Rusdiantologi
Jalanan Kota Samarinda yang kini kerap jadi arena kebugaran publik (SF)
Tidak mungkin Allah SWT memilih satu nama, jika tak ada pelajaran di dalamnya. Kalimat ini rasanya yang paling tepat menggambarkan apa yang berlaku beberapa waktu terakhir. Saat ini, mudah sekali menemukan orang yang beraktivitas fisik, khususnya untuk tujuan kebugaran, di ruang-ruang publik.
Jalan raya, alun-alun, gelanggang olahraga, hingga gang-gang kecil di sekitar rumah pun tak luput menjadi lokasi. Pasca-pandemi Covid-19, kesadaran masyarakat Indonesia untuk berolahraga seperti terus mengalami kenaikan. Ingat sekali, seorang YouTuber angkatan awal-awal yang sejak dulu memang cukup niche dengan audiensnya, Statement Prod, pernah berstatemen bahwa 5–10 tahun ke depan, industri kebugaran bakal jadi sesuatu yang digandrungi banyak orang.
Saat itu, Ryan Berti, sosok di balik Statement Prod, adalah seorang praktisi pusat kebugaran yang engga besar-besar amat secara audiens. Tapi kata-katanya pada 2016–2017 itu kini seperti ramalan yang jadi kenyataan.
Sekarang, kebugaran sudah masuk jadi gaya hidup umum. Pilih saja, semua orang punya kegiatan khusus sendiri demi bisa bugar. Walau secara industri pusat kebugaran (gym) adalah salah satu segmen yang paling menonjol, komersialisasi aktivasi yang berkaitan dengan kebugaran makin mendapat porsi besar di masyarakat. Sebut saja maraton, atau bahkan event fun run, yang sangat mudah kita temukan dengan lonjakan peserta dan peningkatan jangkauan informasinya.
Tidak sedang menyinyiri semua itu. Baik-baik saja, bahkan bagus, kalau makin banyak orang mau bergerak. Hanya saja, di tengah riuhnya tren itu, pelajaran terbaik soal kebugaran yang pernah kuterima justru datang dari tempat yang jauh dari semuanya. Bukan di pusat kebugaran yang terang dan berpendingin, bukan pula di garis start fun run lengkap dengan kaus peserta dan medali finisher. Pelajaran itu datang di pinggir jalan, pada suatu malam di Samarinda, dari punggung seorang kawan lama yang sedang mendorong sepeda motor.
Namanya Lukmanul Hakim. Ya, persis sama dengan nama hamba saleh yang diabadikan Allah dalam Al-Qur’an, sampai-sampai satu surah dinamai dengan namanya. Kami kenal sejak kecil di Sebulu, sebuah kecamatan di Kutai Kartanegara. Dari SD sampai SMA kami satu sekolah. Dan sejak SD pula, namanya lebih dulu terkenal ketimbang orangnya, sebab dia bandel. Suka berantem. Kalau ada ribut-ribut di halaman sekolah, hampir pasti ada dia di tengah lingkarannya.
Ironis, memang. Nama yang kerap dimaknai sebagai Luqman yang penuh hikmah itu dipikul oleh anak yang urusan berantemnya paling sering jadi bahan obrolan guru. Tapi begitulah. Barangkali orang tuanya menyematkan nama itu sebagai doa, sementara hidup punya jadwalnya sendiri untuk menjawabnya.
Di balik kebandelannya, ada sisi yang tidak banyak orang tahu: dia baik sekali. Terutama kepadaku. Baiknya tidak berisik, tidak perlu diumumkan. Dan dia memang anak yang olahraga banget. Jago main bola, sering juara. Badannya seperti dilahirkan untuk bergerak, bukan untuk duduk diam di bangku kelas.
Waktu berjalan. Kami sama-sama merantau ke Samarinda. Dia kini bekerja sebagai tenaga pemasar produsen otomotif. Kota memang punya cara aneh dalam mempertemukan sekaligus memisahkan orang. Dua kawan yang dulu hampir tak pernah terpisah bisa lama sekali tidak bertemu, padahal tinggal di kota yang sama.
Sampai suatu malam, di sekitar Jalan Suryanata, aku melihat seseorang mendorong sepeda motor. Dari belakang. Sudah lama kami tidak berjumpa, tapi entah kenapa aku bisa dengan mudah mengenalinya: bahunya, cara melangkahnya, ritme dorongannya. Ada orang yang bisa kita kenali dari punggungnya saja, bahkan setelah lama tak bertemu, dan dia salah satunya.
