Cari disini...
Rusdiantologi
Berlebihan jika dipanggil bidadari, tapi keramahan level nenek sudah jadi standar pelayanan dasar Acil Nasi Kuning di Samarinda (Arman Maulana/Seputarfakta.com)
Seperti sebagian besar milenial yang lahir dan dibesarkan dengan parenting keras ala Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), saya adalah manusia yang sejatinya kurang mendapatkan asupan perhatian dan kasih sayang orang tua dalam definisi yang romantis, seperti yang dibesar-besarkan industri pop.
Tentu saja, saya tetap diberi makan cukup, pendidikan baik, dan hal-hal dasar lainnya selayaknya anak manusia. Tetapi jangan pernah singgung soal afirmasi positif, pujian yang bikin telinga dan bibir 'megar' atau sekadar ungkapan sayang yang diucap secara terbuka seperti yang dipraktikkan Nikita Willy. Semua itu hanya mimpi basah milenial, yang orang tuanya adalah boomer kaku nan jaim itu.
Bagi mereka, menggunakan energi untuk sekadar melafalkan kalimat pendek seperti: "Semangat ya sayang, hari ini. Semoga lancar ujiannya nanti," akan membikin mereka bangkrut, atau minimal kehilangan 3 jari tangan. Sebuah harga yang terlalu mahal untuk satu kalimat pendek.
Akibatnya, kami jadi ikutan kebal. Tiap kali ketemu kondisi yang mengharuskan kami mendengar ungkapan-ungkapan semacam itu, kami jadi meremang. Omaygat, cringe banget. Merinding sebadan-badan.
Entah itu adalah respons tubuh dan otak atas tempaan selama belasan tahun, atau sebenarnya itu hanya mekanisme pertahanan diri dari luka batin masa kecil saja. Dulu, alih-alih menerima kalimat-kalimat yang mungkin kalau didengar sekarang akan menenangkan, orang tua kami lebih suka pakai diksi-diksi yang lebih maskulin. Eh itu maskulin apa kasar ya?
Pada beberapa kesempatan, nasihat-nasihat yang disampaikan tak ubahnya makian dengan sedikit bumbu kata-kata mutiara (baca: umpatan) yang disesuaikan dengan budaya masing-masing. Tapi, dulu itu seperti sesuatu yang wajar saja. Kami berhasil saja, melalui hari dengan selesai. Selesai ya, belum tentu aman.
Bersyukurlah, saat ini milenial yang kebanyakan juga sudah menjadi orang tua, tampak berusaha keras mengakhiri siklus kelam ini. Mereka mulai bermudah-mudah meloloskan kalimat-kalimat afirmasi positif, pujian, hingga ungkapan sayang kepada anak-anak mereka tanpa perlu lagi merasa canggung.
Namun demikian, sebagai milenial yang sedang menjadi orang tua, menuangkan bahasa kasih itu lumayan menguras tenaga. Alias, kami juga punya tangki yang sejatinya masih kosong belaka. Posisinya saat ini justru makin rumit, lantaran orang tua kebanyakan sudah berpulang. Kalaupun belum, gimana cara mintanya?
Oleh karena itu, keramahan di ruang-ruang publik selalu berhasil bikin kami, (terutama saya) merasa hangat, dan salah satu penyuplai pasokan tangki kasih sayang itu adalah Acil Wadai atau Acil Mihun atau Acil Nasi Kuning.
Di Samarinda, keberadaan mereka, para Acil (dalam bahasa Indonesia bermakna Tante, atau Bulik dalam bahasa Jawa) sangat mudah sekali ditemui. Sejak pukul 11 malam, hingga dini hari sampai pagi, para Acil ini sudah bersedia dengan dagangan mereka. Acil Wadai menjual kue-kue tradisional, sementara Acil Mihun atau nasi kuning ya menyiapkan penganan yang diklaim jadi makanan khas Samarinda itu.
Eksistensi Acil nasi kuning yang gemar memakai kata-kata yang agak fulgar seperti yang kerap disiarkan komika Yono Bakrie, memang benar adanya. Tapi itu adalah satu dari sedikit anomali saja. Sisanya, para Acil ini benar-benar seperti malaikat tanpa sayap.
Mereka benar-benar tanpa tebang pilih menyuapkan keramahan level nenek kepada para pembelinya.
