Cari disini...
Rusdiantologi
Warga Kota Samarinda dan sekitarnya, terpaksa kembali pakai masker saat beraktivitas di luar ruangan. (Foto: Suasana terkini Jalan P Antasari Samarinda, dipadu ilustrasi Akal Imitasi (AI))
Tahun 2021, secara angka memang baru 5 tahun lalu, tetapi warga dunia pasti sepakat. Tahun itu layak di kubur jauh setara abad kegelapan yang musti kita lupakan. Mengapa? Karena saat ini, sejak 5 tahun lalu itu sebenarnya kita sudah mendeklarasikan kemenangan mutlak atas pandemi (anggaplah) berabad-abad lalu, atau setidaknya begitulah ilusi yang kita pelihara di dalam kepala masing-masing dengan penuh kebanggaan.
Vaksinasi dosis kesekian telah menjelma menjadi sekadar riwayat usang di aplikasi ponsel yang sudah lama kita hapus dari layar utama. Botol cairan pembersih tangan di sudut tas kemungkinan besar sudah kedaluwarsa, isinya menguap menjadi mitos belaka yang sesekali tersentuh saat kita merogoh saku mencari uang receh untuk membayar parkir.
Kita sempat merayakan kebebasan bernapas tanpa sekat pengaman. Kita membusungkan dada di ruang publik, menghirup udara bebas dalam-dalam, merasa menjadi ras manusia super yang berhasil menaklukkan seleksi alam yang kejam. Kita bahkan sedang senang-senangnya, dengan hobi lari, jogging hingga maraton.
Tetapi kenyataan rupany punya selera humor yang sangat payah dan gemar mendaur ulang lelucon lama. Kita terpaksa menelan ludah sendiri, merendahkan ego yang sudah terlanjur melangit, lalu menerima nasib bahwa tali elastis sialan itu harus kembali mengait di telinga kita.
Selamat datang kembali di musim balikan dengan benda yang paling ingin kita singkirkan dari memori kolektif peradaban modern. Masker kembali menjadi barang primer di tanah Kalimantan, bersanding dengan helm SNI dan jas hujan di bagasi motor. Kali ini yang kita hadapi sama sekali tidak memiliki unsur sains fiksi yang menegangkan seperti sebelumnya.
Musuh kita hari ini teramat banal, berwujud kasar, dan mengubah warna langit menjadi abu-abu kecokelatan yang menyedihkan. Udara di luar sana memiliki aroma yang identik dengan obat nyamuk bakar ukuran raksasa yang dinyalakan secara serentak oleh jutaan orang yang sedang putus asa mengusir serangga. Baju yang dijemur di luar rumah kini memiliki aroma ikan asap bumbu barbekyu yang gagal matang.
Memakai masker hari ini memicu semacam deja vu yang luar biasa menyebalkan. Ada sensasi pengap lengket yang menempel di area hidung dan mulut, mengingatkan kita pada masa-masa paranoid massal. Masa di mana setiap batuk kecil di kasir minimarket bisa memicu tatapan menghakimi dari sepuluh orang di sekitar, seolah-olah kita baru saja melepaskan senjata biologis pemusnah massal. Konteks psikologisnya hari ini sungguh bertolak belakang.
Pada era sebelumnya, kita bersembunyi dari ancaman mikroskopis yang terbang tak terlihat, sebuah pembunuh senyap yang membuat kita merasa sedang mengambil peran penting dalam film kiamat garapan Hollywood. Hari ini, kita memakai masker sekadar untuk mencegah partikel karbon sisa pembakaran ranting pohon menyangkut di rongga tenggorokan dan membuat kita memuntahkan dahak berwarna tidak senonoh di wastafel atau jalanan.
Saat merenungkan siklus hidup masker di wajah kita ini, ada satu hal absurd yang perlahan terasa sangat kita rindukan dari era krisis kesehatan global masa lalu. Pada masa itu, hidup kita terasa jauh lebih mudah secara mental dan spiritual. Kita memiliki musuh bersama yang wujudnya abstrak, asalnya sangat jauh, dan terdengar sangat eksotis di telinga.
Saat dada terasa sesak, saat bisnis mendadak bangkrut, atau saat rencana liburan hancur berantakan, kita bisa dengan sangat mudah menuding telunjuk ke arah luar negeri. Kita menyalahkan kelelawar, mengutuk pasar basah di Wuhan, memaki konspirasi laboratorium rahasia di belahan bumi utara, dan merasa keluhan kita memiliki validitas tingkat tinggi.
