Cari disini...
Politik
Ilustrasi biji kakao asal Kutai Timur. (Foto: Ilustrasi AI)
Sangatta - Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman menyebut produk kakao asal Kutim mulai mendapat permintaan dari luar daerah.
Bahkan, pada Juni mendatang, pelaku usaha kakao di Kecamatan Karangan dijadwalkan mengirim 2 ton biji coklat ke Bandung.
Menurutnya, permintaan dari luar daerah menjadi peluang bagi Kutim untuk terus meningkatkan produksi komoditas lokal secara bertahap.
“Saya sudah dapat jawaban dari Kecamatan Karangan, usaha coklat insyaallah bulan Juni akan mengirim 2 ton biji coklat ke Bandung,” ujar Ardiansyah.
Ia menilai meningkatnya permintaan produk lokal menunjukkan peluang usaha berbasis koperasi dan padat karya di Kutim masih terbuka lebar, di luar sektor pertambangan dan perkebunan sawit.
“Saat ini kita punya peluang. Karena SDA kita selain tambang dan kebun sawit, selebihnya kita berikan kesempatan kepada usaha padat karya. Tidak perlu pengusaha dengan modal besar,” katanya.
Ardiansyah menyebut pemerintah daerah siap mendukung masyarakat yang mampu mengolah hasil pertanian dan perkebunan menjadi produk bernilai ekonomi.
Selain kakao, produksi pisang di Kutim juga cukup baik. Namun, pengembangan produk turunannya dinilai masih belum maksimal.
“Pisang sudah oke, tapi turunannya masih belum,” jelasnya.
Ia juga menyoroti terhentinya produksi merek olahan pisang “Kalbana” yang sebelumnya sempat dipasarkan hingga luar negeri.
“Kemarin saya kaget, merek Kalbana yang kita kirim dulu sekarang terhenti. Kenapa? Karena tidak ada lagi yang mendampingi mereka," tambahnya .
Karena itu, Ardiansyah meminta Dinas Pertanian segera merumuskan langkah pendampingan bagi pelaku usaha lokal agar produk unggulan Kutim kembali berkembang dan mampu menembus pasar luar daerah maupun ekspor.
“Saya yakin permintaan negara lain seperti dulu Kalbana kita ke Swedia, Singapura itu cukup banyak,” pungkasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Politik

Ilustrasi biji kakao asal Kutai Timur. (Foto: Ilustrasi AI)
Sangatta - Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman menyebut produk kakao asal Kutim mulai mendapat permintaan dari luar daerah.
Bahkan, pada Juni mendatang, pelaku usaha kakao di Kecamatan Karangan dijadwalkan mengirim 2 ton biji coklat ke Bandung.
Menurutnya, permintaan dari luar daerah menjadi peluang bagi Kutim untuk terus meningkatkan produksi komoditas lokal secara bertahap.
“Saya sudah dapat jawaban dari Kecamatan Karangan, usaha coklat insyaallah bulan Juni akan mengirim 2 ton biji coklat ke Bandung,” ujar Ardiansyah.
Ia menilai meningkatnya permintaan produk lokal menunjukkan peluang usaha berbasis koperasi dan padat karya di Kutim masih terbuka lebar, di luar sektor pertambangan dan perkebunan sawit.
“Saat ini kita punya peluang. Karena SDA kita selain tambang dan kebun sawit, selebihnya kita berikan kesempatan kepada usaha padat karya. Tidak perlu pengusaha dengan modal besar,” katanya.
Ardiansyah menyebut pemerintah daerah siap mendukung masyarakat yang mampu mengolah hasil pertanian dan perkebunan menjadi produk bernilai ekonomi.
Selain kakao, produksi pisang di Kutim juga cukup baik. Namun, pengembangan produk turunannya dinilai masih belum maksimal.
“Pisang sudah oke, tapi turunannya masih belum,” jelasnya.
Ia juga menyoroti terhentinya produksi merek olahan pisang “Kalbana” yang sebelumnya sempat dipasarkan hingga luar negeri.
“Kemarin saya kaget, merek Kalbana yang kita kirim dulu sekarang terhenti. Kenapa? Karena tidak ada lagi yang mendampingi mereka," tambahnya .
Karena itu, Ardiansyah meminta Dinas Pertanian segera merumuskan langkah pendampingan bagi pelaku usaha lokal agar produk unggulan Kutim kembali berkembang dan mampu menembus pasar luar daerah maupun ekspor.
“Saya yakin permintaan negara lain seperti dulu Kalbana kita ke Swedia, Singapura itu cukup banyak,” pungkasnya.
(Sf/Lo)