Seputar Indonesia

    Kementan Kucurkan Bantuan Rp300 Juta Tiap Keluarga ASN yang jadi Korban Penembakan di Jaya Wijaya

    Penulis:Redaksi|Redaktur:Rusdianto
    22 September 2026 pukul 20:13 WITA

    Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bertemu dengan anggota keluarga korban. (Dok Kementan RI)

    Samarinda - Kementerian Pertanian Republik Indonesia memberikan intervensi dukungan pendidikan dan jaminan kelangsungan hidup bagi keluarga tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan. Ketiga abdi negara tersebut dinyatakan gugur saat menjalankan tugas pelayanan pertanian dan masyarakat di wilayah tersebut.

    Langkah afirmatif dari pemerintah pusat ini direalisasikan melalui pertemuan langsung antara Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dengan anggota keluarga korban. Berdasarkan informasi resmi yang dilansir dari website Kementerian Pertanian, pertemuan serah terima bantuan tersebut berlangsung di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, pada Selasa (22/09/2026).

    Dalam pertemuan tersebut, pemerintah menyerahkan paket bantuan finansial yang difokuskan pada jaminan pendidikan bagi anak-anak korban. Menteri Pertanian mengalokasikan dana pendidikan sebesar Rp50 juta untuk setiap anak dari pegawai yang gugur. Secara akumulatif, total nilai dukungan yang disalurkan mencapai angka Rp300 juta untuk masing-masing keluarga korban.

    Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa bantuan tersebut merupakan bentuk kehadiran negara sekaligus dukungan moral bagi keluarga, khususnya anak-anak yang kini kehilangan orang tua mereka.

    "Kami hari ini sebagai Menteri Pertanian dan seluruh teman-teman memberikan dukungan moril kepada anak-anak yang ditinggalkan. Insyaallah kami beri beasiswa sesuai kemampuan kita, satu orang Rp50 juta. Totalnya dengan keluarganya Rp300 juta," ujar Mentan Amran.

    Pemerintah memutuskan kebijakan pencairan dana dukungan tersebut dilakukan secara penuh dalam satu waktu pencairan. Langkah ini diambil agar keseluruhan dana dapat langsung diamankan oleh pihak keluarga dan dialihfungsikan sebagai tabungan pendidikan jangka panjang. Mentan Amran meminta perwakilan keluarga yang hadir untuk memastikan dana itu dimanfaatkan sepenuhnya demi keberlanjutan sekolah anak-anak korban.

    "Langsung kita serahkan, bukan serahkan bertahap. Ini, Nak, disimpan nanti, tabungan untuk sekolah," katanya saat menyerahkan bantuan tersebut kepada perwakilan keluarga.

    Kehilangan orang tua yang berstatus sebagai tulang punggung keluarga kerap membawa risiko putusnya akses pendidikan bagi anak. Oleh karena itu, Menteri Pertanian memberikan penekanan khusus agar anak-anak pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya tersebut tetap bisa menempuh pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi.

    "Kami harapkan anak-anak yang ditinggalkan itu pendidikannya tinggi dan doakan orang tuanya yang telah gugur dalam tugas," ujarnya.

    Pemerintah menyadari bahwa intervensi finansial satu kali tidak cukup untuk menggantikan peran ekonomi anggota keluarga yang meninggal dunia. Sebagai solusi jangka panjang atas hilangnya sumber penghidupan utama, pemerintah melalui sinergi kementerian dan lembaga turut menyertakan jaminan keberlanjutan ekonomi keluarga. Satu orang perwakilan dari masing-masing keluarga korban diberikan akses dan kesempatan untuk bekerja secara resmi di Perusahaan Umum (Perum) Bulog.

    Keputusan pemberian posisi pekerjaan ini dirancang agar keluarga korban kembali memiliki pendapatan tetap. Hal ini diharapkan mampu menopang kebutuhan hidup sehari-hari keluarga yang ditinggalkan.

