Seputar Dunia

    Wakili Indonesia, Samarinda Sumbang 515 Data Observasi ke Basis Ilmu Pengetahuan Global Lewat The Home River Bioblitz 2026

    Redaktur:Lodya A
    20 September 2026 pukul 23:53 WITA

    Mahasiswa, akademisi hingga warga lokal turun ke DAS Karang Mumus, untuk observasi sains warga pada The Home River Bioblitz 2026, Minggu (20/9/2026). (Foto: Tria untuk Seputarfakta.com)

    Samarinda - Edukasi lingkungan sering kali terhenti pada tahapan teori semata tanpa adanya rencana aksi lanjutan yang jelas. 

    Menyadari hal tersebut, Kalimantana Creative bersama River Collective hadir menawarkan solusi konkret melalui penyelenggaraan The Home River Bioblitz 2026. Kegiatan ini dirancang secara khusus untuk mengajak masyarakat melampaui batasan sekadar melihat-lihat keadaan alam. 

    Mengambil lokasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Karang Mumus segmen Jalan Gelatik belakang kampus Universitas Mulawarman, acara ini bergulir pada hari Minggu, 20/9/2026) sejak pukul 08.30 Wita. Untuk mempertegas tujuan akhirnya, panitia menetapkan sebuah tema pokok bertajuk Sungai Karang Mumus Calling, Observe, Discuss, and Connect. Tema ini mengandung makna filosofis yang sangat kuat. Para pengamat lingkungan tidak hanya diminta untuk mengobservasi keanekaragaman hayati yang mereka temui, melainkan juga mendiskusikan temuan-temuan tersebut secara mendalam. 

    Pada tahap paling krusial, warga didorong untuk saling berkoneksi dan membangun jejaring dengan berbagai pihak, baik dengan sesama warga lokal maupun dengan komunitas global di level internasional.
     
    Pemilihan konsep yang matang ini terbukti sangat diminati oleh kalangan terpelajar maupun masyarakat luas di Samarinda. Dalam sebulan terakhir, Samarinda memang sedang diuji dengan cuaca yang sangat terik akibat kemarau serta munculnya ancaman kabut asap yang dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan. Situasi lingkungan yang kurang menguntungkan ini justru dipakai sebagai momentum pembuktian kepedulian warga. Sedikitnya ada 113 orang yang mencatatkan diri dalam barisan kepanitiaan dan kepesertaan acara ini. 

    Pada waktu penyelenggaraan di lapangan, tercatat ada 97 orang yang sigap melakukan pendataan. Delapan di antaranya adalah warga masyarakat umum, sementara sisanya didominasi oleh mahasiswa. Sorotan khusus patut diberikan kepada lebih dari 60 orang mahasiswa asal Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Mulawarman yang mendominasi jumlah kelompok sukarelawan. 

    Acara yang merupakan gelaran  kedua di Samarinda ini juga didukung oleh institusi besar seperti Rektor Universitas Mulawarman, Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, LP2M Unmul, serta Fakultas Pertanian dan Peternakan Unmul.
     
    Hasil penerapan konsep observasi berjejaring ini membuahkan hasil yang patut dibanggakan oleh bangsa Indonesia. Berkat ketekunan menyusuri sungai dan mencatat segala spesies yang ditemui, para peserta berhasil mengumpulkan sebanyak 515 data hasil observasi. Jumlah catatan ilmiah warga ini sangat signifikan hingga menempatkan posisi Kota Samarinda di urutan keenam dunia berdasarkan total jumlah pengamatan harian. Prestasi ini sangat fenomenal karena The Home River Bioblitz tahun 2026 ini digelar dalam waktu yang bersamaan pada 18, 19, dan 20 September 2026 di 144 sungai yang tersebar di 77 negara sedunia. 

    Kebanggaan ini semakin berlipat ganda karena Sungai Karang Mumus maju sebagai perwakilan tunggal dari Indonesia dalam gerakan kolektif internasional tersebut. Keberhasilan melakukan koneksi data lokal ke basis data dunia ini menunjukkan bahwa warga Samarinda bersungguh-sungguh ingin menjadikan bumi sebagai tempat tinggal yang lebih baik bagi seluruh ciptaan.
     
    Founder Kalimantana  sekaligus penanggung jawab wilayah untuk Indonesia, Rusdianto mengungkapkan kebahagiaan dan kebanggaannya atas dedikasi para relawan.
     
    "Saya sangat bahagia melihat semangat teman-teman," sebut Rusdianto.
     
    Ia memaparkan bahwa mendokumentasikan makhluk hidup non-manusia di bantaran air ini adalah langkah strategis untuk masa depan sains.
     
