
Pemerintah Kabupaten Berau
Talk Show Inspiratif bertajuk "Sampah Bernilai, Wisata Lestari", di Story Mount, Tanjung Redeb. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Wakil Bupati (Wabup) Berau, Gamalis, mendorong masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap sampah agar tidak hanya dianggap sebagai limbah, tetapi juga dapat menjadi peluang usaha yang memberikan nilai ekonomi.
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendukung keberlanjutan sektor pariwisata di Kabupaten Berau.
Dorongan tersebut disampaikan Gamalis saat menjadi narasumber dalam Talk Show Inspiratif bertajuk "Sampah Bernilai, Wisata Lestari" yang digelar dalam rangkaian Pameran Foto 73 Tahun Berau dalam Gambar, di Story Mount, Jalan Gunung Panjang, Tanjung Redeb, Sabtu (31/10/2026).
Kegiatan itu turut menghadirkan Pengelola Bank Sampah Mapan, Noviliana, serta Marine Tourism and Plastic Pollution Officer WWF Berau, Fatimah Ramadhanty Rahmat.
Wabup Berau, Gamalis mengungkapkan, persoalan sampah di Berau perlu mendapat perhatian serius. Berdasarkan data yang disampaikannya, volume sampah di daerah tersebut mencapai sekitar 54.568 ton per tahun atau setara 150 ton per hari.
"Hari ini sampah sudah menjadi alarm buat Kabupaten Berau dan masyarakatnya. Berdasarkan data, volume sampah kita mencapai kurang lebih 54.568 ton per tahun atau sekitar 150 ton per hari. Ini bukan sekadar angka statistik, melainkan potret realita di lapangan," ujar Gamalis.
Menurutnya, salah satu tantangan utama dalam pengelolaan sampah adalah kebiasaan masyarakat yang masih menerapkan pola kumpul, angkut dan buang tanpa melakukan pemilahan sejak dari rumah. Apalagi, kata dia, sampah anorganik yang dikelola dengan baik dapat diolah menjadi produk bernilai jual.
"Keberadaan bank sampah dan kreativitas masyarakat bisa menjadi salah satu cara untuk mengurangi timbunan sampah sekaligus membuka peluang ekonomi baru," tambahnya.
Ia pun mencontohkan upaya pengelolaan sampah yang dilakukan Kelurahan Karang Ambun, Bank Sampah Mapan, serta pendampingan WWF Berau. Inisiatif tersebut menunjukkan bahwa sampah dapat dimanfaatkan kembali apabila didukung pengelolaan yang tepat.
Selain itu, ia menyoroti tantangan geografis Berau yang memiliki destinasi wisata di wilayah perkotaan, pedalaman, pesisir, hingga kepulauan. Kondisi tersebut membuat pengelolaan sampah, khususnya di pulau-pulau kecil, membutuhkan biaya logistik dan dukungan infrastruktur yang lebih besar.
Tak hanya itu, dirinya juga menyebut potensi kelebihan kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Bujangga, apabila volume sampah terus meningkat tanpa perubahan penanganan dari sumbernya.
"Jika edukasi pemilahan berjalan, infrastruktur memadai, dan pasarnya jelas, sampah tidak hanya terminimalisir, tetapi juga menggerakkan ekonomi warga," tegasnya.
Gamalis menilai, pengelolaan sampah harus dilakukan secara bersama-sama oleh pemerintah, masyarakat, komunitas, dan pelaku usaha. Melalui upaya tersebut, sampah diharapkan tidak lagi menjadi beban lingkungan, melainkan sumber daya yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
"Kebersihan lingkungan dan destinasi wisata Berau perlu terus dijaga sehingga pariwisata dapat berkembang secara berkelanjutan," tandasnya. (Adv)
(Sf/Lo)
Cari disini...

Pemerintah Kabupaten Berau

Talk Show Inspiratif bertajuk "Sampah Bernilai, Wisata Lestari", di Story Mount, Tanjung Redeb. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Wakil Bupati (Wabup) Berau, Gamalis, mendorong masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap sampah agar tidak hanya dianggap sebagai limbah, tetapi juga dapat menjadi peluang usaha yang memberikan nilai ekonomi.
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendukung keberlanjutan sektor pariwisata di Kabupaten Berau.
Dorongan tersebut disampaikan Gamalis saat menjadi narasumber dalam Talk Show Inspiratif bertajuk "Sampah Bernilai, Wisata Lestari" yang digelar dalam rangkaian Pameran Foto 73 Tahun Berau dalam Gambar, di Story Mount, Jalan Gunung Panjang, Tanjung Redeb, Sabtu (31/10/2026).
Kegiatan itu turut menghadirkan Pengelola Bank Sampah Mapan, Noviliana, serta Marine Tourism and Plastic Pollution Officer WWF Berau, Fatimah Ramadhanty Rahmat.
Wabup Berau, Gamalis mengungkapkan, persoalan sampah di Berau perlu mendapat perhatian serius. Berdasarkan data yang disampaikannya, volume sampah di daerah tersebut mencapai sekitar 54.568 ton per tahun atau setara 150 ton per hari.
"Hari ini sampah sudah menjadi alarm buat Kabupaten Berau dan masyarakatnya. Berdasarkan data, volume sampah kita mencapai kurang lebih 54.568 ton per tahun atau sekitar 150 ton per hari. Ini bukan sekadar angka statistik, melainkan potret realita di lapangan," ujar Gamalis.
Menurutnya, salah satu tantangan utama dalam pengelolaan sampah adalah kebiasaan masyarakat yang masih menerapkan pola kumpul, angkut dan buang tanpa melakukan pemilahan sejak dari rumah. Apalagi, kata dia, sampah anorganik yang dikelola dengan baik dapat diolah menjadi produk bernilai jual.
"Keberadaan bank sampah dan kreativitas masyarakat bisa menjadi salah satu cara untuk mengurangi timbunan sampah sekaligus membuka peluang ekonomi baru," tambahnya.
Ia pun mencontohkan upaya pengelolaan sampah yang dilakukan Kelurahan Karang Ambun, Bank Sampah Mapan, serta pendampingan WWF Berau. Inisiatif tersebut menunjukkan bahwa sampah dapat dimanfaatkan kembali apabila didukung pengelolaan yang tepat.
Selain itu, ia menyoroti tantangan geografis Berau yang memiliki destinasi wisata di wilayah perkotaan, pedalaman, pesisir, hingga kepulauan. Kondisi tersebut membuat pengelolaan sampah, khususnya di pulau-pulau kecil, membutuhkan biaya logistik dan dukungan infrastruktur yang lebih besar.
Tak hanya itu, dirinya juga menyebut potensi kelebihan kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Bujangga, apabila volume sampah terus meningkat tanpa perubahan penanganan dari sumbernya.
"Jika edukasi pemilahan berjalan, infrastruktur memadai, dan pasarnya jelas, sampah tidak hanya terminimalisir, tetapi juga menggerakkan ekonomi warga," tegasnya.
Gamalis menilai, pengelolaan sampah harus dilakukan secara bersama-sama oleh pemerintah, masyarakat, komunitas, dan pelaku usaha. Melalui upaya tersebut, sampah diharapkan tidak lagi menjadi beban lingkungan, melainkan sumber daya yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
"Kebersihan lingkungan dan destinasi wisata Berau perlu terus dijaga sehingga pariwisata dapat berkembang secara berkelanjutan," tandasnya. (Adv)
(Sf/Lo)