Menyalahkan entitas asing yang berjarak ribuan kilometer dari teras rumah memberikan ketenangan ego yang luar biasa menenangkan. Kita memposisikan diri sebagai korban murni dari kelalaian sosiologis masyarakat internasional yang jorok. Kita merasa suci tanpa dosa. Kita merasa hanyalah kumpulan penduduk tropis yang sedang duduk damai meminum es teh manis di sore hari, lalu secara mendadak diserang oleh masalah impor. Itu adalah periode magis di mana seluruh penduduk dunia bisa bersatu dalam keluhan yang seragam. Menyalahkan orang lain yang berjarak beda benua adalah mekanisme pertahanan diri yang paling purba sekaligus paling nyaman bagi kesehatan mental kaum urban.
Kenyataan hari ini menampar kita dengan realitas yang serba canggung dan minim heroisme. Kabut asap yang mengepung pandangan kita memicu krisis identitas yang lumayan nakal di dalam kepala. Jarak pandang menyusut drastis, lampu kendaraan harus dinyalakan pada siang bolong, dan kita tiba-tiba kebingungan mencari alamat pos untuk mengirimkan surat kemarahan kita. Musuhnya ada di sini, di pulau kita sendiri, hidup di zona waktu yang sama, dan mungkin meminum jenis kopi saset yang sama dengan yang kita seduh setiap pagi. Kita kehilangan kemewahan untuk menyalahkan pihak luar.
Saat kita terbatuk-batuk di lampu merah perempatan jalan, kita dihadapkan pada menu kambing hitam lokal yang semuanya terasa serba salah. Opsi pertama di meja prasmanan ini adalah menyalahkan saudara kita sendiri, barisan warga lokal atau peladang subsisten yang membersihkan sedikit lahan dengan bantuan api. Mereka melakukan praktik tersebut semata-mata untuk menyambung ritme kehidupan, meneruskan metode pertanian komunal yang sudah ada sejak zaman kakek buyut kita belum mengenal kerumitan istilah indeks standar pencemar udara.
Ada perasaan bersalah yang tajam mengganjal di ulu hati saat kita, kaum kelas menengah ngeyel yang duduk santai di ruang bersejuk udara, mencoba merundung mereka secara moral. Rasanya kelewat sadis menumpahkan kekesalan pada orang-orang yang hanya berusaha memastikan panci di dapur mereka tetap mengepul berisi nasi, terlepas dari kenyataan bahwa efek sampingnya membuat seluruh kota ikut mengepul pekat.
Opsi kedua di menu kambing hitam ini terlihat jauh lebih menggiurkan untuk dikunyah. Korporasi raksasa penguasa lahan. Gurita bisnis dengan konsesi perkebunan yang luasnya bisa menyamai ukuran gabungan beberapa negara Eropa. Mereka memiliki deretan alat berat, sumber daya kapital tak terbatas, dan motif ekonomi yang sangat masif. Mengutuk mereka di kolom komentar portal berita atau memaki mereka di media sosial terasa sangat memuaskan dahaga keadilan semu kita.
Kita bisa dengan lancar merangkai kalimat pedas tentang kapitalisme yang serakah dan eksploitasi alam yang kehilangan urat empati. Realitas lapangannya, melawan mereka terasa seperti berteriak di ruang kedap suara. Mereka berlindung dengan sangat aman di balik barisan tim legal yang ketebalan dokumen argumennya sanggup mengalahkan ketebalan kabut asap itu sendiri. Umpatan demi umpatan kita kepada korporasi hanya menguap menjadi obrolan warung kopi yang tidak berguna, sama sekali tidak menjernihkan udara sedetik pun, dan berakhir tenggelam oleh isu perselingkuhan selebritas di linimasa.
Lalu tersisa opsi ketiga, sasaran empuk favorit semua warga negara sepanjang peradaban republik ini berdiri. Pemerintah dan birokrasinya. Menuntut tanggung jawab aparatur negara adalah hobi nasional yang mendarah daging. Kita duduk menunggu mereka turun tangan, melakukan sebuah tindakan heroik instan, memanggil skuadron pesawat pembuat hujan buatan, atau setidaknya memarahi seseorang dengan suara lantang di tayangan televisi nasional.