Apalagi, ketika sambang ke warung kita terlihat sekali berada pada usia tertentu yang mungkin seusia anak-anak mereka.
"Ikam nukar apa sayang?" Kamu mau beli apa sayang? Begitu sapaan selamat datang dari si Acil.
Ketika kita mulai menyebut menu, Acil akan dengan terampil melakukan aktivitas domestik yang terasa begitu akrobatik. Ketika menawarkan toping atau condiment dari nasi kuning seperti sambal, bawang goreng, sapaan yang dipilih Acil bukan; mas, om atau kak. Mereka memakai kata; Nak.
Kata itu pendek, tapi demikian Mak Cleng ketika didengar. Menembus dada yang langsung saja berasa hangat. Ia dilafalkan dengan bunyi huruf K yang tebal di akhir. Bukan nak, seperti na' yang umum dipakai di bahasa Indonesia.
"Sambal kah, Nak? Masih pagi Nak-ai jangan tapi pedas lah sakit parut kaina," Sambal kah nak? Masih pagi ini, jangan terlalu pedas ya, nanti sakit perut.
Dalam bahasa Banjar, partikel "ai" itu adalah sejenis sufiks penegas yang makin membuat ucapan yang sebenarnya biasa saja itu, merupa dialog-dialog adiluhung pada novel-novel keluarga.
Untuk bisa sampai pada tahapan merasakan kedalaman makna dari percakapan sederhana seperti ini, memang diperlukan kepekaan tingkat tinggi. Selain tentu saja, luka batin masa kecil yang masih menganga. Pada gilirannya, saya merasa cukup saja menghadirkan almarhum kedua orang tua dalam versi yang lebih soft spoken, penuh perhatian dan tentu saja, sudah sangat bahagia menerima duit Rp15 ribu atau paling banyak Rp35 ribu kalau beli dua bungkus nasi kuning dan kerupuk 1.
Apakah hanya penjual nasi kuning di Samarinda yang punya keramahan demikian? Jika iya, marilah datang ke kota ini.
Rusdianto
Samarinda, Sabtu 5 September 2026
Cari disini...
Rusdiantologi

Berlebihan jika dipanggil bidadari, tapi keramahan level nenek sudah jadi standar pelayanan dasar Acil Nasi Kuning di Samarinda (Arman Maulana/Seputarfakta.com)
Seperti sebagian besar milenial yang lahir dan dibesarkan dengan parenting keras ala Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), saya adalah manusia yang sejatinya kurang mendapatkan asupan perhatian dan kasih sayang orang tua dalam definisi yang romantis, seperti yang dibesar-besarkan industri pop.
Tentu saja, saya tetap diberi makan cukup, pendidikan baik, dan hal-hal dasar lainnya selayaknya anak manusia. Tetapi jangan pernah singgung soal afirmasi positif, pujian yang bikin telinga dan bibir 'megar' atau sekadar ungkapan sayang yang diucap secara terbuka seperti yang dipraktikkan Nikita Willy. Semua itu hanya mimpi basah milenial, yang orang tuanya adalah boomer kaku nan jaim itu.
Bagi mereka, menggunakan energi untuk sekadar melafalkan kalimat pendek seperti: "Semangat ya sayang, hari ini. Semoga lancar ujiannya nanti," akan membikin mereka bangkrut, atau minimal kehilangan 3 jari tangan. Sebuah harga yang terlalu mahal untuk satu kalimat pendek.
Akibatnya, kami jadi ikutan kebal. Tiap kali ketemu kondisi yang mengharuskan kami mendengar ungkapan-ungkapan semacam itu, kami jadi meremang. Omaygat, cringe banget. Merinding sebadan-badan.
Entah itu adalah respons tubuh dan otak atas tempaan selama belasan tahun, atau sebenarnya itu hanya mekanisme pertahanan diri dari luka batin masa kecil saja. Dulu, alih-alih menerima kalimat-kalimat yang mungkin kalau didengar sekarang akan menenangkan, orang tua kami lebih suka pakai diksi-diksi yang lebih maskulin. Eh itu maskulin apa kasar ya?
