Cari disini...

Pemerintah Kabupaten Berau
Peninjauan langsung Wabup Berau, Gamalis ke dua puskesmas di Kecamatan Tanjung Redeb. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Wakil Bupati (Wabup) Berau, Gamalis, menyoroti meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di Kabupaten Berau.
Hal tersebut disampaikan Wabup Berau usai melakukan peninjauan langsung ke dua puskesmas di Kecamatan Tanjung Redeb yakni Pukesmas Tanjung Redeb dan Puskesmas Kampung Bugis pada Kamis (3/9/2026). Dari hasil kunjungan tersebut, ditemukan adanya peningkatan cukup signifikan terhadap kasus ISPA yang dialami masyarakat.
Wabup Berau, Gamalis mengatakan, sebelumnya ISPA berada di posisi kedelapan atau kesembilan dalam daftar 10 penyakit terbanyak. Namun kini, ISPA telah naik menjadi penyakit terbanyak kedua setelah hipertensi.
"Nah hari ini kami datang mencoba untuk melihat kondisi ini, ternyata memang betul penyakit ISPA ini yang tadinya berada di 10 besar di ranking ke-9 atau ke-8 dan hari ini sudah menjadi ranking ke-2 setelah hipertensi," kata Gamalis.
Peningkatan tersebut juga tercermin dari catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau. Sepanjang Agustus 2026, tercatat sebanyak 3.425 kasus ISPA. Angka ini meningkat dibandingkan Juni yang mencatat 2.494 kasus dan Juli sebanyak 2.533 kasus.
Artinya, dalam kurun waktu dua bulan, jumlah kasus ISPA bertambah sebanyak 931 kasus atau sekitar 37,7 persen. Kondisi ini menunjukkan adanya tren peningkatan kasus yang cukup signifikan, terlebih di tengah munculnya kabut asap akibat karhutla.
"Dampak kebakaran ini menimbulkan penderitaan baru bagi masyarakat. Dari dua puskesmas yang kami kunjungi, terjadi kenaikan kasus ISPA hingga tiga kali lipat. Kasus ini semakin erat kaitannya dengan munculnya kabut asap," ujar Gamalis.
Selain itu, ia menyampaikan kondisi kualitas udara juga menjadi perhatian. Berdasarkan hasil pengukuran menggunakan alat ukur partikel debu di dalam ruangan, kadar PM2.5 tercatat mencapai angka 85, atau sekitar tiga kali lipat dari standar normal.
"PM2.5 merupakan partikel halus yang dapat masuk hingga ke saluran pernapasan dan paru-paru. Sementara kadar PM10 juga mengalami peningkatan cukup signifikan dibandingkan kondisi normal," tuturnya.
Dirinya menyebut masyarakat yang memiliki penyakit bawaan, terutama asma, menjadi kelompok yang paling rentan terdampak paparan kabut asap. Bahkan, sejumlah pasien yang mendapatkan penanganan di puskesmas mengalami gangguan pernapasan yang berkaitan dengan paparan asap.
"Beberapa pasien di puskesmas terbukti mengalami gangguan pernapasan langsung akibat paparan asap," terangnya.
Di tengah peningkatan kasus ISPA, Pemkab Berau memastikan kesiapan fasilitas kesehatan tetap terjaga. Stok obat-obatan di puskesmas dipastikan aman dan mencukupi untuk penanganan pasien. Begitu pula dengan ketersediaan oksigen yang terus dipantau dan disiagakan sebagai langkah antisipasi apabila terjadi lonjakan pasien akibat gangguan pernapasan.
"Ketersediaan oksigen dipastikan terus dipantau dan dalam kondisi standby untuk mengantisipasi lonjakan pasien," katanya.
Gamalis juga meminta masyarakat ikut mengambil langkah pencegahan secara mandiri. Warga diimbau menggunakan masker ketika beraktivitas serta mengurangi kegiatan di luar rumah selama kondisi kabut asap masih terjadi.
"Kami mengimbau warga untuk tetap menggunakan masker saat beraktivitas dan mengurangi kegiatan di luar rumah," pungkasnya. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...