Respons standar yang kita terima biasanya berwujud rutinitas penerbitan surat edaran yang menyuruh warga mengurangi aktivitas di luar rumah. Imbauan semacam itu terdengar persis seperti materi komika baru, yang bikin komedi satir padahal hidupnya serba berkemudahan. Mereka merilis instruksi tersebut dengan asumsi fiktif bahwa kita semua adalah kaum aristokrat yang saldo rekeningnya terus bertambah meski kita rebahan seharian di atas kasur. Mereka pikir, kita akan dapat TPP atau apalah itu namanya juga, seperti mereka.
Kenyataannya di jalanan, kurir paket tetap harus membelah asap demi mengejar target pengiriman, pedagang kaki lima tetap harus menggelar lapak demi uang sekolah anak, dan pekerja kantoran tetap harus memindai wajah di mesin absensi tepat waktu jika tidak ingin gajinya dipotong tanpa belas kasihan. Kita dipaksa berdiam diri di rumah oleh sebuah sistem sosial yang dipastikan akan menghukum kita secara ekonomi jika kita benar-benar menurut untuk berdiam diri di rumah.
Terjebak dalam absurditas tiga arah ini sukses membuat kita diam-diam merindukan kesederhanaan narasi menyalahkan kelelawar nun jauh di sana. Kita menjalani situasi banal yang bereinkarnasi setiap tahun tanpa ada plot twist yang menyegarkan. Siklusnya terlalu mudah ditebak. Bangun tidur dengan hidung mampat, mengecek aplikasi pemantau kualitas udara yang menampilkan warna merah menyala dengan angka indeks yang seolah sedang mengancam sisa kuota usia paru-paru kita.
Kita membuka laci lemari berdebu, mencari sisa-sisa kotak penyaring udara dari zaman purba, seraya memanjatkan doa kecil agar tali karetnya belum getas dimakan usia. Kita memakainya dengan kombinasi perasaan pasrah paripurna dan jengkel tak berkesudahan, lalu menyalakan mesin kendaraan pelan-pelan. Kita pergi keluar rumah untuk bergabung dengan ribuan manusia lainnya yang bernasib serupa, sama-sama berwajah tertutup separuh, sama-sama mengusap mata yang kelilipan, dan sama-sama kebingungan harus melemparkan makian ke arah mana hari ini.
Kondisi ini menegaskan bahwa ras manusia memang sekumpulan makhluk paradoks yang lucu. Kita berhasil melewati jurang krisis kesehatan global yang sempat mengancam kelangsungan spesies. Kita mengerahkan seluruh kapasitas intelektual dan modal finansial dunia untuk meracik vaksin dalam rekor waktu tercepat sepanjang sejarah medis. Kita bangkit secara perlahan dari kebangkrutan ekonomi kolektif, menata ulang tata cara kita bekerja, beradaptasi dengan teknologi komunikasi virtual, dan bertahan hidup menjaga kewarasan sebagai pilar peradaban modern. Kita selamat melewati badai besar itu dengan sisa-sisa kewibawaan yang ada.
Kita memenangkan perang berskala planet tersebut, merayakannya dengan gegap gempita, untuk kemudian berakhir mengusap air mata di atas jok motor akibat kelilipan sisa abu pembakaran semak belukar liar di halaman belakang rumah kita sendiri.
Roda nasib siklus tahunan ini dipastikan akan terus berputar dengan presisi yang membosankan. Kita akan terus menghabiskan energi untuk berdebat panjang lebar tentang pihak mana yang menyulut korek api, institusi mana yang sengaja memalingkan muka, artis mana yang tutup telinga, dan instansi mana yang seharusnya bertanggung jawab membagikan masker gratis di perempatan jalan.
Perdebatan ini akan terus mengudara, mengisi ruang-ruang diskusi publik, sampai pada suatu hari keajaiban meteorologis bernama hujan deras turun membasahi bumi. Asap pekat akan tercuci bersih dari langit, udara kembali bening, dan kita akan dengan sangat cepat melempar kembali benda penutup hidung itu ke dasar laci yang paling gelap. Kita akan menyambut lagi kebebasan bernapas dengan ingatan yang luar biasa pendek, melupakan rentetan sesak napas ini, lalu bersiap untuk berakting terkejut dan marah-marah lagi saat langit kembali menguning pekat pada musim kemarau tahun depan. Untuk saat ini, pastikan saja benda yang menempel di wajahmu itu cukup tebal untuk menyaring debu karbon, dan cukup rapat untuk meredam suaramu saat kamu memaki keadaan di tengah kemacetan.
Rusdianto
Kamis, 17 September 2026
Simpang Empat Antasari, Samarinda
Cari disini...