Pada beberapa kesempatan, nasihat-nasihat yang disampaikan tak ubahnya makian dengan sedikit bumbu kata-kata mutiara (baca: umpatan) yang disesuaikan dengan budaya masing-masing. Tapi, dulu itu seperti sesuatu yang wajar saja. Kami berhasil saja, melalui hari dengan selesai. Selesai ya, belum tentu aman.
Bersyukurlah, saat ini milenial yang kebanyakan juga sudah menjadi orang tua, tampak berusaha keras mengakhiri siklus kelam ini. Mereka mulai bermudah-mudah meloloskan kalimat-kalimat afirmasi positif, pujian, hingga ungkapan sayang kepada anak-anak mereka tanpa perlu lagi merasa canggung.
Namun demikian, sebagai milenial yang sedang menjadi orang tua, menuangkan bahasa kasih itu lumayan menguras tenaga. Alias, kami juga punya tangki yang sejatinya masih kosong belaka. Posisinya saat ini justru makin rumit, lantaran orang tua kebanyakan sudah berpulang. Kalaupun belum, gimana cara mintanya?
Oleh karena itu, keramahan di ruang-ruang publik selalu berhasil bikin kami, (terutama saya) merasa hangat, dan salah satu penyuplai pasokan tangki kasih sayang itu adalah Acil Wadai atau Acil Mihun atau Acil Nasi Kuning.
Di Samarinda, keberadaan mereka, para Acil (dalam bahasa Indonesia bermakna Tante, atau Bulik dalam bahasa Jawa) sangat mudah sekali ditemui. Sejak pukul 11 malam, hingga dini hari sampai pagi, para Acil ini sudah bersedia dengan dagangan mereka. Acil Wadai menjual kue-kue tradisional, sementara Acil Mihun atau nasi kuning ya menyiapkan penganan yang diklaim jadi makanan khas Samarinda itu.
Eksistensi Acil nasi kuning yang gemar memakai kata-kata yang agak fulgar seperti yang kerap disiarkan komika Yono Bakrie, memang benar adanya. Tapi itu adalah satu dari sedikit anomali saja. Sisanya, para Acil ini benar-benar seperti malaikat tanpa sayap.
Mereka benar-benar tanpa tebang pilih menyuapkan keramahan level nenek kepada para pembelinya.
Apalagi, ketika sambang ke warung kita terlihat sekali berada pada usia tertentu yang mungkin seusia anak-anak mereka.
"Ikam nukar apa sayang?" Kamu mau beli apa sayang? Begitu sapaan selamat datang dari si Acil.
Ketika kita mulai menyebut menu, Acil akan dengan terampil melakukan aktivitas domestik yang terasa begitu akrobatik. Ketika menawarkan toping atau condiment dari nasi kuning seperti sambal, bawang goreng, sapaan yang dipilih Acil bukan; mas, om atau kak. Mereka memakai kata; Nak.
Kata itu pendek, tapi demikian Mak Cleng ketika didengar. Menembus dada yang langsung saja berasa hangat. Ia dilafalkan dengan bunyi huruf K yang tebal di akhir. Bukan nak, seperti na' yang umum dipakai di bahasa Indonesia.
"Sambal kah, Nak? Masih pagi Nak-ai jangan tapi pedas lah sakit parut kaina," Sambal kah nak? Masih pagi ini, jangan terlalu pedas ya, nanti sakit perut.
Dalam bahasa Banjar, partikel "ai" itu adalah sejenis sufiks penegas yang makin membuat ucapan yang sebenarnya biasa saja itu, merupa dialog-dialog adiluhung pada novel-novel keluarga.
Untuk bisa sampai pada tahapan merasakan kedalaman makna dari percakapan sederhana seperti ini, memang diperlukan kepekaan tingkat tinggi. Selain tentu saja, luka batin masa kecil yang masih menganga. Pada gilirannya, saya merasa cukup saja menghadirkan almarhum kedua orang tua dalam versi yang lebih soft spoken, penuh perhatian dan tentu saja, sudah sangat bahagia menerima duit Rp15 ribu atau paling banyak Rp35 ribu kalau beli dua bungkus nasi kuning dan kerupuk 1.
Apakah hanya penjual nasi kuning di Samarinda yang punya keramahan demikian? Jika iya, marilah datang ke kota ini.
Rusdianto
Samarinda, Sabtu 5 September 2026