    "Home River Bioblitz ini adalah upaya kecil untuk memahami sungai kita dan data yang dikumpulkan itu akan menjadi kontribusi kita terhadap sains dunia. Mungkin tidak akan langsung berdampak secara langsung kepada kita dengan adanya penemuan baru dan lain sebagainya, tapi ini tuh menjadi bentuk daripada pelaksanaan amanat Undang-Undang Dasar 1945 karena disebutkan di sana tuh mengikuti ketertiban dunia," beber Rusdi. 


    Menyadari besarnya volume data yang dikumpulkan oleh publik, intervensi para pakar menjadi sebuah kewajiban.
     
    "Kehadiran akademisi, ilmuan dan researcher adalah sebagai upaya agar proses Observasi sains warga yang dilakukan lebih terarah," imbuhnya.
     
    Dr Muhammad Ichsan Haris yang bertindak selaku akademisi serta dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan Unmul menyetujui langkah kolaboratif ini. Menurutnya, terjun ke lapangan adalah cara terbaik untuk mencintai lingkungan sekaligus mencetak generasi intelektual yang peka terhadap kondisi sekitarnya.
     
    "Ini adalah sebuah kolektif yang patut kami apresiasi. Karena di tengah semua kesulitan yang dihadapi masyarakat yang berkaitan langsung dengan kondisi alam, gerakan untuk mengenali sekitar terutama ekosistem sungai adalah hal yang konkret. Kita bisa mungkin saja menemukan solusi atas masalah-masalah yang kita hadapi, salah satu caranya adalah dengan mengetahui dahulu lingkungan kita sendiri. Selain itu, dalam konteks sebagai aktivitas akademik, ini juga membantu mahasiswa menemukan cara baru yang lebih mudah dan menyenangkan untuk mempelajari taksonomi tumbuhan hewan dan biodiversitas sungai," terang Ichsan.

     
    Gerakan akar rumput yang digagas di Samarinda ini membuktikan bahwa sebuah aksi sederhana di tingkat lokal dapat memberikan dampak gema yang sangat luas di ranah global, asalkan dikerjakan dengan landasan pengetahuan, diskusi, dan keinginan untuk terus terhubung dengan sesama penduduk bumi.

    Seputar Dunia

    Wakili Indonesia, Samarinda Sumbang 515 Data Observasi ke Basis Ilmu Pengetahuan Global Lewat The Home River Bioblitz 2026

    Redaktur:Lodya A
    20 September 2026 pukul 23:53 WITA

    Mahasiswa, akademisi hingga warga lokal turun ke DAS Karang Mumus, untuk observasi sains warga pada The Home River Bioblitz 2026, Minggu (20/9/2026). (Foto: Tria untuk Seputarfakta.com)

    Samarinda - Edukasi lingkungan sering kali terhenti pada tahapan teori semata tanpa adanya rencana aksi lanjutan yang jelas. 

    Menyadari hal tersebut, Kalimantana Creative bersama River Collective hadir menawarkan solusi konkret melalui penyelenggaraan The Home River Bioblitz 2026. Kegiatan ini dirancang secara khusus untuk mengajak masyarakat melampaui batasan sekadar melihat-lihat keadaan alam. 

    Mengambil lokasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Karang Mumus segmen Jalan Gelatik belakang kampus Universitas Mulawarman, acara ini bergulir pada hari Minggu, 20/9/2026) sejak pukul 08.30 Wita. Untuk mempertegas tujuan akhirnya, panitia menetapkan sebuah tema pokok bertajuk Sungai Karang Mumus Calling, Observe, Discuss, and Connect. Tema ini mengandung makna filosofis yang sangat kuat. Para pengamat lingkungan tidak hanya diminta untuk mengobservasi keanekaragaman hayati yang mereka temui, melainkan juga mendiskusikan temuan-temuan tersebut secara mendalam. 

    Pada tahap paling krusial, warga didorong untuk saling berkoneksi dan membangun jejaring dengan berbagai pihak, baik dengan sesama warga lokal maupun dengan komunitas global di level internasional.
     
    Pemilihan konsep yang matang ini terbukti sangat diminati oleh kalangan terpelajar maupun masyarakat luas di Samarinda. Dalam sebulan terakhir, Samarinda memang sedang diuji dengan cuaca yang sangat terik akibat kemarau serta munculnya ancaman kabut asap yang dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan. Situasi lingkungan yang kurang menguntungkan ini justru dipakai sebagai momentum pembuktian kepedulian warga. Sedikitnya ada 113 orang yang mencatatkan diri dalam barisan kepanitiaan dan kepesertaan acara ini. 