Rusdiantologi

Warga Kota Samarinda dan sekitarnya, terpaksa kembali pakai masker saat beraktivitas di luar ruangan. (Foto: Suasana terkini Jalan P Antasari Samarinda, dipadu ilustrasi Akal Imitasi (AI))
Tahun 2021, secara angka memang baru 5 tahun lalu, tetapi warga dunia pasti sepakat. Tahun itu layak di kubur jauh setara abad kegelapan yang musti kita lupakan. Mengapa? Karena saat ini, sejak 5 tahun lalu itu sebenarnya kita sudah mendeklarasikan kemenangan mutlak atas pandemi (anggaplah) berabad-abad lalu, atau setidaknya begitulah ilusi yang kita pelihara di dalam kepala masing-masing dengan penuh kebanggaan.
Vaksinasi dosis kesekian telah menjelma menjadi sekadar riwayat usang di aplikasi ponsel yang sudah lama kita hapus dari layar utama. Botol cairan pembersih tangan di sudut tas kemungkinan besar sudah kedaluwarsa, isinya menguap menjadi mitos belaka yang sesekali tersentuh saat kita merogoh saku mencari uang receh untuk membayar parkir.
Kita sempat merayakan kebebasan bernapas tanpa sekat pengaman. Kita membusungkan dada di ruang publik, menghirup udara bebas dalam-dalam, merasa menjadi ras manusia super yang berhasil menaklukkan seleksi alam yang kejam. Kita bahkan sedang senang-senangnya, dengan hobi lari, jogging hingga maraton.
Tetapi kenyataan rupany punya selera humor yang sangat payah dan gemar mendaur ulang lelucon lama. Kita terpaksa menelan ludah sendiri, merendahkan ego yang sudah terlanjur melangit, lalu menerima nasib bahwa tali elastis sialan itu harus kembali mengait di telinga kita.
Selamat datang kembali di musim balikan dengan benda yang paling ingin kita singkirkan dari memori kolektif peradaban modern. Masker kembali menjadi barang primer di tanah Kalimantan, bersanding dengan helm SNI dan jas hujan di bagasi motor. Kali ini yang kita hadapi sama sekali tidak memiliki unsur sains fiksi yang menegangkan seperti sebelumnya.
Musuh kita hari ini teramat banal, berwujud kasar, dan mengubah warna langit menjadi abu-abu kecokelatan yang menyedihkan. Udara di luar sana memiliki aroma yang identik dengan obat nyamuk bakar ukuran raksasa yang dinyalakan secara serentak oleh jutaan orang yang sedang putus asa mengusir serangga. Baju yang dijemur di luar rumah kini memiliki aroma ikan asap bumbu barbekyu yang gagal matang.
Memakai masker hari ini memicu semacam deja vu yang luar biasa menyebalkan. Ada sensasi pengap lengket yang menempel di area hidung dan mulut, mengingatkan kita pada masa-masa paranoid massal. Masa di mana setiap batuk kecil di kasir minimarket bisa memicu tatapan menghakimi dari sepuluh orang di sekitar, seolah-olah kita baru saja melepaskan senjata biologis pemusnah massal. Konteks psikologisnya hari ini sungguh bertolak belakang.
Pada era sebelumnya, kita bersembunyi dari ancaman mikroskopis yang terbang tak terlihat, sebuah pembunuh senyap yang membuat kita merasa sedang mengambil peran penting dalam film kiamat garapan Hollywood. Hari ini, kita memakai masker sekadar untuk mencegah partikel karbon sisa pembakaran ranting pohon menyangkut di rongga tenggorokan dan membuat kita memuntahkan dahak berwarna tidak senonoh di wastafel atau jalanan.
Saat merenungkan siklus hidup masker di wajah kita ini, ada satu hal absurd yang perlahan terasa sangat kita rindukan dari era krisis kesehatan global masa lalu. Pada masa itu, hidup kita terasa jauh lebih mudah secara mental dan spiritual. Kita memiliki musuh bersama yang wujudnya abstrak, asalnya sangat jauh, dan terdengar sangat eksotis di telinga.
Saat dada terasa sesak, saat bisnis mendadak bangkrut, atau saat rencana liburan hancur berantakan, kita bisa dengan sangat mudah menuding telunjuk ke arah luar negeri. Kita menyalahkan kelelawar, mengutuk pasar basah di Wuhan, memaki konspirasi laboratorium rahasia di belahan bumi utara, dan merasa keluhan kita memiliki validitas tingkat tinggi.
