Cari disini...

Pemerintah Kabupaten Berau
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau memperpanjang pelaksanaan Belajar Dari Rumah (BDR) bagi seluruh anak sekolah di tengah kondisi asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang masih cukup tebal.
Perpanjangan BDR tersebut berlaku mulai 31 Agustus hingga 2 September 2026. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Bupati Berau tertanggal 30 Agustus 2026 dan menjadi langkah Pemkab Berau untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan, khususnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat paparan asap.
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas mengatakan, keputusan memperpanjang BDR diambil berdasarkan pertimbangan kesehatan anak-anak yang dinilai lebih rentan terhadap paparan asap.
"Dengan kondisi asap yang cukup tebal seperti sekarang, saya sangat mengkhawatirkan kesehatan anak-anak. Jadi memang semuanya kami pertimbangkan berdasarkan kesehatan, supaya tidak terjadi penyakit seperti Infeksi Saluran Pernapasan," ujar Sri.
Ia menegaskan, pelaksanaan BDR bersifat situasional dan akan dievaluasi melihat perkembangan kondisi cuaca serta kualitas udara. Jika asap berkurang dan hujan turun sehingga kondisi kembali kondusif, anak-anak dapat kembali mengikuti pembelajaran seperti biasa.
"Kalau asap berkurang, hujan turun dan kondisi kondusif, anak-anak bisa belajar seperti semula. Semuanya situasional, karena kita melihat keadaan yang bisa berubah-ubah," katanya.
Selama masa perpanjangan BDR, pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dikondisikan melalui koordinasi antara Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama.
Selain itu, dirinya juga mengimbau seluruh masyarakat untuk meningkatkan perlindungan diri selama kabut asap masih terjadi. Warga diminta menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, memperbanyak minum air putih, menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta mengurangi aktivitas di luar rumah.
"Bukan hanya anak sekolah, masyarakat secara umum juga harus memperhatikan kesehatan. Kalau pekerja memang harus bekerja, karena kalau mereka tidak bekerja, mereka tidak bisa mencari nafkah. Tapi saya menganjurkan mereka memakai masker," ungkapnya.
Ia juga meminta masyarakat menghindari aktivitas yang dapat memicu munculnya api serta segera melakukan pemadaman apabila menemukan titik api yang masih kecil.
Sementara itu, Pemkab Berau juga terus mengupayakan penguatan penanganan karhutla, termasuk meminta bantuan waterbombing dari pemerintah pusat. Berbagai langkah tersebut dilakukan sesuai dengan regulasi yang berlaku.
"Pemerintah Daerah telah mengupayakan bantuan pengadaan waterbombing dari pemerintah pusat serta mengalokasikan anggaran daerah Kabupaten Berau dengan meningkatkan status tanggap darurat, sembari menjalankan prosedur sesuai regulasi," terangnya.
Sri berharap kondisi cuaca segera membaik sehingga asap berkurang dan aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal. Pelaksanaan Salat Istisqa juga menjadi salah satu ikhtiar Pemkab Berau dalam menghadapi kondisi cuaca yang masih kering. (Adv)
(Sf/Lo)
Cari disini...

Pemerintah Kabupaten Berau

Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau memperpanjang pelaksanaan Belajar Dari Rumah (BDR) bagi seluruh anak sekolah di tengah kondisi asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang masih cukup tebal.
Perpanjangan BDR tersebut berlaku mulai 31 Agustus hingga 2 September 2026. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Bupati Berau tertanggal 30 Agustus 2026 dan menjadi langkah Pemkab Berau untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan, khususnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat paparan asap.
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas mengatakan, keputusan memperpanjang BDR diambil berdasarkan pertimbangan kesehatan anak-anak yang dinilai lebih rentan terhadap paparan asap.
"Dengan kondisi asap yang cukup tebal seperti sekarang, saya sangat mengkhawatirkan kesehatan anak-anak. Jadi memang semuanya kami pertimbangkan berdasarkan kesehatan, supaya tidak terjadi penyakit seperti Infeksi Saluran Pernapasan," ujar Sri.
Ia menegaskan, pelaksanaan BDR bersifat situasional dan akan dievaluasi melihat perkembangan kondisi cuaca serta kualitas udara. Jika asap berkurang dan hujan turun sehingga kondisi kembali kondusif, anak-anak dapat kembali mengikuti pembelajaran seperti biasa.
"Kalau asap berkurang, hujan turun dan kondisi kondusif, anak-anak bisa belajar seperti semula. Semuanya situasional, karena kita melihat keadaan yang bisa berubah-ubah," katanya.
Selama masa perpanjangan BDR, pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dikondisikan melalui koordinasi antara Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama.
Selain itu, dirinya juga mengimbau seluruh masyarakat untuk meningkatkan perlindungan diri selama kabut asap masih terjadi. Warga diminta menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, memperbanyak minum air putih, menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta mengurangi aktivitas di luar rumah.
"Bukan hanya anak sekolah, masyarakat secara umum juga harus memperhatikan kesehatan. Kalau pekerja memang harus bekerja, karena kalau mereka tidak bekerja, mereka tidak bisa mencari nafkah. Tapi saya menganjurkan mereka memakai masker," ungkapnya.
Ia juga meminta masyarakat menghindari aktivitas yang dapat memicu munculnya api serta segera melakukan pemadaman apabila menemukan titik api yang masih kecil.
Sementara itu, Pemkab Berau juga terus mengupayakan penguatan penanganan karhutla, termasuk meminta bantuan waterbombing dari pemerintah pusat. Berbagai langkah tersebut dilakukan sesuai dengan regulasi yang berlaku.
"Pemerintah Daerah telah mengupayakan bantuan pengadaan waterbombing dari pemerintah pusat serta mengalokasikan anggaran daerah Kabupaten Berau dengan meningkatkan status tanggap darurat, sembari menjalankan prosedur sesuai regulasi," terangnya.
Sri berharap kondisi cuaca segera membaik sehingga asap berkurang dan aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal. Pelaksanaan Salat Istisqa juga menjadi salah satu ikhtiar Pemkab Berau dalam menghadapi kondisi cuaca yang masih kering. (Adv)
(Sf/Lo)