    Bagi pihak keluarga, intervensi berlapis dari pemerintah pusat ini memberikan jalan keluar atas krisis finansial yang mendadak mereka hadapi. Yohanis Tonglo, suami dari almarhumah Afrida Rapi, menceritakan dampak psikologis dan ekonomi yang sempat menghantam keluarganya paska kepergian sang istri. Anak pertamanya bahkan sempat berencana mengorbankan pendidikannya demi mengambil alih tanggung jawab ekonomi keluarga.

    "Anak saya yang pertama merangkul saya dan membisikkan, 'Pak, biar saya berhenti kuliah saja, supaya saya bisa kerja membantu adik-adik saya.' Tapi Tuhan ternyata Maha Besar. Tuhan mengirim malaikat kepada kami lewat Pak Dirut untuk menjawab kekhawatiran kami ini," tutur Yohanis.

    Yohanis menyampaikan apresiasi atas langkah cepat Menteri Pertanian dan Direktur Utama Bulog yang secara konkret memberikan solusi atas kekhawatiran keluarganya melalui bantuan uang tunai dan akses pekerjaan.

    "Kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Menteri yang sudah menaruh perhatian besar kepada kami keluarga korban, khususnya anak-anak kami. Kami sungguh diberikan dukungan yang besar untuk melanjutkan proses pendidikan anak-anak kami," ujarnya.

    Kesaksian serupa datang dari perwakilan keluarga almarhum Willy Mbuik. Kakak kandung almarhum, Minto Mbuik, ditunjuk sebagai salah satu anggota keluarga yang menerima kesempatan bekerja di lingkungan Perum Bulog. Minto menilai langkah pemerintah ini memberikan kepastian ekonomi yang sama sekali tidak pernah mereka prediksi sebelumnya.

    "Ini hal yang tidak kami cari, tidak pernah kami bayangkan sebelumnya, tapi hari ini mungkin cara Tuhan untuk kami keluarga dapatkan. Saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Dirut dan Pak Menteri yang hari ini sudah memberi kami berkat," katanya.

    Respons positif juga diutarakan oleh Yurita Galung. Istri dari almarhum dokter hewan Alfonsius Mehan tersebut memandang undangan langsung ke Jakarta sebagai bentuk kepedulian institusi tempat suaminya mengabdi.

    "Saya bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan kalau saya masih diberikan kesehatan dan kekuatan dengan cobaan yang terjadi. Saya ucapkan terima kasih untuk Menteri Pertanian yang boleh mengundang kami, bentuk tali kasih dan kepedulian terhadap kami," ujar Yurita.

    Pendampingan keluarga korban di Jakarta turut dihadiri oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Jayawijaya. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Hendri Yohanes, hadir secara langsung dan melihat bagaimana pemerintah pusat merespons insiden gugurnya para pegawai daerah tersebut. Hendri mengklasifikasikan dukungan dari kementerian ini sebagai bentuk nyata tanggung jawab dan penghargaan negara terhadap pengorbanan aparaturnya di lapangan.

    "Atas nama Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, dalam hal ini Bapak Bupati dan Bapak Wakil, mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Kementerian Pertanian atas perhatian, dukungan, dan pemberian kerja kepada anak, saudara, dan rekan kami yang menjadi korban di Jayawijaya," ujarnya.

    Dalam penutupan agenda serah terima tersebut, Mentan Amran kembali menyoroti pentingnya komitmen keluarga untuk menjaga fokus masa depan anak-anak korban. Segala fasilitas yang diberikan pemerintah, mulai dari modal finansial hingga jaminan pekerjaan, didesain agar cita-cita generasi penerus keluarga tidak terhenti di tengah jalan akibat musibah ini.

    "Jaga anak-anaknya. Bina anak-anaknya. Jaga dia supaya tamat sekolah," pesan Mentan Amran.

