Puisi

    Kela(m)bu

    Penulis:Rusdianto|Redaktur:Rusdianto
    20 September 2026 pukul 23:20 WITA

    Pekan kedua September 2026, Jembatan Kutai Kartanegara tertutup kabut asap, di Kota Tenggarong. (Lodya Astagina/Seputarfakta.com)

    di antara awan dan tanah
    Aku menganga 
    tidak pakai kaos
    sambil kubaca Afrizal Malna

    Pagi ini memang agak ke kiri
    Walau siang belum tentu
    demikian pula lubang di separuh langit 
    hilang belaka, jadi kelabu 

    Zikir dan wirid dari musala
    Sejak sore kemarin 
    Rasanya seperti maki-maki 
    Entah kepada siapa

    Kepada angin yang tak punya nama
    kepada Pak Tua di sana itu 
    Kepada saudara tua peladang bukit
    kepada korporasi? 

    Satu demi satu bulir kesakitan dan pesakitan
    Kami relakan mengalir bersama tongkang
    yang membawa pergi harapan orang 
    Tapi kadang pulang dengan kabar duka 

    Saat burung besi yang hidup di dua alam
    datang dan didatangkan 
    Berbondong-bondong 
    Mereka menyulam awan dan hujan 

    dari banyaknya puntung yang tak penting 
    doa yang dilangitkan kembali ke bumi 
    datangnya begitu ditunggu 
    dalam bentuk air 

    Jalanan gelap 
    Angkot mangkal 
    Ojol standar dua 
    Cuaca kelam-bu. iya, kelam ibu

    Tadi malam aku dengar sendiri 
    Ibu Pertiwi sesenggukan 
    Siapa yang bisa tahu
    Ini kelam,Bu. Kelam


    Petang hari, Lantai 2 Indekos Dikepung Jerebu

    Puisi

    Kela(m)bu

    Penulis:Rusdianto|Redaktur:Rusdianto
    20 September 2026 pukul 23:20 WITA

    Pekan kedua September 2026, Jembatan Kutai Kartanegara tertutup kabut asap, di Kota Tenggarong. (Lodya Astagina/Seputarfakta.com)

    di antara awan dan tanah
    Aku menganga 
    tidak pakai kaos
    sambil kubaca Afrizal Malna

    Pagi ini memang agak ke kiri
    Walau siang belum tentu
    demikian pula lubang di separuh langit 
    hilang belaka, jadi kelabu 

    Zikir dan wirid dari musala
    Sejak sore kemarin 
    Rasanya seperti maki-maki 
    Entah kepada siapa

    Kepada angin yang tak punya nama
    kepada Pak Tua di sana itu 
    Kepada saudara tua peladang bukit
    kepada korporasi? 

    Satu demi satu bulir kesakitan dan pesakitan
    Kami relakan mengalir bersama tongkang
    yang membawa pergi harapan orang 
    Tapi kadang pulang dengan kabar duka 

    Saat burung besi yang hidup di dua alam
    datang dan didatangkan 
    Berbondong-bondong 
    Mereka menyulam awan dan hujan 

    dari banyaknya puntung yang tak penting 
    doa yang dilangitkan kembali ke bumi 
    datangnya begitu ditunggu 
    dalam bentuk air 

    Jalanan gelap 
    Angkot mangkal 
    Ojol standar dua 
    Cuaca kelam-bu. iya, kelam ibu

    Tadi malam aku dengar sendiri 
    Ibu Pertiwi sesenggukan 
    Siapa yang bisa tahu
    Ini kelam,Bu. Kelam


    Petang hari, Lantai 2 Indekos Dikepung Jerebu