Cari disini...
Politik
Black Campaign dan Negative Campaign membuat sensasi Pilgub Kaltim semakin memanas. (Kolase oleh Seputarfakta.com)
Samarinda - Media sosial kini menjadi sarang bagi pasangan calon (paslon) untuk menunjukkan gagasan serta reputasinya. Namun tak sedikit dari kampanye yang dilakukan oleh paslon berujung merugikan atas pernyataan blunder yang disampaikan ke publik. Kemudian buzzer dari masing-masing paslon mengemas video ataupun suara tersebut menjadi provokatif.
Adu domba semacam ini sudah berlangsung selama dua pekan masa kampanye di Pemilihan Serentak 2024 Provinsi Kaltim. Pengamat politik dari Universitas Mulawarman, Syaiful Bachtiar, menyoroti dampak negatif dari black campaign dan negative campaign yang menghangatkan suasana kontestasi lima tahunan ini.
Menurut Syaiful, black campaign—yang ditandai dengan tuduhan palsu tanpa bukti—dan negative campaign, yang biasanya mengungkap kelemahan atau kesalahan lawan politik, menjadi senjata yang kerap digunakan dalam kontestasi politik ini.
“Kedua jenis kampanye ini bisa memicu blunder dari masing-masing paslon, yang berpotensi membalikkan dukungan publik,” ujarnya Syaiful.
Merujuk pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015, Syaiful mengingatkan bahwa ada sejumlah larangan dalam kampanye yang harus diperhatikan. Larangan tersebut mencakup tindakan menghina, menghasut, serta melakukan kekerasan terhadap lawan politik atau kelompok tertentu.
"Sebaiknya, masing-masing paslon lebih fokus pada visi-misi dan program yang dapat menjawab masalah masyarakat Kaltim," tegasnya.
Dinamika politik di Pilgub Kaltim, menurut Syaiful, juga dipengaruhi oleh penggunaan media sosial. Platform ini seringkali menjadi tempat bagi buzzer atau pendukung untuk mengomentari sisi baik dan buruk dari kedua paslon. "Kedua paslon memang memiliki strategi masing-masing, namun efektivitas strategi tersebut bisa terganggu oleh kampanye hitam dan negatif," imbuhnya.
Untuk menciptakan suasana Pilkada yang konstruktif, Syaiful menyarankan agar kedua paslon lebih menekankan narasi positif. “Mereka harus mampu menggambarkan visi kepemimpinan Kaltim yang akan datang melalui program-program yang jelas dan bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya.
Kampanye yang sehat seharusnya berfokus pada gagasan dan program yang positif, bukan pada serangan yang merugikan pihak lain. "Kampanye hitam dan negatif tidak produktif dalam tahapan Pilkada. Semua paslon harus menaati aturan yang berlaku dan mengedepankan gagasan serta program mereka untuk menarik perhatian publik,” tukasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Politik

Black Campaign dan Negative Campaign membuat sensasi Pilgub Kaltim semakin memanas. (Kolase oleh Seputarfakta.com)
Samarinda - Media sosial kini menjadi sarang bagi pasangan calon (paslon) untuk menunjukkan gagasan serta reputasinya. Namun tak sedikit dari kampanye yang dilakukan oleh paslon berujung merugikan atas pernyataan blunder yang disampaikan ke publik. Kemudian buzzer dari masing-masing paslon mengemas video ataupun suara tersebut menjadi provokatif.
Adu domba semacam ini sudah berlangsung selama dua pekan masa kampanye di Pemilihan Serentak 2024 Provinsi Kaltim. Pengamat politik dari Universitas Mulawarman, Syaiful Bachtiar, menyoroti dampak negatif dari black campaign dan negative campaign yang menghangatkan suasana kontestasi lima tahunan ini.
Menurut Syaiful, black campaign—yang ditandai dengan tuduhan palsu tanpa bukti—dan negative campaign, yang biasanya mengungkap kelemahan atau kesalahan lawan politik, menjadi senjata yang kerap digunakan dalam kontestasi politik ini.
“Kedua jenis kampanye ini bisa memicu blunder dari masing-masing paslon, yang berpotensi membalikkan dukungan publik,” ujarnya Syaiful.
Merujuk pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015, Syaiful mengingatkan bahwa ada sejumlah larangan dalam kampanye yang harus diperhatikan. Larangan tersebut mencakup tindakan menghina, menghasut, serta melakukan kekerasan terhadap lawan politik atau kelompok tertentu.
"Sebaiknya, masing-masing paslon lebih fokus pada visi-misi dan program yang dapat menjawab masalah masyarakat Kaltim," tegasnya.
Dinamika politik di Pilgub Kaltim, menurut Syaiful, juga dipengaruhi oleh penggunaan media sosial. Platform ini seringkali menjadi tempat bagi buzzer atau pendukung untuk mengomentari sisi baik dan buruk dari kedua paslon. "Kedua paslon memang memiliki strategi masing-masing, namun efektivitas strategi tersebut bisa terganggu oleh kampanye hitam dan negatif," imbuhnya.
Untuk menciptakan suasana Pilkada yang konstruktif, Syaiful menyarankan agar kedua paslon lebih menekankan narasi positif. “Mereka harus mampu menggambarkan visi kepemimpinan Kaltim yang akan datang melalui program-program yang jelas dan bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya.
Kampanye yang sehat seharusnya berfokus pada gagasan dan program yang positif, bukan pada serangan yang merugikan pihak lain. "Kampanye hitam dan negatif tidak produktif dalam tahapan Pilkada. Semua paslon harus menaati aturan yang berlaku dan mengedepankan gagasan serta program mereka untuk menarik perhatian publik,” tukasnya.
(Sf/Rs)