Aku mendekat untuk memastikan. Dan benar, itu dia. Wajahnya berpeluh. Kupikir motornya mogok.
“Kenapa, Man? Mogok kah?”
Dia berhenti. Aku pun ikut berhenti. Ternyata motornya tidak mogok. Dia sedang olahraga.
Sebagai orang yang bekerja penuh, katanya, dia tidak punya waktu khusus untuk berolahraga. Padahal, seperti yang kuceritakan tadi, dia memang orang yang olahraga banget. Maka dari kantornya di Jalan Siradj Salman sampai ke rumahnya di kawasan Bukit Pinang, motor itu ia dorong. Itulah jam olahraganya.
“Cuma ini waktuku bisa olahraga. Di rumah kan kita juga harus urus anak.”
Lalu dia menambahkan satu kalimat yang sampai sekarang masih terngiang di kepalaku:
“Ini bagian dari kita bersyukur, karena sudah dikasih tubuh yang sehat sama Allah.”
Aku mendengarnya seperti kena tampar. Berkali-kali. Aku yang usianya sedikit lebih muda justru berperut buncit. Napasku kadang engah-engah. Olahraga? Jarang. Tidak pernah, kalau mau jujur. Padahal pekerjaanku tidak semenuntut itu soal waktu. Kalau mau, aku bisa dengan mudah menyisihkan setengah jam untuk jogging, atau sekadar jalan kaki di sekitar rumah. Tidak ada yang melarang. Tidak ada yang menghalangi, kecuali alasanku sendiri.
Di titik itu aku sadar, ada yang terbalik. Lelaki yang waktunya lebih sempit, yang pulang kerja masih harus mengurus anak, justru menemukan celah untuk merawat tubuhnya. Sementara aku yang waktunya lebih lapang sibuk mengumpulkan alasan. Dia mengubah perjalanan pulang yang melelahkan menjadi ruang syukur. Aku mengubah waktu luang menjadi ruang rebahan.
Kalimat syukur itulah yang seolah membawaku pada Surah Luqman ayat 12:
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Allah menyebut bahwa Luqman dianugerahi hikmah, lalu hikmah itu dirumuskan dalam satu perintah yang pendek: bersyukurlah kepada Allah. Siapa yang bersyukur, sesungguhnya ia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan siapa yang mengingkari, Allah tetap Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
Ada yang menarik dari ayat ini. Dari sekian banyak kemungkinan isi hikmah, yang disebut pertama justru syukur. Bukan kecerdasan yang rumit, bukan pula ilmu yang menjulang. Syukur. Seolah Allah ingin mengatakan bahwa orang yang paham bukanlah yang paling pandai bicara, melainkan yang paling tahu cara berterima kasih. Dan nasihat-nasihat Luqman kepada anaknya sesudah itu, tentang tauhid, tentang orang tua, tentang salat dan sabar, tumbuh dari akar yang sama.
Syukur, sebagaimana dijelaskan para ulama, tidak berhenti di lisan. Ia punya tiga lapis: hati yang mengakui bahwa nikmat itu datang dari Allah, lisan yang memuji-Nya, dan anggota badan yang digunakan sesuai kehendak Sang Pemberi.
Kita sering berhenti di lapis kedua. “Alhamdulillah, sehat.” Kita mengucapkannya sehabis sembuh dari sakit, sehabis hasil periksa yang baik, atau di tengah obrolan basa-basi. Tidak salah. Tapi Lukman, temanku itu, tanpa mengutip satu pun dalil, memperagakan lapis yang ketiga: bahwa tubuh yang sehat, kalau benar-benar disyukuri, akan dirawat.
Olahraga mungkin salah satu bentuk syukur yang manfaatnya paling cepat kembali kepada si pelakunya: napas yang lebih panjang, badan yang lebih ringan, tenaga yang cukup untuk bekerja, untuk beribadah dengan lebih khusyuk, untuk menggendong dan mengejar anak-anak. Syukur yang kita tanam hari ini, kita sendiri yang memetiknya besok.