    Pada waktu penyelenggaraan di lapangan, tercatat ada 97 orang yang sigap melakukan pendataan. Delapan di antaranya adalah warga masyarakat umum, sementara sisanya didominasi oleh mahasiswa. Sorotan khusus patut diberikan kepada lebih dari 60 orang mahasiswa asal Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Mulawarman yang mendominasi jumlah kelompok sukarelawan. 

    Acara yang merupakan gelaran  kedua di Samarinda ini juga didukung oleh institusi besar seperti Rektor Universitas Mulawarman, Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, LP2M Unmul, serta Fakultas Pertanian dan Peternakan Unmul.
     
    Hasil penerapan konsep observasi berjejaring ini membuahkan hasil yang patut dibanggakan oleh bangsa Indonesia. Berkat ketekunan menyusuri sungai dan mencatat segala spesies yang ditemui, para peserta berhasil mengumpulkan sebanyak 515 data hasil observasi. Jumlah catatan ilmiah warga ini sangat signifikan hingga menempatkan posisi Kota Samarinda di urutan keenam dunia berdasarkan total jumlah pengamatan harian. Prestasi ini sangat fenomenal karena The Home River Bioblitz tahun 2026 ini digelar dalam waktu yang bersamaan pada 18, 19, dan 20 September 2026 di 144 sungai yang tersebar di 77 negara sedunia. 

    Kebanggaan ini semakin berlipat ganda karena Sungai Karang Mumus maju sebagai perwakilan tunggal dari Indonesia dalam gerakan kolektif internasional tersebut. Keberhasilan melakukan koneksi data lokal ke basis data dunia ini menunjukkan bahwa warga Samarinda bersungguh-sungguh ingin menjadikan bumi sebagai tempat tinggal yang lebih baik bagi seluruh ciptaan.
     
    Founder Kalimantana  sekaligus penanggung jawab wilayah untuk Indonesia, Rusdianto mengungkapkan kebahagiaan dan kebanggaannya atas dedikasi para relawan.
     
    "Saya sangat bahagia melihat semangat teman-teman," sebut Rusdianto.
     
    Ia memaparkan bahwa mendokumentasikan makhluk hidup non-manusia di bantaran air ini adalah langkah strategis untuk masa depan sains.
     
    "Home River Bioblitz ini adalah upaya kecil untuk memahami sungai kita dan data yang dikumpulkan itu akan menjadi kontribusi kita terhadap sains dunia. Mungkin tidak akan langsung berdampak secara langsung kepada kita dengan adanya penemuan baru dan lain sebagainya, tapi ini tuh menjadi bentuk daripada pelaksanaan amanat Undang-Undang Dasar 1945 karena disebutkan di sana tuh mengikuti ketertiban dunia," beber Rusdi. 


    Menyadari besarnya volume data yang dikumpulkan oleh publik, intervensi para pakar menjadi sebuah kewajiban.
     
    "Kehadiran akademisi, ilmuan dan researcher adalah sebagai upaya agar proses Observasi sains warga yang dilakukan lebih terarah," imbuhnya.
     
    Dr Muhammad Ichsan Haris yang bertindak selaku akademisi serta dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan Unmul menyetujui langkah kolaboratif ini. Menurutnya, terjun ke lapangan adalah cara terbaik untuk mencintai lingkungan sekaligus mencetak generasi intelektual yang peka terhadap kondisi sekitarnya.
     
    "Ini adalah sebuah kolektif yang patut kami apresiasi. Karena di tengah semua kesulitan yang dihadapi masyarakat yang berkaitan langsung dengan kondisi alam, gerakan untuk mengenali sekitar terutama ekosistem sungai adalah hal yang konkret. Kita bisa mungkin saja menemukan solusi atas masalah-masalah yang kita hadapi, salah satu caranya adalah dengan mengetahui dahulu lingkungan kita sendiri. Selain itu, dalam konteks sebagai aktivitas akademik, ini juga membantu mahasiswa menemukan cara baru yang lebih mudah dan menyenangkan untuk mempelajari taksonomi tumbuhan hewan dan biodiversitas sungai," terang Ichsan.

     
    Gerakan akar rumput yang digagas di Samarinda ini membuktikan bahwa sebuah aksi sederhana di tingkat lokal dapat memberikan dampak gema yang sangat luas di ranah global, asalkan dikerjakan dengan landasan pengetahuan, diskusi, dan keinginan untuk terus terhubung dengan sesama penduduk bumi.