    Seputar Indonesia

    Kementan Kucurkan Bantuan Rp300 Juta Tiap Keluarga ASN yang jadi Korban Penembakan di Jaya Wijaya

    Penulis:Redaksi|Redaktur:Rusdianto
    22 September 2026 pukul 20:13 WITA

    Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bertemu dengan anggota keluarga korban. (Dok Kementan RI)

    Samarinda - Kementerian Pertanian Republik Indonesia memberikan intervensi dukungan pendidikan dan jaminan kelangsungan hidup bagi keluarga tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan. Ketiga abdi negara tersebut dinyatakan gugur saat menjalankan tugas pelayanan pertanian dan masyarakat di wilayah tersebut.

    Langkah afirmatif dari pemerintah pusat ini direalisasikan melalui pertemuan langsung antara Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dengan anggota keluarga korban. Berdasarkan informasi resmi yang dilansir dari website Kementerian Pertanian, pertemuan serah terima bantuan tersebut berlangsung di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, pada Selasa (22/09/2026).

    Dalam pertemuan tersebut, pemerintah menyerahkan paket bantuan finansial yang difokuskan pada jaminan pendidikan bagi anak-anak korban. Menteri Pertanian mengalokasikan dana pendidikan sebesar Rp50 juta untuk setiap anak dari pegawai yang gugur. Secara akumulatif, total nilai dukungan yang disalurkan mencapai angka Rp300 juta untuk masing-masing keluarga korban.

    Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa bantuan tersebut merupakan bentuk kehadiran negara sekaligus dukungan moral bagi keluarga, khususnya anak-anak yang kini kehilangan orang tua mereka.

    "Kami hari ini sebagai Menteri Pertanian dan seluruh teman-teman memberikan dukungan moril kepada anak-anak yang ditinggalkan. Insyaallah kami beri beasiswa sesuai kemampuan kita, satu orang Rp50 juta. Totalnya dengan keluarganya Rp300 juta," ujar Mentan Amran.

    Pemerintah memutuskan kebijakan pencairan dana dukungan tersebut dilakukan secara penuh dalam satu waktu pencairan. Langkah ini diambil agar keseluruhan dana dapat langsung diamankan oleh pihak keluarga dan dialihfungsikan sebagai tabungan pendidikan jangka panjang. Mentan Amran meminta perwakilan keluarga yang hadir untuk memastikan dana itu dimanfaatkan sepenuhnya demi keberlanjutan sekolah anak-anak korban.

    "Langsung kita serahkan, bukan serahkan bertahap. Ini, Nak, disimpan nanti, tabungan untuk sekolah," katanya saat menyerahkan bantuan tersebut kepada perwakilan keluarga.

    Kehilangan orang tua yang berstatus sebagai tulang punggung keluarga kerap membawa risiko putusnya akses pendidikan bagi anak. Oleh karena itu, Menteri Pertanian memberikan penekanan khusus agar anak-anak pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya tersebut tetap bisa menempuh pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi.

    "Kami harapkan anak-anak yang ditinggalkan itu pendidikannya tinggi dan doakan orang tuanya yang telah gugur dalam tugas," ujarnya.

    Pemerintah menyadari bahwa intervensi finansial satu kali tidak cukup untuk menggantikan peran ekonomi anggota keluarga yang meninggal dunia. Sebagai solusi jangka panjang atas hilangnya sumber penghidupan utama, pemerintah melalui sinergi kementerian dan lembaga turut menyertakan jaminan keberlanjutan ekonomi keluarga. Satu orang perwakilan dari masing-masing keluarga korban diberikan akses dan kesempatan untuk bekerja secara resmi di Perusahaan Umum (Perum) Bulog.

    Keputusan pemberian posisi pekerjaan ini dirancang agar keluarga korban kembali memiliki pendapatan tetap. Hal ini diharapkan mampu menopang kebutuhan hidup sehari-hari keluarga yang ditinggalkan.