Aku jadi bertanya-tanya, selama ini apa sebenarnya yang kutunggu. Kondisi ideal, barangkali. Menunggu punya waktu khusus. Menunggu punya sepatu yang bagus. Menunggu tempat olahraga yang dekat dan nyaman. Menunggu semangat yang katanya akan datang sendiri. Padahal yang kulihat malam itu hanyalah seorang lelaki, sebuah motor, dan jalan pulang. Tidak ada keanggotaan, tidak ada medali, tidak ada tepuk tangan. Kalau olahraga bisa dilakukan dengan sebegitu sederhana, maka alasanku tidak pernah benar-benar soal waktu. Alasanku soal niat, dan soal syukur yang berhenti di mulut.
Menariknya, nasihat Luqman kepada anaknya juga menyinggung urusan langkah kaki. Di ayat 19, ia berpesan agar sederhana dalam berjalan. Maknanya tentu soal adab, soal tidak angkuh ketika melangkah, bukan soal olahraga. Tapi aku suka membayangkan bahwa langkah yang rendah hati pantas dimiliki oleh tubuh yang sehat dan terawat.
Dan malam itu aku menyaksikan langkah yang rendah hati itu: langkah seseorang yang mendorong motornya pulang, tanpa menunggu dilihat siapa pun.
Ada ungkapan lama bahwa hikmah itu barang hilang milik orang beriman; di mana pun ditemukan, dialah yang paling berhak memungutnya.
Aku tidak pernah membayangkan akan memungutnya dari Jalan Suryanata, dari seorang kawan yang dulu lebih dikenal karena berantemnya ketimbang nasihatnya. Hikmah memang tidak selalu datang dari mimbar. Kadang ia lewat dengan wajah berpeluh, mendorong motor, dan menjawab pertanyaan “mogok kah?” dengan sesuatu yang jauh lebih dalam dari yang kita sangka.
Aku yakin dia sendiri tidak merasa sedang mengajar siapa-siapa. Justru karena itu pelajarannya sampai. Tidak ada nada menggurui, tidak ada khotbah tentang pentingnya hidup sehat. Hanya sebuah kalimat yang pendek, diucapkan apa adanya: ini bagian dari bersyukur.
Rusdianto
Samarinda, Rabu 4 November 2026
Cari disini...
Rusdiantologi

Jalanan Kota Samarinda yang kini kerap jadi arena kebugaran publik (SF)
Tidak mungkin Allah SWT memilih satu nama, jika tak ada pelajaran di dalamnya. Kalimat ini rasanya yang paling tepat menggambarkan apa yang berlaku beberapa waktu terakhir. Saat ini, mudah sekali menemukan orang yang beraktivitas fisik, khususnya untuk tujuan kebugaran, di ruang-ruang publik.
Jalan raya, alun-alun, gelanggang olahraga, hingga gang-gang kecil di sekitar rumah pun tak luput menjadi lokasi. Pasca-pandemi Covid-19, kesadaran masyarakat Indonesia untuk berolahraga seperti terus mengalami kenaikan. Ingat sekali, seorang YouTuber angkatan awal-awal yang sejak dulu memang cukup niche dengan audiensnya, Statement Prod, pernah berstatemen bahwa 5–10 tahun ke depan, industri kebugaran bakal jadi sesuatu yang digandrungi banyak orang.
Saat itu, Ryan Berti, sosok di balik Statement Prod, adalah seorang praktisi pusat kebugaran yang engga besar-besar amat secara audiens. Tapi kata-katanya pada 2016–2017 itu kini seperti ramalan yang jadi kenyataan.
Sekarang, kebugaran sudah masuk jadi gaya hidup umum. Pilih saja, semua orang punya kegiatan khusus sendiri demi bisa bugar. Walau secara industri pusat kebugaran (gym) adalah salah satu segmen yang paling menonjol, komersialisasi aktivasi yang berkaitan dengan kebugaran makin mendapat porsi besar di masyarakat. Sebut saja maraton, atau bahkan event fun run, yang sangat mudah kita temukan dengan lonjakan peserta dan peningkatan jangkauan informasinya.
Tidak sedang menyinyiri semua itu. Baik-baik saja, bahkan bagus, kalau makin banyak orang mau bergerak. Hanya saja, di tengah riuhnya tren itu, pelajaran terbaik soal kebugaran yang pernah kuterima justru datang dari tempat yang jauh dari semuanya. Bukan di pusat kebugaran yang terang dan berpendingin, bukan pula di garis start fun run lengkap dengan kaus peserta dan medali finisher. Pelajaran itu datang di pinggir jalan, pada suatu malam di Samarinda, dari punggung seorang kawan lama yang sedang mendorong sepeda motor.