Menyalahkan entitas asing yang berjarak ribuan kilometer dari teras rumah memberikan ketenangan ego yang luar biasa menenangkan. Kita memposisikan diri sebagai korban murni dari kelalaian sosiologis masyarakat internasional yang jorok. Kita merasa suci tanpa dosa. Kita merasa hanyalah kumpulan penduduk tropis yang sedang duduk damai meminum es teh manis di sore hari, lalu secara mendadak diserang oleh masalah impor. Itu adalah periode magis di mana seluruh penduduk dunia bisa bersatu dalam keluhan yang seragam. Menyalahkan orang lain yang berjarak beda benua adalah mekanisme pertahanan diri yang paling purba sekaligus paling nyaman bagi kesehatan mental kaum urban.
Kenyataan hari ini menampar kita dengan realitas yang serba canggung dan minim heroisme. Kabut asap yang mengepung pandangan kita memicu krisis identitas yang lumayan nakal di dalam kepala. Jarak pandang menyusut drastis, lampu kendaraan harus dinyalakan pada siang bolong, dan kita tiba-tiba kebingungan mencari alamat pos untuk mengirimkan surat kemarahan kita. Musuhnya ada di sini, di pulau kita sendiri, hidup di zona waktu yang sama, dan mungkin meminum jenis kopi saset yang sama dengan yang kita seduh setiap pagi. Kita kehilangan kemewahan untuk menyalahkan pihak luar.
Saat kita terbatuk-batuk di lampu merah perempatan jalan, kita dihadapkan pada menu kambing hitam lokal yang semuanya terasa serba salah. Opsi pertama di meja prasmanan ini adalah menyalahkan saudara kita sendiri, barisan warga lokal atau peladang subsisten yang membersihkan sedikit lahan dengan bantuan api. Mereka melakukan praktik tersebut semata-mata untuk menyambung ritme kehidupan, meneruskan metode pertanian komunal yang sudah ada sejak zaman kakek buyut kita belum mengenal kerumitan istilah indeks standar pencemar udara.
Ada perasaan bersalah yang tajam mengganjal di ulu hati saat kita, kaum kelas menengah ngeyel yang duduk santai di ruang bersejuk udara, mencoba merundung mereka secara moral. Rasanya kelewat sadis menumpahkan kekesalan pada orang-orang yang hanya berusaha memastikan panci di dapur mereka tetap mengepul berisi nasi, terlepas dari kenyataan bahwa efek sampingnya membuat seluruh kota ikut mengepul pekat.
Opsi kedua di menu kambing hitam ini terlihat jauh lebih menggiurkan untuk dikunyah. Korporasi raksasa penguasa lahan. Gurita bisnis dengan konsesi perkebunan yang luasnya bisa menyamai ukuran gabungan beberapa negara Eropa. Mereka memiliki deretan alat berat, sumber daya kapital tak terbatas, dan motif ekonomi yang sangat masif. Mengutuk mereka di kolom komentar portal berita atau memaki mereka di media sosial terasa sangat memuaskan dahaga keadilan semu kita.
Kita bisa dengan lancar merangkai kalimat pedas tentang kapitalisme yang serakah dan eksploitasi alam yang kehilangan urat empati. Realitas lapangannya, melawan mereka terasa seperti berteriak di ruang kedap suara. Mereka berlindung dengan sangat aman di balik barisan tim legal yang ketebalan dokumen argumennya sanggup mengalahkan ketebalan kabut asap itu sendiri. Umpatan demi umpatan kita kepada korporasi hanya menguap menjadi obrolan warung kopi yang tidak berguna, sama sekali tidak menjernihkan udara sedetik pun, dan berakhir tenggelam oleh isu perselingkuhan selebritas di linimasa.
Lalu tersisa opsi ketiga, sasaran empuk favorit semua warga negara sepanjang peradaban republik ini berdiri. Pemerintah dan birokrasinya. Menuntut tanggung jawab aparatur negara adalah hobi nasional yang mendarah daging. Kita duduk menunggu mereka turun tangan, melakukan sebuah tindakan heroik instan, memanggil skuadron pesawat pembuat hujan buatan, atau setidaknya memarahi seseorang dengan suara lantang di tayangan televisi nasional.
