Cari disini...
Politik
Jenlap Aksi Geram, Angga Wato, saat ditemui usai aksi di halaman Kantor Gubernur Kaltim. (Foto: Arman/Seputarfakta.com)
Samarinda - Jenderal Lapangan (Jenlap) Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (Geram), Angga Wato, mengaku kecewa dengan jawaban Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas'ud, saat menemui ribuan massa aksi di Kantor Gubernur Kaltim, Rabu (21/10/2026).
Angga menyebut, meski aksi mereka membawa grand design evaluasi 2 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran dengan tema "Kaltim Jadi Anak Tiri, Kaltim Jadi Abu di Tanah Sendiri", respons yang diberikan gubernur justru normatif dan tidak menyentuh substansi tuntutan.
"Aksi hari ini kami membawa grand design 2 tahun Prabowo-Gibran, Kaltim jadi anak tiri, Kaltim jadi abu di tanah sendiri, dengan berbagai poin tuntutan daerah maupun nasional. Kami juga menyoroti soal karhutla dan mendorong Pemprov Kaltim segera menyatakan ketidakmampuan dalam menangani karhutla dengan menyurati pemerintah pusat," ujar Angga.
Menurutnya, hanya satu jawaban gubernur yang dianggap konkret, yakni terkait pencopotan ajudan yang diduga melakukan kekerasan terhadap kader GMNI Samarinda.
"Tanggapan kami sedikit kecewa terkait respon gubernur terhadap poin tuntutan kami. Jawaban-jawaban yang diberikan itu normatif semua. Cuma satu saja yang konkret terkait ajudan arogan kemarin yang dipecat. Setelah itu normatif semua," tegasnya.
Angga bahkan menilai jawaban gubernur terkait krisis listrik dan kelangkaan BBM di Kaltim tidak berbasis data dan terkesan mengada-ada.
"Apalagi yang sangat mengecewakan itu untuk listrik sama BBM, itu data-datanya dari mana? Omong kosong semua itu," cetusnya.
Tak hanya itu, jawaban gubernur terkait program Gratispol juga dinilai mengecewakan.
"Sama program Gratispol itu mengecewakan sekali. Malah gubernur suruh kami membuat surat keberatan terhadap beasiswa Gratispol itu dan bisa diberhentikan sama dia," ungkap Angga.
Aliansi Geram memastikan akan melakukan konsolidasi lanjutan untuk menentukan langkah selanjutnya.
"Karena nanti kami akan kembali lagi ke aliansi bersama teman-teman membahas rencana tindak lanjut untuk aksi ini seperti apa," tutupnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Politik

Jenlap Aksi Geram, Angga Wato, saat ditemui usai aksi di halaman Kantor Gubernur Kaltim. (Foto: Arman/Seputarfakta.com)
Samarinda - Jenderal Lapangan (Jenlap) Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (Geram), Angga Wato, mengaku kecewa dengan jawaban Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas'ud, saat menemui ribuan massa aksi di Kantor Gubernur Kaltim, Rabu (21/10/2026).
Angga menyebut, meski aksi mereka membawa grand design evaluasi 2 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran dengan tema "Kaltim Jadi Anak Tiri, Kaltim Jadi Abu di Tanah Sendiri", respons yang diberikan gubernur justru normatif dan tidak menyentuh substansi tuntutan.
"Aksi hari ini kami membawa grand design 2 tahun Prabowo-Gibran, Kaltim jadi anak tiri, Kaltim jadi abu di tanah sendiri, dengan berbagai poin tuntutan daerah maupun nasional. Kami juga menyoroti soal karhutla dan mendorong Pemprov Kaltim segera menyatakan ketidakmampuan dalam menangani karhutla dengan menyurati pemerintah pusat," ujar Angga.
Menurutnya, hanya satu jawaban gubernur yang dianggap konkret, yakni terkait pencopotan ajudan yang diduga melakukan kekerasan terhadap kader GMNI Samarinda.
"Tanggapan kami sedikit kecewa terkait respon gubernur terhadap poin tuntutan kami. Jawaban-jawaban yang diberikan itu normatif semua. Cuma satu saja yang konkret terkait ajudan arogan kemarin yang dipecat. Setelah itu normatif semua," tegasnya.
Angga bahkan menilai jawaban gubernur terkait krisis listrik dan kelangkaan BBM di Kaltim tidak berbasis data dan terkesan mengada-ada.
"Apalagi yang sangat mengecewakan itu untuk listrik sama BBM, itu data-datanya dari mana? Omong kosong semua itu," cetusnya.
Tak hanya itu, jawaban gubernur terkait program Gratispol juga dinilai mengecewakan.
"Sama program Gratispol itu mengecewakan sekali. Malah gubernur suruh kami membuat surat keberatan terhadap beasiswa Gratispol itu dan bisa diberhentikan sama dia," ungkap Angga.
Aliansi Geram memastikan akan melakukan konsolidasi lanjutan untuk menentukan langkah selanjutnya.
"Karena nanti kami akan kembali lagi ke aliansi bersama teman-teman membahas rencana tindak lanjut untuk aksi ini seperti apa," tutupnya.
(Sf/Lo)