Rusdiantologi

    Menahan Kentut

    Penulis:Rusdianto|Redaktur:Rusdianto
    21 Oktober 2026 pukul 08:52 WITA

    Seperti angin meniup rerumputan, kentut juga. (ilustrasi)

    Sebagai seorang yang mengaku beragama Islam, salah satu keahlian saya yang  paling penting  adalah menahan kentut. Ada waktu-waktu di mana keterampilan yang sejatinya merupakan kemampuan olah napas yang default pada setiap makhluk humanoid ini, menjadi amat penting. 
    Jeda antara waktu salat  magrib dan isya, adalah salah satu satunya. Jarak antara dua waktu salat ini relatif pendek untuk mengambil dua wudu (bersuci) di masing-masing waktunya. Tapi bisa jadi terlalu panjang jika harus menahan kentut, hanya demi tetap dalam keadaan siap salat setiap saat. 


    Maka dari itu, keterampilan menahan kentut dengan durasi nyaris lebih dari 1 jam secara aman dan nyaman wajib dipunyai. 
    Pasalnya, ada beberapa bahaya mengintai jika terlalu sering menahan kentut dengan serampangan. Mulai dari penumpukan gas, anus berdarah hingga wasir. Tentu, ini wajib kita pertimbangkan jika harus menahan kentut lebih lama. 


    Di luar hal bersifat ibadah, yang kalau ditinggalkan bisa jadi dosa. Menahan kentut atau paling tidak melepasnya secara elegan, menurut saya juga adalah bagian dari sikap yang adiluhung yang wajib dimiliki, tidak cuma bagi umat muslim. 


    Karena mengekspresikan kentut dengan terlalu bebas dan suara nyaring di depan umum, pada banyak budaya dianggap kurang atau bahkan tidak sopan. 
    Tapi, saya juga tidak sedang menghakimi jika ada budaya yang memahami kebalikannya. Karena, seperti apa yang mudah sekali diketahui. Saya adalah orang bebas, yang mengamini adanya hak asasi guna mengekspresikan diri sebebas-bebasnya, termasuk kentut dengan irama dan langgam apapun, kapanpun dan di manapun.


    Dari sinilah, sudah sepantasnya kita berangkat untuk sama-sama menyepakati, bahwa kentut adalah bukan musuh kita.

    Musuh kita adalah mereka yang datang dari luar negeri tapi tidak mau dikarantina. 
    Musuh kita adalah orang yang mengambil untung dari menggali tanah, kemudian mengeruk batubara secara sembarangan lalu tak peduli pada dampak sosial maupun lingkungannya. 
    Musuh kita adalah orang yang diberi kepercayaan mengurus urusan rakyat dan sudah dibayar tinggi, tapi masih tetap maling duit negara. 


    Musuh kita adalah orang yang sudah tinggal lama di Samarinda, dan tetap bilang kalau banjir itu penyebabnya karena curah hujan yang tinggi.
    Musuh kita adalah korporasi yang membuka lahan di Kalimantan, memanfaatkan musim kemarau dengan membakar lahan. 
    Musuh kita adalah oknum pemerintah yang entah, tak pernah peduli rakyat yang susah. 
    Musuh kita adalah pejabat gendut yang sibuk memelihara nafsu lalu menggunakan semua kemampuan berpikirnya untuk berkilah, saat dikritik. 


    Musuh kita adalah sesama rakyat yang mau dibayar kecil, demi jadi tameng. 
    Musuh kita adalah bung-bung itu, yang dulu lantang bicara, sekarang masih lantang juga tapi dalam rangka membela. 


    Dan masih banyak lagi daftar yang mestinya bisa saya tuliskan. Tapi karena saya sudah terlalu lama menahan kentut, maka saya harus akhiri untuk bisa melepaskan kentut ini secara aman, nyaman dan elegan.
    Catatan : Musuh yang terakhir, jangan dilawan. Berat. 

    Rusdianto
    Samarinda, Rabu 20 Oktober 2021
    *Ditulis ulang 21 Oktober 2026, dengan penyesuaian.