    Bagi pihak keluarga, intervensi berlapis dari pemerintah pusat ini memberikan jalan keluar atas krisis finansial yang mendadak mereka hadapi. Yohanis Tonglo, suami dari almarhumah Afrida Rapi, menceritakan dampak psikologis dan ekonomi yang sempat menghantam keluarganya paska kepergian sang istri. Anak pertamanya bahkan sempat berencana mengorbankan pendidikannya demi mengambil alih tanggung jawab ekonomi keluarga.

    "Anak saya yang pertama merangkul saya dan membisikkan, 'Pak, biar saya berhenti kuliah saja, supaya saya bisa kerja membantu adik-adik saya.' Tapi Tuhan ternyata Maha Besar. Tuhan mengirim malaikat kepada kami lewat Pak Dirut untuk menjawab kekhawatiran kami ini," tutur Yohanis.

    Yohanis menyampaikan apresiasi atas langkah cepat Menteri Pertanian dan Direktur Utama Bulog yang secara konkret memberikan solusi atas kekhawatiran keluarganya melalui bantuan uang tunai dan akses pekerjaan.

    "Kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Menteri yang sudah menaruh perhatian besar kepada kami keluarga korban, khususnya anak-anak kami. Kami sungguh diberikan dukungan yang besar untuk melanjutkan proses pendidikan anak-anak kami," ujarnya.

    Kesaksian serupa datang dari perwakilan keluarga almarhum Willy Mbuik. Kakak kandung almarhum, Minto Mbuik, ditunjuk sebagai salah satu anggota keluarga yang menerima kesempatan bekerja di lingkungan Perum Bulog. Minto menilai langkah pemerintah ini memberikan kepastian ekonomi yang sama sekali tidak pernah mereka prediksi sebelumnya.

    "Ini hal yang tidak kami cari, tidak pernah kami bayangkan sebelumnya, tapi hari ini mungkin cara Tuhan untuk kami keluarga dapatkan. Saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Dirut dan Pak Menteri yang hari ini sudah memberi kami berkat," katanya.

    Respons positif juga diutarakan oleh Yurita Galung. Istri dari almarhum dokter hewan Alfonsius Mehan tersebut memandang undangan langsung ke Jakarta sebagai bentuk kepedulian institusi tempat suaminya mengabdi.

    "Saya bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan kalau saya masih diberikan kesehatan dan kekuatan dengan cobaan yang terjadi. Saya ucapkan terima kasih untuk Menteri Pertanian yang boleh mengundang kami, bentuk tali kasih dan kepedulian terhadap kami," ujar Yurita.

    Pendampingan keluarga korban di Jakarta turut dihadiri oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Jayawijaya. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Hendri Yohanes, hadir secara langsung dan melihat bagaimana pemerintah pusat merespons insiden gugurnya para pegawai daerah tersebut. Hendri mengklasifikasikan dukungan dari kementerian ini sebagai bentuk nyata tanggung jawab dan penghargaan negara terhadap pengorbanan aparaturnya di lapangan.

    "Atas nama Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, dalam hal ini Bapak Bupati dan Bapak Wakil, mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Kementerian Pertanian atas perhatian, dukungan, dan pemberian kerja kepada anak, saudara, dan rekan kami yang menjadi korban di Jayawijaya," ujarnya.

    Dalam penutupan agenda serah terima tersebut, Mentan Amran kembali menyoroti pentingnya komitmen keluarga untuk menjaga fokus masa depan anak-anak korban. Segala fasilitas yang diberikan pemerintah, mulai dari modal finansial hingga jaminan pekerjaan, didesain agar cita-cita generasi penerus keluarga tidak terhenti di tengah jalan akibat musibah ini.

    "Jaga anak-anaknya. Bina anak-anaknya. Jaga dia supaya tamat sekolah," pesan Mentan Amran.