali. 

    “Korsleting listrik menjadi penyebab kebakaran terbanyak, lebih dari 50 persen.  Kemudian kelalaian juga terjadi hampir 90 persen. Contoh kecilnya adalah memasak dan meninggalkan kompor tanpa pengawasan. Kasus seperti ini cukup sering terjadi,” ungkap Hendra, saat diwawancara Jumat (13/12/2024) siang. 

    Hendra mengungkapkan berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi permasalahan ini, di antaranya juga dengan melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya kebakaran. Namun, kebiasaan lalai diakuinya masih menjadi tantangan besar yang harus dihadapi.

    Di sisi lain, Asisten I Sekretariat Daerah Kota Samarinda, Ridwan Tassa juga mengakui bahwa kebakaran di Samarinda kerap kali terjadi lebih sering dibandingkan kota besar lainnya. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, kebakaran besar bisa terjadi dua kali dalam sehari.

    “Ancaman kebakaran di Samarinda belum bisa dihindari, terutama karena faktor korsleting listrik. Ini disebabkan oleh penggunaan kabel lama dan kepadatan permukiman yang membuat petugas pemadam kebakaran sulit menjangkau lokasi,” ujar Ridwan.

    Untuk mengatasi masalah ini, Ridwan mengatakan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda tengah merancang program revitalisasi arus listrik di kawasan permukiman padat penduduk. Ridwan menambahkan bahwa program ini akan menjadi salah satu langkah utama untuk menekan angka kebakaran di Samarinda.

    “Kami akan menganggarkan program ini agar semua permukiman di Samarinda terhindar dari potensi kebakaran. Harapannya, kebakaran tidak lagi menjadi permasalahan rutin di kota ini,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)