Namanya Lukmanul Hakim. Ya, persis sama dengan nama hamba saleh yang diabadikan Allah dalam Al-Qur’an, sampai-sampai satu surah dinamai dengan namanya. Kami kenal sejak kecil di Sebulu, sebuah kecamatan di Kutai Kartanegara. Dari SD sampai SMA kami satu sekolah. Dan sejak SD pula, namanya lebih dulu terkenal ketimbang orangnya, sebab dia bandel. Suka berantem. Kalau ada ribut-ribut di halaman sekolah, hampir pasti ada dia di tengah lingkarannya.
Ironis, memang. Nama yang kerap dimaknai sebagai Luqman yang penuh hikmah itu dipikul oleh anak yang urusan berantemnya paling sering jadi bahan obrolan guru. Tapi begitulah. Barangkali orang tuanya menyematkan nama itu sebagai doa, sementara hidup punya jadwalnya sendiri untuk menjawabnya.
Di balik kebandelannya, ada sisi yang tidak banyak orang tahu: dia baik sekali. Terutama kepadaku. Baiknya tidak berisik, tidak perlu diumumkan. Dan dia memang anak yang olahraga banget. Jago main bola, sering juara. Badannya seperti dilahirkan untuk bergerak, bukan untuk duduk diam di bangku kelas.
Waktu berjalan. Kami sama-sama merantau ke Samarinda. Dia kini bekerja sebagai tenaga pemasar produsen otomotif. Kota memang punya cara aneh dalam mempertemukan sekaligus memisahkan orang. Dua kawan yang dulu hampir tak pernah terpisah bisa lama sekali tidak bertemu, padahal tinggal di kota yang sama.
Sampai suatu malam, di sekitar Jalan Suryanata, aku melihat seseorang mendorong sepeda motor. Dari belakang. Sudah lama kami tidak berjumpa, tapi entah kenapa aku bisa dengan mudah mengenalinya: bahunya, cara melangkahnya, ritme dorongannya. Ada orang yang bisa kita kenali dari punggungnya saja, bahkan setelah lama tak bertemu, dan dia salah satunya.
Aku mendekat untuk memastikan. Dan benar, itu dia. Wajahnya berpeluh. Kupikir motornya mogok.
“Kenapa, Man? Mogok kah?”
Dia berhenti. Aku pun ikut berhenti. Ternyata motornya tidak mogok. Dia sedang olahraga.
Sebagai orang yang bekerja penuh, katanya, dia tidak punya waktu khusus untuk berolahraga. Padahal, seperti yang kuceritakan tadi, dia memang orang yang olahraga banget. Maka dari kantornya di Jalan Siradj Salman sampai ke rumahnya di kawasan Bukit Pinang, motor itu ia dorong. Itulah jam olahraganya.
“Cuma ini waktuku bisa olahraga. Di rumah kan kita juga harus urus anak.”
Lalu dia menambahkan satu kalimat yang sampai sekarang masih terngiang di kepalaku:
“Ini bagian dari kita bersyukur, karena sudah dikasih tubuh yang sehat sama Allah.”
Aku mendengarnya seperti kena tampar. Berkali-kali. Aku yang usianya sedikit lebih muda justru berperut buncit. Napasku kadang engah-engah. Olahraga? Jarang. Tidak pernah, kalau mau jujur. Padahal pekerjaanku tidak semenuntut itu soal waktu. Kalau mau, aku bisa dengan mudah menyisihkan setengah jam untuk jogging, atau sekadar jalan kaki di sekitar rumah. Tidak ada yang melarang. Tidak ada yang menghalangi, kecuali alasanku sendiri.
Di titik itu aku sadar, ada yang terbalik. Lelaki yang waktunya lebih sempit, yang pulang kerja masih harus mengurus anak, justru menemukan celah untuk merawat tubuhnya. Sementara aku yang waktunya lebih lapang sibuk mengumpulkan alasan. Dia mengubah perjalanan pulang yang melelahkan menjadi ruang syukur. Aku mengubah waktu luang menjadi ruang rebahan.