Pemerintah Kabupaten Berau

Peninjauan langsung Wabup Berau, Gamalis ke dua puskesmas di Kecamatan Tanjung Redeb. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Wakil Bupati (Wabup) Berau, Gamalis, menyoroti meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di Kabupaten Berau.
Hal tersebut disampaikan Wabup Berau usai melakukan peninjauan langsung ke dua puskesmas di Kecamatan Tanjung Redeb yakni Pukesmas Tanjung Redeb dan Puskesmas Kampung Bugis pada Kamis (3/9/2026). Dari hasil kunjungan tersebut, ditemukan adanya peningkatan cukup signifikan terhadap kasus ISPA yang dialami masyarakat.
Wabup Berau, Gamalis mengatakan, sebelumnya ISPA berada di posisi kedelapan atau kesembilan dalam daftar 10 penyakit terbanyak. Namun kini, ISPA telah naik menjadi penyakit terbanyak kedua setelah hipertensi.
"Nah hari ini kami datang mencoba untuk melihat kondisi ini, ternyata memang betul penyakit ISPA ini yang tadinya berada di 10 besar di ranking ke-9 atau ke-8 dan hari ini sudah menjadi ranking ke-2 setelah hipertensi," kata Gamalis.
Peningkatan tersebut juga tercermin dari catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau. Sepanjang Agustus 2026, tercatat sebanyak 3.425 kasus ISPA. Angka ini meningkat dibandingkan Juni yang mencatat 2.494 kasus dan Juli sebanyak 2.533 kasus.
Artinya, dalam kurun waktu dua bulan, jumlah kasus ISPA bertambah sebanyak 931 kasus atau sekitar 37,7 persen. Kondisi ini menunjukkan adanya tren peningkatan kasus yang cukup signifikan, terlebih di tengah munculnya kabut asap akibat karhutla.
"Dampak kebakaran ini menimbulkan penderitaan baru bagi masyarakat. Dari dua puskesmas yang kami kunjungi, terjadi kenaikan kasus ISPA hingga tiga kali lipat. Kasus ini semakin erat kaitannya dengan munculnya kabut asap," ujar Gamalis.
Selain itu, ia menyampaikan kondisi kualitas udara juga menjadi perhatian. Berdasarkan hasil pengukuran menggunakan alat ukur partikel debu di dalam ruangan, kadar PM2.5 tercatat mencapai angka 85, atau sekitar tiga kali lipat dari standar normal.
"PM2.5 merupakan partikel halus yang dapat masuk hingga ke saluran pernapasan dan paru-paru. Sementara kadar PM10 juga mengalami peningkatan cukup signifikan dibandingkan kondisi normal," tuturnya.
Dirinya menyebut masyarakat yang memiliki penyakit bawaan, terutama asma, menjadi kelompok yang paling rentan terdampak paparan kabut asap. Bahkan, sejumlah pasien yang mendapatkan penanganan di puskesmas mengalami gangguan pernapasan yang berkaitan dengan paparan asap.
"Beberapa pasien di puskesmas terbukti mengalami gangguan pernapasan langsung akibat paparan asap," terangnya.
Di tengah peningkatan kasus ISPA, Pemkab Berau memastikan kesiapan fasilitas kesehatan tetap terjaga. Stok obat-obatan di puskesmas dipastikan aman dan mencukupi untuk penanganan pasien. Begitu pula dengan ketersediaan oksigen yang terus dipantau dan disiagakan sebagai langkah antisipasi apabila terjadi lonjakan pasien akibat gangguan pernapasan.
"Ketersediaan oksigen dipastikan terus dipantau dan dalam kondisi standby untuk mengantisipasi lonjakan pasien," katanya.
Gamalis juga meminta masyarakat ikut mengambil langkah pencegahan secara mandiri. Warga diimbau menggunakan masker ketika beraktivitas serta mengurangi kegiatan di luar rumah selama kondisi kabut asap masih terjadi.
"Kami mengimbau warga untuk tetap menggunakan masker saat beraktivitas dan mengurangi kegiatan di luar rumah," pungkasnya. (Adv)
(Sf/Rs)