Cari disini...
Seputar Kaltim
Kasi Kesos Kecamatan Penajam, Syarifah Zahra.(Foto: Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Penajam - Sebanyak 1.118 anak di Penajam Paser Utara (PPU) terindikasi menderita gangguan pertumbuhan atau Stunting pada periode Januari hingga Agustus 2024.
Berdasarkan data yang dirilis Dinas Kesehatan (Dinkes) PPU, angka stunting terbanyak berada di tiga kelurahan di Kecamatan Penajam, tepatnya Kelurahan Buluminung dengan 74 kasus.
Kemudian Kelurahan Sesumpu 40 kasus dan Kelurahan Riko 40 kasus, sehingga Pemerintah Kecamatan Penajam didorong Dinkes untuk lebih proaktif menangani permasalahan stunting di wilayah kerjanya.
Kasi Kesejahteraan Sosial (Kesos) Kecamatan Penajam, Syarifah Zahra mengatakan telah menginstruksikan ratusan kader Posyandu di 23 desa/kelurahan untuk rutin melakukan pendataan dan pemeriksaan terhadap anak penderita stunting.
“Tingginya angka stunting di Penajam disebabkan kurangnya pemahaman orang tua terhadap makanan yang bergizi dan seimbang, bahkan mereka kurang memahami betapa pentingnya memberikan makanan bergizi pada 1.000 Hari Kehidupan Pertama (HPK) anak yang dimulai sejak janin terbentuk hingga berusia dua tahun,” ucap Syarifah, Selasa (19/11/2024).
Faktor ekonomi keluarga yang tidak stabil juga merupakan salah satu faktor yang bisa menyebabkan anak terkena stunting. Sebab, kondisi ekonomi yang rendah dapat membuat suatu keluarga kesulitan untuk memperoleh makanan yang bergizi dan seimbang untuk diberikan kepada anaknya.
Untuk memastikan angka stunting di Penajam tidak bertambah, Pemerintah Kecamatan Penajam mengucurkan anggaran senilai Rp50 juta kepada 23 desa/kelurahan.
“Kita salurkan anggaran itu enam bulan sekali dan standar besarannya Rp50 juta, namun setiap desa/kelurahan mendapatkan nilai anggaran yang berbeda,” ungkap Syarifah.
Anggaran itu, kata dia, dipergunakan untuk menyediakan makanan tambahan atau sembako berupa beras, minyak goreng, susu bubuk, kacang hijau dan gula pasir.
Rinciannya, masing-masing anak penderita stunting bakal menerima
beras lima Kilogram (Kg), minyak goreng satu liter, susu bebelac satu paket, kacang hijau satu Kg dan gula pasir satu Kg.
Syarifah mengaku meski anggaran itu digunakan untuk menyediakan makanan tambahan untuk diberikan kepada anak penderita stunting, tetapi laporan yang diterima bahwa masih banyak ditemukan orang tua menjual kembali sembako yang telah diberikan, sehingga penanganan stunting dianggap kurang maksimal dan tidak tepat sasaran.
“Dari laporan kader posyandu yang bertugas saat melakukan pendataan di desa/kelurahan masih didapati orang tua yang malah menjual pemberian sembako, karena tuntutan ekonomi. Kami juga tidak bisa menindak hal itu karena sudah menjadi hak mereka,” jelasnya.
Syarifah berharap saat mengalokasikan anggaran pada 2025 mendatang, bisa dimanfaatkan lebih maksimal oleh penerima manfaat agar angka stunting di Penajam bisa ditekan.
“Anak-anak kita harus tumbuh dan berkembang sesuai dengan anak di usianya,” tandasnya.
(Sf/By)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kasi Kesos Kecamatan Penajam, Syarifah Zahra.(Foto: Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Penajam - Sebanyak 1.118 anak di Penajam Paser Utara (PPU) terindikasi menderita gangguan pertumbuhan atau Stunting pada periode Januari hingga Agustus 2024.
Berdasarkan data yang dirilis Dinas Kesehatan (Dinkes) PPU, angka stunting terbanyak berada di tiga kelurahan di Kecamatan Penajam, tepatnya Kelurahan Buluminung dengan 74 kasus.
Kemudian Kelurahan Sesumpu 40 kasus dan Kelurahan Riko 40 kasus, sehingga Pemerintah Kecamatan Penajam didorong Dinkes untuk lebih proaktif menangani permasalahan stunting di wilayah kerjanya.
Kasi Kesejahteraan Sosial (Kesos) Kecamatan Penajam, Syarifah Zahra mengatakan telah menginstruksikan ratusan kader Posyandu di 23 desa/kelurahan untuk rutin melakukan pendataan dan pemeriksaan terhadap anak penderita stunting.
“Tingginya angka stunting di Penajam disebabkan kurangnya pemahaman orang tua terhadap makanan yang bergizi dan seimbang, bahkan mereka kurang memahami betapa pentingnya memberikan makanan bergizi pada 1.000 Hari Kehidupan Pertama (HPK) anak yang dimulai sejak janin terbentuk hingga berusia dua tahun,” ucap Syarifah, Selasa (19/11/2024).
Faktor ekonomi keluarga yang tidak stabil juga merupakan salah satu faktor yang bisa menyebabkan anak terkena stunting. Sebab, kondisi ekonomi yang rendah dapat membuat suatu keluarga kesulitan untuk memperoleh makanan yang bergizi dan seimbang untuk diberikan kepada anaknya.
Untuk memastikan angka stunting di Penajam tidak bertambah, Pemerintah Kecamatan Penajam mengucurkan anggaran senilai Rp50 juta kepada 23 desa/kelurahan.
“Kita salurkan anggaran itu enam bulan sekali dan standar besarannya Rp50 juta, namun setiap desa/kelurahan mendapatkan nilai anggaran yang berbeda,” ungkap Syarifah.
Anggaran itu, kata dia, dipergunakan untuk menyediakan makanan tambahan atau sembako berupa beras, minyak goreng, susu bubuk, kacang hijau dan gula pasir.
Rinciannya, masing-masing anak penderita stunting bakal menerima
beras lima Kilogram (Kg), minyak goreng satu liter, susu bebelac satu paket, kacang hijau satu Kg dan gula pasir satu Kg.
Syarifah mengaku meski anggaran itu digunakan untuk menyediakan makanan tambahan untuk diberikan kepada anak penderita stunting, tetapi laporan yang diterima bahwa masih banyak ditemukan orang tua menjual kembali sembako yang telah diberikan, sehingga penanganan stunting dianggap kurang maksimal dan tidak tepat sasaran.
“Dari laporan kader posyandu yang bertugas saat melakukan pendataan di desa/kelurahan masih didapati orang tua yang malah menjual pemberian sembako, karena tuntutan ekonomi. Kami juga tidak bisa menindak hal itu karena sudah menjadi hak mereka,” jelasnya.
Syarifah berharap saat mengalokasikan anggaran pada 2025 mendatang, bisa dimanfaatkan lebih maksimal oleh penerima manfaat agar angka stunting di Penajam bisa ditekan.
“Anak-anak kita harus tumbuh dan berkembang sesuai dengan anak di usianya,” tandasnya.
(Sf/By)