Respons standar yang kita terima biasanya berwujud rutinitas penerbitan surat edaran yang menyuruh warga mengurangi aktivitas di luar rumah. Imbauan semacam itu terdengar persis seperti materi komika baru, yang bikin komedi satir padahal hidupnya serba berkemudahan. Mereka merilis instruksi tersebut dengan asumsi fiktif bahwa kita semua adalah kaum aristokrat yang saldo rekeningnya terus bertambah meski kita rebahan seharian di atas kasur. Mereka pikir, kita akan dapat TPP atau apalah itu namanya juga, seperti mereka.
Kenyataannya di jalanan, kurir paket tetap harus membelah asap demi mengejar target pengiriman, pedagang kaki lima tetap harus menggelar lapak demi uang sekolah anak, dan pekerja kantoran tetap harus memindai wajah di mesin absensi tepat waktu jika tidak ingin gajinya dipotong tanpa belas kasihan. Kita dipaksa berdiam diri di rumah oleh sebuah sistem sosial yang dipastikan akan menghukum kita secara ekonomi jika kita benar-benar menurut untuk berdiam diri di rumah.
Terjebak dalam absurditas tiga arah ini sukses membuat kita diam-diam merindukan kesederhanaan narasi menyalahkan kelelawar nun jauh di sana. Kita menjalani situasi banal yang bereinkarnasi setiap tahun tanpa ada plot twist yang menyegarkan. Siklusnya terlalu mudah ditebak. Bangun tidur dengan hidung mampat, mengecek aplikasi pemantau kualitas udara yang menampilkan warna merah menyala dengan angka indeks yang seolah sedang mengancam sisa kuota usia paru-paru kita.
Kita membuka laci lemari berdebu, mencari sisa-sisa kotak penyaring udara dari zaman purba, seraya memanjatkan doa kecil agar tali karetnya belum getas dimakan usia. Kita memakainya dengan kombinasi perasaan pasrah paripurna dan jengkel tak berkesudahan, lalu menyalakan mesin kendaraan pelan-pelan. Kita pergi keluar rumah untuk bergabung dengan ribuan manusia lainnya yang bernasib serupa, sama-sama berwajah tertutup separuh, sama-sama mengusap mata yang kelilipan, dan sama-sama kebingungan harus melemparkan makian ke arah mana hari ini.
Kondisi ini menegaskan bahwa ras manusia memang sekumpulan makhluk paradoks yang lucu. Kita berhasil melewati jurang krisis kesehatan global yang sempat mengancam kelangsungan spesies. Kita mengerahkan seluruh kapasitas intelektual dan modal finansial dunia untuk meracik vaksin dalam rekor waktu tercepat sepanjang sejarah medis. Kita bangkit secara perlahan dari kebangkrutan ekonomi kolektif, menata ulang tata cara kita bekerja, beradaptasi dengan teknologi komunikasi virtual, dan bertahan hidup menjaga kewarasan sebagai pilar peradaban modern. Kita selamat melewati badai besar itu dengan sisa-sisa kewibawaan yang ada.
Kita memenangkan perang berskala planet tersebut, merayakannya dengan gegap gempita, untuk kemudian berakhir mengusap air mata di atas jok motor akibat kelilipan sisa abu pembakaran semak belukar liar di halaman belakang rumah kita sendiri.
Roda nasib siklus tahunan ini dipastikan akan terus berputar dengan presisi yang membosankan. Kita akan terus menghabiskan energi untuk berdebat panjang lebar tentang pihak mana yang menyulut korek api, institusi mana yang sengaja memalingkan muka, artis mana yang tutup telinga, dan instansi mana yang seharusnya bertanggung jawab membagikan masker gratis di perempatan jalan.
Perdebatan ini akan terus mengudara, mengisi ruang-ruang diskusi publik, sampai pada suatu hari keajaiban meteorologis bernama hujan deras turun membasahi bumi. Asap pekat akan tercuci bersih dari langit, udara kembali bening, dan kita akan dengan sangat cepat melempar kembali benda penutup hidung itu ke dasar laci yang paling gelap. Kita akan menyambut lagi kebebasan bernapas dengan ingatan yang luar biasa pendek, melupakan rentetan sesak napas ini, lalu bersiap untuk berakting terkejut dan marah-marah lagi saat langit kembali menguning pekat pada musim kemarau tahun depan. Untuk saat ini, pastikan saja benda yang menempel di wajahmu itu cukup tebal untuk menyaring debu karbon, dan cukup rapat untuk meredam suaramu saat kamu memaki keadaan di tengah kemacetan.
Rusdianto
Kamis, 17 September 2026
Simpang Empat Antasari, Samarinda