Kalimat syukur itulah yang seolah membawaku pada Surah Luqman ayat 12:
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Allah menyebut bahwa Luqman dianugerahi hikmah, lalu hikmah itu dirumuskan dalam satu perintah yang pendek: bersyukurlah kepada Allah. Siapa yang bersyukur, sesungguhnya ia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan siapa yang mengingkari, Allah tetap Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
Ada yang menarik dari ayat ini. Dari sekian banyak kemungkinan isi hikmah, yang disebut pertama justru syukur. Bukan kecerdasan yang rumit, bukan pula ilmu yang menjulang. Syukur. Seolah Allah ingin mengatakan bahwa orang yang paham bukanlah yang paling pandai bicara, melainkan yang paling tahu cara berterima kasih. Dan nasihat-nasihat Luqman kepada anaknya sesudah itu, tentang tauhid, tentang orang tua, tentang salat dan sabar, tumbuh dari akar yang sama.
Syukur, sebagaimana dijelaskan para ulama, tidak berhenti di lisan. Ia punya tiga lapis: hati yang mengakui bahwa nikmat itu datang dari Allah, lisan yang memuji-Nya, dan anggota badan yang digunakan sesuai kehendak Sang Pemberi.
Kita sering berhenti di lapis kedua. “Alhamdulillah, sehat.” Kita mengucapkannya sehabis sembuh dari sakit, sehabis hasil periksa yang baik, atau di tengah obrolan basa-basi. Tidak salah. Tapi Lukman, temanku itu, tanpa mengutip satu pun dalil, memperagakan lapis yang ketiga: bahwa tubuh yang sehat, kalau benar-benar disyukuri, akan dirawat.
Olahraga mungkin salah satu bentuk syukur yang manfaatnya paling cepat kembali kepada si pelakunya: napas yang lebih panjang, badan yang lebih ringan, tenaga yang cukup untuk bekerja, untuk beribadah dengan lebih khusyuk, untuk menggendong dan mengejar anak-anak. Syukur yang kita tanam hari ini, kita sendiri yang memetiknya besok.
Aku jadi bertanya-tanya, selama ini apa sebenarnya yang kutunggu. Kondisi ideal, barangkali. Menunggu punya waktu khusus. Menunggu punya sepatu yang bagus. Menunggu tempat olahraga yang dekat dan nyaman. Menunggu semangat yang katanya akan datang sendiri. Padahal yang kulihat malam itu hanyalah seorang lelaki, sebuah motor, dan jalan pulang. Tidak ada keanggotaan, tidak ada medali, tidak ada tepuk tangan. Kalau olahraga bisa dilakukan dengan sebegitu sederhana, maka alasanku tidak pernah benar-benar soal waktu. Alasanku soal niat, dan soal syukur yang berhenti di mulut.
Menariknya, nasihat Luqman kepada anaknya juga menyinggung urusan langkah kaki. Di ayat 19, ia berpesan agar sederhana dalam berjalan. Maknanya tentu soal adab, soal tidak angkuh ketika melangkah, bukan soal olahraga. Tapi aku suka membayangkan bahwa langkah yang rendah hati pantas dimiliki oleh tubuh yang sehat dan terawat.
Dan malam itu aku menyaksikan langkah yang rendah hati itu: langkah seseorang yang mendorong motornya pulang, tanpa menunggu dilihat siapa pun.
Ada ungkapan lama bahwa hikmah itu barang hilang milik orang beriman; di mana pun ditemukan, dialah yang paling berhak memungutnya.
Aku tidak pernah membayangkan akan memungutnya dari Jalan Suryanata, dari seorang kawan yang dulu lebih dikenal karena berantemnya ketimbang nasihatnya. Hikmah memang tidak selalu datang dari mimbar. Kadang ia lewat dengan wajah berpeluh, mendorong motor, dan menjawab pertanyaan “mogok kah?” dengan sesuatu yang jauh lebih dalam dari yang kita sangka.
Aku yakin dia sendiri tidak merasa sedang mengajar siapa-siapa. Justru karena itu pelajarannya sampai. Tidak ada nada menggurui, tidak ada khotbah tentang pentingnya hidup sehat. Hanya sebuah kalimat yang pendek, diucapkan apa adanya: ini bagian dari bersyukur.
Rusdianto
Samarinda, Rabu 4 November 2026