    Rusdiantologi

    Menahan Kentut

    Penulis:Rusdianto|Redaktur:Rusdianto
    21 Oktober 2026 pukul 08:52 WITA

    Seperti angin meniup rerumputan, kentut juga. (ilustrasi)

    Sebagai seorang yang mengaku beragama Islam, salah satu keahlian saya yang  paling penting  adalah menahan kentut. Ada waktu-waktu di mana keterampilan yang sejatinya merupakan kemampuan olah napas yang default pada setiap makhluk humanoid ini, menjadi amat penting. 
    Jeda antara waktu salat  magrib dan isya, adalah salah satu satunya. Jarak antara dua waktu salat ini relatif pendek untuk mengambil dua wudu (bersuci) di masing-masing waktunya. Tapi bisa jadi terlalu panjang jika harus menahan kentut, hanya demi tetap dalam keadaan siap salat setiap saat. 


    Maka dari itu, keterampilan menahan kentut dengan durasi nyaris lebih dari 1 jam secara aman dan nyaman wajib dipunyai. 
    Pasalnya, ada beberapa bahaya mengintai jika terlalu sering menahan kentut dengan serampangan. Mulai dari penumpukan gas, anus berdarah hingga wasir. Tentu, ini wajib kita pertimbangkan jika harus menahan kentut lebih lama. 


    Di luar hal bersifat ibadah, yang kalau ditinggalkan bisa jadi dosa. Menahan kentut atau paling tidak melepasnya secara elegan, menurut saya juga adalah bagian dari sikap yang adiluhung yang wajib dimiliki, tidak cuma bagi umat muslim. 


    Karena mengekspresikan kentut dengan terlalu bebas dan suara nyaring di depan umum, pada banyak budaya dianggap kurang atau bahkan tidak sopan. 
    Tapi, saya juga tidak sedang menghakimi jika ada budaya yang memahami kebalikannya. Karena, seperti apa yang mudah sekali diketahui. Saya adalah orang bebas, yang mengamini adanya hak asasi guna mengekspresikan diri sebebas-bebasnya, termasuk kentut dengan irama dan langgam apapun, kapanpun dan di manapun.


    Dari sinilah, sudah sepantasnya kita berangkat untuk sama-sama menyepakati, bahwa kentut adalah bukan musuh kita.

    Musuh kita adalah mereka yang datang dari luar negeri tapi tidak mau dikarantina. 
    Musuh kita adalah orang yang mengambil untung dari menggali tanah, kemudian mengeruk batubara secara sembarangan lalu tak peduli pada dampak sosial maupun lingkungannya. 
    Musuh kita adalah orang yang diberi kepercayaan mengurus urusan rakyat dan sudah dibayar tinggi, tapi masih tetap maling duit negara. 


    Musuh kita adalah orang yang sudah tinggal lama di Samarinda, dan tetap bilang kalau banjir itu penyebabnya karena curah hujan yang tinggi.
    Musuh kita adalah korporasi yang membuka lahan di Kalimantan, memanfaatkan musim kemarau dengan membakar lahan. 
    Musuh kita adalah oknum pemerintah yang entah, tak pernah peduli rakyat yang susah. 
    Musuh kita adalah pejabat gendut yang sibuk memelihara nafsu lalu menggunakan semua kemampuan berpikirnya untuk berkilah, saat dikritik. 


    Musuh kita adalah sesama rakyat yang mau dibayar kecil, demi jadi tameng. 
    Musuh kita adalah bung-bung itu, yang dulu lantang bicara, sekarang masih lantang juga tapi dalam rangka membela. 


    Dan masih banyak lagi daftar yang mestinya bisa saya tuliskan. Tapi karena saya sudah terlalu lama menahan kentut, maka saya harus akhiri untuk bisa melepaskan kentut ini secara aman, nyaman dan elegan.
    Catatan : Musuh yang terakhir, jangan dilawan. Berat. 

    Rusdianto
    Samarinda, Rabu 20 Oktober 2021
    *Ditulis ulang 21 Oktober 2026, dengan penyesuaian.